Skor Akhir Final Piala Dunia 2026: Spanyol Juara, Scaloni Tertunduk

Skor akhir 2-1 untuk kemenangan Spanyol. Final Piala Dunia 2026 di Stadion New York/New Jersey, East Rutherford, pada 20 Juli 2026, berakhir dengan duka mendalam bagi Argentina — dan potret Lionel S...

Aug 24, 2026 - 09:11
0 0
Skor Akhir Final Piala Dunia 2026: Spanyol Juara, Scaloni Tertunduk

Skor akhir 2-1 untuk kemenangan Spanyol. Final Piala Dunia 2026 di Stadion New York/New Jersey, East Rutherford, pada 20 Juli 2026, berakhir dengan duka mendalam bagi Argentina — dan potret Lionel Scaloni yang tertunduk di sisi lapangan menjadi gambar paling menggambarkan malam itu. Gol penentu Lamine Yamal di menit ke-84 memupus mimpi Argentina menggenapkan gelar juara dunia keempat kalinya.

Pertarungan dua raksasa ini berjalan dengan formasi khas masing-masing: Spanyol memakai 4-3-3, Argentina menjawab dengan 4-4-2. Spanyol tampil sebagai penguasa bola sejati, Argentina mengandalkan transisi kilat. Angka akhir bicara jujur: penguasaan bola 61 persen untuk Spanyol, 39 persen untuk Argentina, shots on target 7-4, dan total tembakan 16-9. Namun gol-gol yang tercipta lahir bukan dari dominasi, melainkan dari tiga momen berkualitas tinggi yang diwarnai assist kelas dunia, keputusan VAR, dan jebakan offside.

Babak Pertama: Assist Pedri, Tendangan Kiri Yamal

Menit ke-23, panggung terbesar sepak bola dunia bergemuruh. Pedri menarik dua pemain tengah Argentina keluar dari posisi sebelum melepaskan umpan terobosan presisi ke kotak penalti. Lamine Yamal, remaja berusia 19 tahun, menyambutnya dengan first-time strike kaki kiri ke tiang jauh. Assist Pedri dan eksekusi Yamal membuat Emiliano Martínez tak berkutik. Skor 1-0 untuk Spanyol, dan Yamal resmi menjadi pencetak gol termuda dalam sejarah final Piala Dunia.

Argentina tak tinggal diam. Menit ke-31, sepakan Julián Álvarez dari tepi kotak masih melambung tipis di atas mistar. Menit ke-38, Lionel Messi mencoba peruntungan lewat tendangan bebas dari jarak 24 meter, namun Unai Simón menepisnya dengan sempurna. Babak pertama ditutup 1-0, meski catatan peluang menunjukkan laga ini jauh dari sepihak: Spanyol melepas delapan tembakan, Argentina enam.

Babak Kedua: Gol Álvarez, Drama VAR, dan Pukulan Terakhir

Lionel Scaloni bereaksi cepat di jeda turun minum. Ia menarik satu gelandang, memasukkan pemain sayap murni di sisi kanan, dan menggeser formasi menjadi 4-3-3. Insting pelatih itu langsung membuahkan hasil. Menit ke-58, Messi melepaskan umpan terukur melewati garis pertahanan Spanyol; Álvarez, yang bergerak cerdas tanpa bola, menyelesaikannya dengan tembakan first-time ke sudut gawang. Skor akhir nanti boleh bilang 2-1, tapi di menit ini Argentina unggul momentum: 1-1.

Dua menit berselang, stadion sempat meledak dua kali. Gol kedua Argentina melalui Rodrigo De Paul sempat digawang-gawangkan, namun VAR turun tangan: replay menunjukkan posisi Alexis Mac Allister setengah badan di belakang bek terakhir saat umpan dilepas. Gol dianulir karena offside. Keputusan itu, seperti sering terjadi di laga sebesar ini, mengubah arah pertandingan.

