SLBN 3 Denpasar Bangun Budaya Siaga Bencana Mandiri

DENPASAR — Kesiapsiagaan bencana di sekolah luar biasa tidak bisa disamakan dengan sekolah reguler. Peserta didik dengan ragam kebutuhan khusus menuntut pe

Oct 08, 2026 - 19:04
0 0
SLBN 3 Denpasar Bangun Budaya Siaga Bencana Mandiri

DENPASAR — Kesiapsiagaan bencana di sekolah luar biasa tidak bisa disamakan dengan sekolah reguler. Peserta didik dengan ragam kebutuhan khusus menuntut pendekatan yang berbeda, mulai dari instruksi yang disederhanakan hingga jalur evakuasi yang aksesibel. Di titik itulah SLBN 3 Denpasar memilih melangkah lebih awal, jauh sebelum status sekolah sasaran menghampiri mereka.

Kepala SLBN 3 Denpasar, Ade Maya Amyana, S.Pd., M.Pd., menegaskan bahwa Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) bukan proyek musiman yang selesai begitu pelatihan berakhir. Baginya, kesiapsiagaan hanya bermakna jika telah menjelma menjadi kebiasaan harian warga sekolah.

“SPAB harus menjadi bagian dari budaya dan kegiatan sekolah, bukan hanya sebagai program sesaat,” ujarnya usai memberikan materi dalam Sarasehan Kampus Siaga Bencana (KSB) dan SPAB di BPBD Provinsi Bali, Rabu (7/10/2026).

Inisiatif Sebelum Status Sasaran

Pada 2024, SLBN 3 Denpasar belum masuk daftar sekolah sasaran pendampingan SPAB. Alih-alih menunggu giliran, pihak sekolah secara mandiri mendekati Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Provinsi Bali dan BPBD Kota Denpasar untuk meminta pendampingan.

Langkah itu kemudian diperkuat kerja sama lintas lembaga. Fakultas Kedokteran Universitas Udayana memberikan pelatihan P3K guna meningkatkan kapasitas warga sekolah dalam memberi pertolongan awal pada situasi darurat.

“Jadi kami tidak menunggu menjadi sekolah sasaran. Kami berinisiatif membangun kapasitas dan jejaring terlebih dahulu,” kata Ade Maya.

Jerih payah tersebut berbuah. Pada 2025, SLBN 3 Denpasar resmi terpilih sebagai sekolah sasaran SPAB. Sekolah turut mengusulkan dua guru sebagai fasilitator, sementara edukasi dan simulasi yang sebelumnya berjalan mandiri terus dilaksanakan secara rutin hingga 2026.

Evakuasi yang Disesuaikan dengan Kebutuhan

Bagi Ade Maya, pemahaman teoretis tidak pernah cukup. Warga sekolah perlu berlatih berulang agar tahu persis apa yang harus dilakukan saat guncangan terjadi.

“Edukasi, praktik, simulasi, evaluasi, kemudian diperbaiki dan disimulasikan kembali. Itu yang kami bangun,” jelasnya.

Karena itu, latihan evakuasi di SLB dirancang khusus. Sekolah melakukan pemetaan kebutuhan tiap peserta didik, membagi peran pendamping, menyusun jalur evakuasi yang mudah diakses, serta memakai instruksi singkat dan sederhana. Setiap peserta didik yang membutuhkan bantuan memiliki pendamping tetap, sehingga evakuasi tidak hanya cepat, tetapi juga aman dan terarah.

Pendekatan ini menegaskan satu hal penting: inklusivitas dalam kebencanaan bukan kemewahan, melainkan kewajiban. SLBN 3 Denpasar membuktikan bahwa sekolah luar biasa dapat menjadi pelopor budaya siaga, bukan sekadar penerima program.

[SISTEM] Sejak 2024 sekolah ini tak menunggu status sasaran SPAB. Mereka minta pendampingan FPRB Bali & BPBD Denpasar, gandeng FK Unud untuk pelatihan P3K. Baru pada 2025 resmi jadi sekolah sasaran. Kuncinya: simulasi berulang, pendamping tetap bagi siswa yang butuh bantuan, dan jalur evakuasi aksesibel. "SPAB harus jadi budaya, bukan program sesaat," tegas Kepala Sekolah Ade Maya Amyana.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
citra-maharani

Reporter HAM. Fokus pada isu hak asasi, kebebasan sipil, dan reformasi hukum.

Comments (0)

User