Spanyol ke Final Piala Dunia 2026 usai Bungkam Prancis 2-0

Skor akhir 2-0 untuk Spanyol. La Roja menaklukkan Prancis pada semifinal Piala Dunia 2026 di Stadion Dallas, Arlington, Texas, Rabu (15/7/2026), dan mengunci satu tempat di partai puncak. Begitu pelui...

Spanyol ke Final Piala Dunia 2026 usai Bungkam Prancis 2-0

Skor akhir 2-0 untuk Spanyol. La Roja menaklukkan Prancis pada semifinal Piala Dunia 2026 di Stadion Dallas, Arlington, Texas, Rabu (15/7/2026), dan mengunci satu tempat di partai puncak. Begitu peluit panjang berbunyi, Rodri — gelandang bertahan bernomor punggung 16 — berjalan ke arah tribun, mengangkat kedua tangan, dan bertepuk lama kepada ribuan pendukung Spanyol yang memadati stadion berkapasitas lebih dari 80.000 penonton. Itu bukan sekadar salam perpisahan kepada suporter; itu adalah simbol kepemimpinan pemain yang sepanjang malam menjadi pengatur ritme permainan Spanyol.

Kemenangan ini terasa istimewa karena Spanyol datang ke Texas dengan status juara bertahan Eropa, sementara Prancis membawa reputasi tim dengan generasi emas kedua mereka. Namun sejak menit awal, arah pertandingan sudah terbaca: Spanyol menguasai bola, Prancis menunggu di belakang.

Babak Pertama: Menit ke-23, Gol Pembuka dari Skema Cepat

De la Fuente menurunkan formasi 4-3-3 dengan trio lini tengah Rodri, Pedri, dan Fabián Ruiz, sedangkan Didier Deschamps memilih 4-2-3-1 dengan Tchouaméni dan Rabiot sebagai poros ganda. Di starting XI Spanyol, Lamine Yamal dan Nico Williams kembali menjadi senjata utama di sayap, dan keduanya langsung merepotkan bek sayap Prancis.

Menit ke-23, gol pembuka tercipta lewat skema serangan cepat. Nico Williams melepaskan umpan terobosan ke kotak penalti, dan Lamine Yamal yang sudah menunggu di tiang jauh menyelesaikannya dengan first-time finish ke sudut gawang Maignan. Assist dicatat untuk Williams, gol keempat Yamal di turnamen ini. Statistik babak pertama mencatat penguasaan bola 63-37 untuk Spanyol dengan lima percobaan, tiga di antaranya mengarah ke gawang (shots on target 3-1).

Prancis nyaris menyamakan kedudukan pada menit ke-38 lewat tendangan voli Mbappé, tetapi wasit meninjau tayangan ulang dan VAR menganulir gol itu karena offside yang terdeteksi pada posisi Dembélé saat umpan silang dilepaskan. Dua menit kemudian, Tchouaméni menerima kartu kuning setelah menjegal Pedri di tengah lapangan. Babak pertama ditutup 1-0 untuk Spanyol.

Babak Kedua: Menit ke-78, Pukulan Mematikan dan Clean Sheet

Memasuki babak kedua, Deschamps mengubah wajah Prancis dengan memasukkan dua penyerang tambahan dan beralih ke formasi menyerang. Tekanan Les Bleus meningkat drastis; pada rentang menit ke-55 hingga ke-70, penguasaan bola sempat berbalik 55-45 untuk Prancis. Unai Simón tampil gemilang dengan dua penyelamatan krusial, termasuk menepis sundulan Kolo Muani dari jarak dekat pada menit ke-63.

Namun justru saat Prancis gencar menyerang, Spanyol menghukum dengan serangan balik mematikan pada menit ke-78. Rodri memenangi duel udara di tengah, melepaskan bola panjang ke sisi kanan, dan Yamal yang berlari bebas melewati bek terakhir Prancis sebelum mengirim umpan datar ke depan gawang. Dani Olmo yang tiba di tiang jauh hanya perlu menyontek bola ke gawang kosong. Skor akhir 2-0 pun terkunci. Gol ini lahir dari transisi hanya 11 detik sejak Spanyol merebut bola — bukti efisiensi luar biasa tim asuhan De la Fuente.

Prancis mendapat hadiah penalti pada menit ke-88 setelah Koundé dianggap melanggar di kotak terlarang, tetapi lagi-lagi VAR turun tangan. Tinjauan ulang menunjukkan pelanggaran terjadi tepat di garis kotak penalti dan tendangan bebas yang diberikan. Sejak malam itu, clean sheet ketiga Spanyol di turnamen ini menjadi catatan yang memperkuat statistik pertahanan terbaik Piala Dunia 2026.

Dominasi Statistik dan Jalan Menuju Final

Angka akhir menegaskan superioritas Spanyol. Penguasaan bola 61-39, shots on target 6-2, akurasi umpan 91 persen berbanding 82 persen, dan jarak tempuh pemain yang hampir seimbang namun lebih efisien. Meski tanpa hat-trick dari satu pemain, Spanyol membuktikan gol bisa datang dari mana saja — kombinasi lini sayap, gelandang, dan penyelesaian dari dalam kotak.

"Kami tidak mengejar statistik, kami mengejar kemenangan. Tapi ketika penguasaan bola, tekanan, dan penyelesaian akhir bekerja bersama seperti malam ini, hasilnya selalu berbicara sendiri," ujar Luis de la Fuente dalam konferensi pers usai laga.

Di sisi lain, Deschamps mengakui timnya kalah dari tim yang lebih siap secara taktik. "Spanyol tidak memberi kami ruang. Kami mencoba, tetapi mereka membaca permainan kami sejak menit pertama," katanya singkat.

Kemenangan ini mengantarkan Spanyol ke final untuk pertama kalinya sejak Piala Dunia 2010. Rodri, yang di akhir laga bertepuk tangan untuk para penggemar, kemungkinan besar akan menjadi kandidat kuat Pemain Terbaik Turnamen — gelandang bertahan itu memimpin statistik umpan sukses dan intersep sepanjang turnamen. Satu pertandingan lagi memisahkan La Roja dari gelar keduanya, dan Dallas akan menjadi saksi bahwa generasi baru Spanyol tidak lagi sekadar penguasa bola, melainkan juga mesin kemenangan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
citra-maharani

Reporter HAM. Fokus pada isu hak asasi, kebebasan sipil, dan reformasi hukum.

Comments (0)

User