Sherina Munaf Ungkap Sulitnya Pemadaman Kebakaran Lahan Gambut Kalimantan

Bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terus berulang di kawasan Kalimantan tidak hanya menghancurkan ekosistem alam, tetapi juga menguji batas

Sep 09, 2026 - 22:23
0 0
Sherina Munaf Ungkap Sulitnya Pemadaman Kebakaran Lahan Gambut Kalimantan

Bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terus berulang di kawasan Kalimantan tidak hanya menghancurkan ekosistem alam, tetapi juga menguji batas ketahanan fisik dan mental para relawan serta petugas di lapangan. Musisi sekaligus aktivis lingkungan Sherina Munaf membagikan pengalaman emosionalnya saat terlibat langsung dalam upaya penanganan bencana karhutla di wilayah tersebut. Ia mengaku sempat berada di titik hampir putus asa akibat kondisi lapangan yang sangat ekstrem dan sulit dikendalikan.

Kondisi geografis Kalimantan yang didominasi oleh ekosistem tanah gambut menjadi tantangan utama yang kerap menyulitkan proses pemadaman. Berbeda dengan kebakaran vegetasi darat biasa, api pada lahan gambut dapat merayap hingga kedalaman beberapa meter di bawah permukaan tanah. Hal inilah yang membuat upaya pemadaman permukaan sering kali terbukti tidak efektif tanpa intervensi penyiraman skala besar yang konstan.

Anatomi Ekosistem Gambut dan Tantangan Pemadaman

Secara analitis, krisis karhutla di Kalimantan merupakan akumulasi dari degradasi lingkungan yang berlangsung selama berdekade-dekade. Pembukaan lahan berbasis pengeringan gambut melalui kanalisasi ilegal telah mengubah kawasan yang tadinya berfungsi sebagai penyimpan air alami menjadi bentang alam yang sangat mudah terbakar saat musim kemarau tiba.

Dalam penuturannya, Sherina menyoroti betapa asap pekat dan barah api yang tersembunyi di bawah tanah menciptakan situasi yang tidak berimbang antara daya manusia dan kebuasan alam. Keterbatasan jarak pandang, pasokan air yang minim di lokasi remote, serta cuaca terik yang menyengat memperburuk situasi bagi siapa pun yang mencoba memadamkannya.

"Memadamkan api di tanah gambut itu seperti melawan musuh yang tidak terlihat. Kita menyiram permukaan sampai basah, tapi beberapa jam kemudian api bisa kembali muncul dari bawah tanah. Ada momen di mana rasa lelah dan pekatnya asap membuat kita merasa sangat kecil dan hampir putus asa," ujar Sherina Munaf saat menggambarkan situasi nyata di lokasi karhutla.

Faktor Kunci Penyebab Krisis Karhutla Sulit Dirontek

Kegagalan penanganan cepat di lapangan tidak hanya disebabkan oleh kendala teknis, melainkan juga dinanti oleh serangkaian faktor struktural. Berdasarkan pengamatan para ahli lingkungan dan laporan relawan di lapangan, terdapat beberapa variabel utama yang menyulitkan penghentian penyebaran api:

  • Karakteristik Api Underground: Api menyebar secara silent di bawah lapisan gambut kering, sehingga sulit dideteksi secara visual sebelum akhirnya membesar ke permukaan.
  • Keterbatasan Akses Logistik: Banyak titik panas (hotspot) berada di dalam kawasan hutan terisolasi yang sulit dijangkau oleh armada pemadam darat.
  • Krisis Sumber Air: Saat kemarau panjang, parit dan alur sungai di sekitar lokasi kebakaran mengalami kekeringan drastis, menyulitkan proses pengeboman air (water bombing) maupun penyemprotan manual.
  • Cuaca Ekstrem dan Angin Kencang: Fenomena iklim seperti El Niño mempercepat pengeringan vegetasi dan mendorong penyebaran titik api secara masif dalam hitungan jam.

Implikasi Kebijakan dan Solusi Jangka Panjang

Pengakuan dari figur publik seperti Sherina Munaf hendaknya menjadi alarm keras bagi pengambil kebijakan. Penanganan karhutla tidak boleh lagi berfokus pada pendekatan pemadaman pemadam kebakaran semata (firefighting approach) yang memakan biaya besar dan berisiko tinggi bagi keselamatan jiwa, melainkan harus bergeser ke arah pemulihan ekosistem yang menyeluruh.

Restorasi gambut melalui strategi pembasahan kembali (rewetting), penutupan kanal ilegal, serta penegakan hukum yang tegas terhadap pelaku pembakaran lahan tanpa pandang bulu adalah kunci mutlak. Tanpa langkah korektif yang radikal terhadap tata kelola lahan, Kalimantan akan terus terjebak dalam siklus krisis ekologis tahunan yang mengancam keanekaragaman hayati dan kesehatan masyarakat luas.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
indah-permata

Reporter Kriminal. Meliput Polri, kejaksaan, dan pengadilan pidana.

Comments (0)

User