Skor Akhir 2-1, Argentina Juara Dunia 2026 usai Drama Final dan Keributan
Skor akhir 2-1 untuk Argentina atas Spanyol di final Piala Dunia 2026 di East Rutherford, Minggu (19/7/2026), ternyata bukan satu-satunya headline yang mencuri perhatian. Tepat setelah wasit meniup pe...
Skor akhir 2-1 untuk Argentina atas Spanyol di final Piala Dunia 2026 di East Rutherford, Minggu (19/7/2026), ternyata bukan satu-satunya headline yang mencuri perhatian. Tepat setelah wasit meniup peluit panjang tanda berakhirnya laga, tensi yang selama 90 menit ditekan keduanya meledak di tengah lapangan. Bek veteran Argentina Nicolás Otamendi (19) dan bek sayap Nahuel Molina (26) terlibat dalam adu argumen sengit dengan gelandang andalan Spanyol Rodri. Keributan tersebut memicu kerumunan pemain dari kedua starting XI sebelum ofisial pertandingan dan steward terjun melerai agar situasi tidak semakin ricuh.
Laga puncak yang digelar di MetLife Stadium, New Jersey, ini sejak awal diprediksi sebagai pertarungan taktis antar dua generasi emas. Lionel Scaloni memasang formasi 4-4-2 yang fleksibel dengan Emiliano Martínez sebagai penjaga gawang terakhir, sementara Luis de la Fuente mempercayai struktur 4-3-3 Spanyol yang penuh dominasi bola. Data penguasaan bola skor akhir mencatatkan 58% untuk La Furia Roja dan 42% untuk La Albiceleste. Namun, angka tersebut tak berbanding lurus dengan efisiensi di depan gawang, karena Argentina mencatatkan 4 shots on target dari 6 total tendangan, sedangkan Spanyol mengumpulkan 6 shots on target dari 14 upaya tanpa mampu memaksakan clean sheet.
Babak Pertama: Efisiensi La Albiceleste di Bawah Tekanan
Menit ke-34, Lautaro Martínez melepaskan tendangan voli keras dari dalam kotak penalti setelah menerima assist presisi dari Enzo Fernández yang merebut bola second ball di lini tengah. Tembakan kaki kanan Martínez itu menembus sudut kanan bawah gawang Unai Simón, membawa Argentina unggul 1-0. Spanyol sempat mengancam lewat pergerakan Lamine Yamal di sayap kanan, namun tendangan curl-nya di menit ke-19 masih melambung tipis di atas mistar. VAR sempat diperiksa pada menit ke-28 saat Álvaro Morata dikira berada dalam posisi offside saat menerobos pertahanan, namun wasit memutuskan lini pertahanan Argentina masih menahan jebakan offside dengan sempurna. Penguasaan bola Spanyol mencapai 60% di babak pertama dengan lima shots on target, namun Emiliano Martínez tampil gemilang dengan dua penyelamatan krusial dari tembakan Pedri dan Morata.
Babak Kedua: Gol Penyamak dan Kartu Kuning yang Memanas
Masuk ke babak kedua, Luis de la Fuente melakukan penyesuaian taktik dengan menaikkan pressing intensity di lini tengah. Hasilnya, menit ke-56, Nico Williams menyamakan kedudukan menjadi 1-1 melalui tendangan mendatar setelah menerima assist dari Lamine Yamal yang melesat dari sayap kanan. Gol itu memaksa Scaloni mengganti formasi menjadi 5-3-2 untuk memperketat pertahanan. Tensi laga semakin memuncak pada menit ke-67 saat Otamendi mendapatkan kartu kuning akibat tekel keras dari belakang terhadap Pedri. Rodri, yang sejak awal laga sudah beberapa kali beradu fisik dengan Otamendi, terlihat sangat tidak puas dengan keputusan wasit. Spanyol terus menekan, namun tendangan Rodri dari luar kotak penalti di menit ke-74 masih bisa ditangkap Martínez. Argentina kemudian membalas dengan serangan balik cepat, dan pada menit ke-89, Julián Álvarez mencetak gol kemenangan 2-1 setelah menerima assist dari Alexis Mac Allister di transisi bertahan ke menyerang. Unai Simón sempat menyentuh bola, namun tenaga tendangan Álvarez terlalu kencang.
Drama Pasca-Whistle: Otamendi, Molina, dan Rodri Terlibat Keributan
Celebrasi juara dunia Argentina sempat tertunda ketika Rodri mendekati Otamendi dan mengatakan beberapa hal yang membuat bek berusia 38 tahun itu langsung bereaksi. Nahuel Molina, yang berada di dekat situ, langsung melindungi rekan setimnya dan mendorong dada Rodri. Dalam hitungan detik, keributan melibatkan sekitar sepuluh pemain dari kedua kubu terjadi di tengah lapangan, tepat di depan podium yang akan digunakan untuk serah terima trofi. Steward dan ofisial federasi harus berusaha keras memisahkan Otamendi, Molina, dan Rodri yang terus saling berteriak. Wasit laga akhirnya memberikan kartu kuning kepada Rodri di menit ke-78 setelah insiden tekel terhadap Enzo, namun post-match clash ini berpotensi mendapatkan sanksi tambahan dari FIFA. Meski demikian, catatan statistik tetap menunjukkan dominasi pertempuran taktis: Spanyol menguasai bola lebih banyak dengan 58%, namun Argentina lebih klinis dengan conversion rate yang jauh lebih tinggi. Laga final yang berakhir dengan skor akhir 2-1 ini akan dikenang bukan hanya karena gol kemenangan menit ke-89, tetapi juga karena keributan pasca-pertandingan yang melibatkan tiga pemain kunci dari dua negara raksasa sepak bola dunia.
"Kami bermain dengan hati dan emosi. Apa yang terjadi setelah laga adalah bukti betapa besarnya tekanan di final Piala Dunia. Saya bangga pada para pemain," ujar Lionel Scaloni usai laga.
Comments (0)