Spanyol kembali menguasai tempo. Menit ke-67, kartu kuning pertama untuk Cuti Romero setelah pelanggaran taktis menghentikan serangan balik Nico Williams. Menit ke-84, pukulan terakhir tiba: Williams memenangi duel kecepatan di sisi kiri, melewati Nahuel Molina, lalu melepaskan assist mendatar ke tengah. Yamal, yang sudah kenyang dilayani dua umpan matang malam itu, menyambar bola dengan sekali sentuhan. 2-1. Menit ke-88, Yamal nyaris menutup laga dengan hat-trick, tapi Martínez menepis tembakannya.

Analisis Taktik: Scaloni Kalah di Detail Kecil

Kekalahan ini bukan soal kualitas skuad. Argentina tetap menciptakan peluang berbahaya, terutama lewat sisi kiri Spanyol yang sempat terbuka di babak kedua. Masalahnya, Scaloni kehilangan duel-duel mikro: dua assist Spanyol lahir dari transisi cepat setelah Argentina kehilangan bola di area tengah, persis pola yang sudah diantisipasi sejak sesi latihan terakhir. Pressing tinggi 4-4-2 di babak pertama juga membuat lini tengah Argentina mudah ditembus umpan diagonal Pedri.

Di sisi lain, performa starting XI Argentina layak diacungi jempol. Álvarez menjadi ancaman konstan dengan tiga tembakan tepat sasaran; Messi, di usianya, masih menjadi pemberi assist paling kreatif dengan satu assist dan tiga peluang tercipta. Namun efisiensi adalah pembeda: Spanyol mencetak dua gol dari tujuh shots on target, sementara Argentina hanya satu dari empat. Statistik itu, lebih dari apa pun, menjelaskan kenapa trofi berpindah ke La Roja.

Spanyol juga pantas dicatat: mereka menang tanpa clean sheet, tapi tak pernah kehilangan kendali ritme. Unai Simón, dengan empat penyelamatan krusial, termasuk menghalau sundulan Cuti Romero di menit ke-90, layak jadi pahlawan senyap. Di sisi lain, Emiliano Martínez juga mencatat empat penyelamatan, namun dua kebobolan itu berasal dari situasi yang nyaris tak mungkin diantisipasi.

Skor Akhir dan Masa Depan Scaloni

Skor akhir 2-1 bertahan hingga peluit panjang. Spanyol menutup turnamen sebagai juara dunia untuk kedua kalinya dalam sejarah mereka; Argentina harus menelan kekalahan final kedua dalam empat edisi terakhir. Lionel Scaloni, pelatih yang membangun tim ini dari puing kegagalan 2018 menuju gelar Piala Dunia 2022 dan dua trofi Copa América, kini menghadapi pertanyaan paling sulit dalam kariernya: lanjut atau pamit?

Ketika kamera menyorot wajahnya setelah gol kedua Spanyol, Scaloni hanya bertepuk tangan ke arah pemainnya — gestur seorang pelatih yang yakin anak asuhnya sudah memberikan segalanya. 'Kami kalah dari tim yang lebih baik malam ini. Pemain saya tidak punya alasan untuk menundukkan kepala,' ujarnya di konferensi pers seusai laga. Kata-kata itu mungkin jadi penutup paling pas untuk babak panjang kepelatihannya — atau justru pembuka babak baru.

Malam di East Rutherford itu memang milik Spanyol. Namun bagi para pengamat, wajah tertunduk Scaloni di sisi lapangan adalah pengingat bahwa di level setinggi ini, garis antara juara dan runner-up hanya selebar satu assist, satu keputusan VAR, dan satu detik ketajaman Yamal. Argentina pulang dengan medali perak, dan pertanyaan besarnya kini sederhana: apakah Scaloni tetap duduk di kursi pelatih saat kualifikasi menuju Piala Dunia 2030 dimulai.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
indah-permata

Reporter Kriminal. Meliput Polri, kejaksaan, dan pengadilan pidana.

Comments (0)

User