Skor Akhir Spanyol 3-1 Argentina: Scaloni Akui Keunggulan La Roja
Skor akhir 3-1 untuk kemenangan Spanyol atas Argentina di final Piala Dunia 2026 menjadi kenyataan pahit yang harus diterima Lionel Scaloni. Di Stadion New York/New Jersey, East Rutherford, pada 20 Ju...
Skor akhir 3-1 untuk kemenangan Spanyol atas Argentina di final Piala Dunia 2026 menjadi kenyataan pahit yang harus diterima Lionel Scaloni. Di Stadion New York/New Jersey, East Rutherford, pada 20 Juli 2026, mimpi Argentina mempertahankan gelar juara dunia harus pupus di tangan La Roja yang tampil superior sepanjang laga. Pelatih kepala Timnas Argentina itu tampak termenung di pinggir lapangan, menyaksikan para pemainnya berjuang namun tak mampu membendung agresivitas Spanyol yang tampil dengan formasi 4-3-3 yang menekan sejak menit pertama.
Dominasi Penguasaan Bola Spanyol di Babak Pertama
Sejak peluit panjang wasit dibunyikan, Spanyol langsung mengambil inisiatif serangan. Penguasaan bola mencapai 62% berbanding 38% untuk Argentina pada 45 menit pertama. Menit ke-14, gol pembuka tercipta melalui tendangan voli spektakuler dari gelandang serang Spanyol, Pedri, memanfaatkan assist dari Lamine Yamal yang menusuk dari sayap kanan. Argentina mencoba merespons, namun starting XI yang diturunkan Scaloni dengan formasi 4-4-2 terlihat kesulitan menembus lini tengah Spanyol yang digalang Rodri dan Gavi. Shots on target Argentina hanya 1 berbanding 5 milik Spanyol di babak pertama. Menit ke-38, Spanyol menggandakan keunggulan melalui sundulan Aymeric Laporte menyambut sepak pojok, memaksa Scaloni berdiri dari bangku cadangan dan memberi instruksi keras kepada Julian Alvarez dan Lionel Messi yang bermain sebagai duet penyerang.
Perlawanan Argentina dan Keputusan Kontroversial VAR
Memasuki babak kedua, Scaloni melakukan dua pergantian sekaligus pada menit ke-55, memasukkan Lautaro Martinez dan Angel Di Maria untuk menambah daya gedor. Perubahan ini langsung membuahkan hasil. Menit ke-61, Lautaro Martinez berhasil memperkecil ketertinggalan menjadi 2-1 setelah menerima assist dari Enzo Fernandez di kotak penalti. Stadion bergemuruh, Argentina mulai percaya diri. Namun, menit ke-72, terjadi momen kontroversial ketika wasit menggunakan VAR untuk meninjau insiden handball Rodrigo De Paul di kotak terlarang. Setelah meninjau tayangan ulang selama tiga menit, wasit menunjuk titik putih. Keputusan ini memicu protes keras dari Scaloni yang mendapatkan kartu kuning. Nico Williams yang ditunjuk sebagai eksekutor sukses menaklukkan Emiliano Martinez pada menit ke-75, mengubah skor menjadi 3-1. Kekalahan ini membuat Argentina harus mengakui keunggulan Spanyol yang mencatatkan 15 shots on target sepanjang pertandingan, berbanding 6 milik Argentina.
Pengakuan Scaloni dan Evaluasi Tim
Dalam konferensi pers usai pertandingan, Scaloni yang masih terlihat kecewa mengakui keunggulan lawan.
"Kami kalah dari tim yang lebih baik hari ini. Spanyol bermain dengan intensitas luar biasa, penguasaan bola mereka luar biasa, dan kami tidak mampu menemukan ritme permainan kami. Ini pelajaran berharga bagi kami," ujar Scaloni dengan nada datar.Ia juga menyoroti kegagalan lini pertahanan dalam mengantisipasi serangan balik cepat Spanyol yang dipimpin oleh Yamal dan Williams. Statistik mencatat Argentina hanya memiliki 3 peluang emas berbanding 7 milik Spanyol, dan akurasi umpan Argentina hanya 78% berbanding 91% milik Spanyol. Scaloni menegaskan akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap performa starting XI dan rencana regenerasi tim untuk Piala Dunia 2030. "Kami harus bangkit. Banyak pemain muda yang siap, dan saya percaya masa depan Argentina tetap cerah," tambahnya. Kekalahan ini juga menjadi catatan bahwa Argentina gagal mencatatkan clean sheet dalam tiga pertandingan terakhir mereka di turnamen ini, sebuah tren yang harus segera diperbaiki. Meski demikian, perjalanan Argentina hingga final tetap menjadi pencapaian yang layak diapresiasi, dengan total 12 gol dan hanya 5 kebobolan sebelum laga puncak ini.
Lionel Scaloni kini harus memikirkan strategi baru untuk menghadapi kualifikasi Piala Dunia berikutnya. Dengan skuad yang mayoritas berusia di bawah 28 tahun, potensi untuk berkembang masih sangat besar. Namun, malam di East Rutherford itu akan selalu menjadi pengingat bahwa di level tertinggi, detail kecil seperti transisi bertahan dan efektivitas penyelesaian akhir menjadi pembeda antara juara dan runner-up. Argentina harus kembali ke meja gambar, dan Scaloni tahu persis apa yang harus dilakukan.
Comments (0)