SMAN 2 Banjar — Pelajar Dilatih Tanggap Kebakaran dan Penggunaan APAR
Kesiapsiagaan terhadap ancaman bencana kebakaran kini menjadi bagian integral dari penguatan mitigasi risiko di lingkungan institusi pendidikan. Mengantisi
Kesiapsiagaan terhadap ancaman bencana kebakaran kini menjadi bagian integral dari penguatan mitigasi risiko di lingkungan institusi pendidikan. Mengantisipasi potensi bahaya tersebut, ratusan siswa, guru, serta staf tenaga kependidikan di SMAN 2 Banjar, Kabupaten Buleleng, mengikuti pelatihan praktis penanggulangan kebakaran yang dipandu langsung oleh Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kabupaten Buleleng.
Pelatihan ini difokuskan pada penguasaan keterampilan teknis dasar dalam memadamkan api sebelum eskalasi meluas. Langkah ini dinilai strategis mengingat lingkungan sekolah memiliki berbagai titik rawan kebakaran, mulai dari laboratorium, kantin, hingga instalasi kelistrikan.
Kronologi dan Tahapan Simulasi Penanganan Kebakaran
Rangkaian simulasi mitigasi bencana di SMAN 2 Banjar dirancang secara terstruktur guna memberikan pengalaman langsung kepada warga sekolah dalam merespons situasi darurat:
- Sesi Pemaparan Teori Dasar: Instruktur memberikan edukasi mengenai segitiga api, identifikasi sumber pemicu kebakaran, dan protokol evakuasi mandiri.
- Demonstrasi Metode Konvensional: Petugas memperagakan teknik isolasi oksigen menggunakan media kain atau handuk basah pada titik api terbuka.
- Praktik Penggunaan APAR: Peserta diperkenalkan dengan anatomi serta prosedur pengoperasian Alat Pemadam Api Ringan (APAR) sesuai standar keselamatan operasional.
- Simulasi Kebocoran Gas LPG: Skenario kedaruratan akibat kebocoran tabung gas dipraktikkan secara riil di lapangan terbuka.
- Uji Coba Langsung oleh Peserta: Perwakilan siswa dan tenaga pendidik secara bergantian mengeksekusi pemadaman api di bawah supervisi ketat petugas damkar.
Metode Pemadaman: Pendekatan Tradisional hingga Modern
Dalam sesi praktik, Penata Layanan Operasional Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kabupaten Buleleng, Gede Sukayasa, mendemonstrasikan dua metode pemadaman utama. Metode pertama memanfaatkan kain atau handuk basah yang berfungsi menutup suplai oksigen secara cepat pada kebakaran skala kecil, seperti kompor gas yang terbakar.
Metode kedua melibatkan penggunaan APAR dengan teknik PASS (Pull, Aim, Squeeze, Sweep). Pendekatan aplikatif ini dipilih agar peserta tidak sekadar memahami konsep teoritis, melainkan memiliki memori motorik yang responsif saat menghadapi kobaran api.
"Materi kebencanaan sengaja kami kemas dalam bentuk praktik agar pengetahuan mengenai keselamatan dan penanganan kebakaran dapat lebih mudah dipahami peserta," ujar Gede Sukayasa seizin Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kabupaten Buleleng, I Gede Arya Suardana.
Analisis: Pentingnya Respons Awal dan Ketenangan Psikologis
Keberhasilan penanggulangan kebakaran pada menit-menit pertama (golden time) sangat bergantung pada faktor psikologis dan keterampilan praktis orang di sekitar lokasi kejadian. Kurangnya pemahaman kerap memicu kepanikan massal yang justru memperlambat evakuasi maupun tindakan pemadaman awal.
Dinas Pemadam Kebakaran Buleleng menekankan tiga pilar utama dalam menghadapi kedaruratan api:
- Ketenangan Sikap: Menghindari reaksi panik agar dapat menilai situasi dan arah angin secara tepat.
- Ketepatan Tindakan: Mengambil keputusan cepat untuk memadamkan api kecil atau segera mengevakuasi penghuni gedung jika api sudah tak terkendali.
- Kesesuaian Alat: Memilih media pemadam yang sesuai dengan klasifikasi kebakaran yang terjadi.
Melalui pembekalan komprehensif ini, ekosistem sekolah SMAN 2 Banjar diharapkan mampu membangun sistem pertahanan mandiri terhadap risiko kebakaran, sekaligus menyebarluaskan literasi mitigasi bencana di lingkungan keluarga masing-masing.
Comments (0)