Spanyol Juara Piala Dunia 2026, Drama Lima Gol di New Jersey

Skor akhir 3–2 untuk kemenangan Spanyol atas Argentina di final Piala Dunia 2026, Minggu (19/7) malam waktu setempat di MetLife Stadium, East Rutherford, New Jersey. Pertarungan dua raksasa itu meny...

Jul 27, 2026 - 23:49
0 0
Spanyol Juara Piala Dunia 2026, Drama Lima Gol di New Jersey

Skor akhir 3–2 untuk kemenangan Spanyol atas Argentina di final Piala Dunia 2026, Minggu (19/7) malam waktu setempat di MetLife Stadium, East Rutherford, New Jersey. Pertarungan dua raksasa itu menyajikan lima gol, satu penalti hasil intervensi VAR, dan satu gol yang dibatalkan teknologi garis gawang otomatis. Spanyol mengunci trofi kedua sepanjang sejarah setelah terakhir kali juara pada 2010, sekaligus memastikan dominasi generasi muda La Roja di kancah global.

Jalannya Pertandingan: Babak Pertama yang Terbuka

Argentina membuka laga dengan formasi 4-3-3 yang agresif, menempatkan Julian Álvarez sebagai ujung tombak didukung Enzo Fernández dan Giovani Lo Celso di lini kedua. Kejutan langsung terjadi pada menit ke-14. Berawal dari tekanan tinggi di sepertiga akhir, Lo Celso merebut bola dari Rodri dan mengirim umpan terobosan ke Álvarez. Dengan satu sentuhan, Álvarez melepaskan tembakan mendatar ke pojok kiri gawang Unai Simón. Skor 1–0. Spanyol yang tampil dengan formasi 4-2-3-1 andalan Luis de la Fuente tak butuh waktu lama untuk merespons. Menit ke-23, kombinasi satu-dua antara Pedri dan Gavi di depan kotak penalti membuka ruang. Pedri melepaskan tendangan melengkung dari jarak 22 meter yang bersarang di sudut atas kanan gawang Emiliano Martínez. Assist dicatat atas nama Gavi. Spanyol menyamakan kedudukan 1–1. Gol itu mengubah momentum. Penguasaan bola Spanyol yang khas mulai mendikte ritme, dan pada menit ke-36, Lamine Yamal mengirim umpan silang dari sayap kanan. Ansu Fati, yang lolos dari kawalan Cristian Romero, menyundul bola ke gawang. Skor 2–1 untuk Spanyol bertahan hingga turun minum. Statistik babak pertama mencatat penguasaan bola 58%–42% milik Spanyol, dan shots on target 5–3.

Babak Kedua: Penalti, VAR, dan Gol Penentu

Argentina mengawali babak kedua dengan intensitas tinggi. Tekanan mereka membuahkan hasil pada menit ke-57. Bola sepak pojok Enzo Fernández mengenai lengan Pau Cubarsí di dalam kotak penalti. Wasit menunjuk titik putih setelah meninjau monitor VAR. Álvarez yang maju sebagai eksekutor sukses mengecoh Simón, skor kembali imbang 2–2. Drama belum usai. Spanyol merespons dengan kecepatan serangan balik khas mereka. Menit ke-72, Nico Williams menerima bola di sisi kiri, menggiring cepat melewati Nahuel Molina, dan melepaskan tembakan menyilang ke tiang jauh. Bola sempat membentur tiang sebelum masuk. Gol ketiga Spanyol, assist dari Williams sendiri berkat penetrasi individu. Argentina nyaris menyamakan skor pada menit ke-85. Álvarez kembali menjebol gawang Spanyol, namun sensor offside otomatis menunjukkan posisi Álvarez sudah lebih dulu terjebak. Gol dianulir, dan skor tetap 3–2. Hingga peluit panjang, Spanyol berhasil mempertahankan keunggulan. Statistik penuh mencatat penguasaan bola akhir 56%–44%, total shots 15–13, dan shots on target 7–6. Argentina menerima tiga kartu kuning berbanding dua untuk Spanyol, namun tak ada kartu merah.

Analisis Taktik dan Statistik Kunci

Kunci kemenangan Spanyol terletak pada transisi cepat dari bertahan ke menyerang. Empat gelandang Spanyol—Rodri, Pedri, Gavi, dan Olmo—mampu mematahkan pressing Argentina dan langsung mengalirkan bola ke sayap. Kecepatan Yamal dan Williams terus mengeksploitasi ruang di belakang fullback Argentina. Di sisi lain, Argentina terlalu bergantung pada momen individu Álvarez. Meski mencetak dua gol, Álvarez hanya mendapat tiga sentuhan di kotak penalti pada babak kedua, menunjukkan isolasi di lini depan. Statistik expected goals (xG) menunjukkan Spanyol unggul 2,8 berbanding 2,1, menegaskan efisiensi penyelesaian akhir mereka. Pelatih Spanyol, Luis de la Fuente, memuji mentalitas timnya dalam konferensi pers usai laga.

“Ini tentang kepercayaan. Para pemain muda ini tidak takut menghadapi tekanan final dunia. Mereka menunjukkan karakter juara sejak menit pertama hingga akhir,”

ujarnya. Sementara itu, pelatih Argentina, Lionel Scaloni, mengakui keunggulan lawan.

“Kami kalah dalam detail kecil. Selamat untuk Spanyol, mereka layak juara,”

katanya singkat. Bagi Spanyol, gelar ini melengkapi regenerasi emas yang mereka bangun sejak Euro 2024. Dengan rata-rata usia starting XI 24,7 tahun, La Roja diproyeksikan akan terus mendominasi dalam beberapa turnamen besar mendatang. Bagi Argentina, kegagalan di final ini menjadi penutup perjalanan panjang Lionel Messi yang—meski tidak tampil karena pensiun dari tim nasional tahun lalu—tetap menjadi simbol semangat Albiceleste.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User