Senegal Juara Piala Afrika 2025, Tumbangkan Tuan Rumah Maroko 2-1

Skor akhir 2-1 untuk Senegal menutup laga dramatis final Piala Afrika 2025 di Rabat, Minggu (18/1/2026) malam waktu setempat. Gol Ismaïla Sarr pada menit ke-34 dan Sadio Mané menit ke-72 hanya mampu...

Aug 11, 2026 - 15:40
0 0
Senegal Juara Piala Afrika 2025, Tumbangkan Tuan Rumah Maroko 2-1

Skor akhir 2-1 untuk Senegal menutup laga dramatis final Piala Afrika 2025 di Rabat, Minggu (18/1/2026) malam waktu setempat. Gol Ismaïla Sarr pada menit ke-34 dan Sadio Mané menit ke-72 hanya mampu dibalas satu kali oleh tuan rumah Maroko melalui Brahim Díaz menit ke-58. Hasil ini memastikan Singa Teranga mengangkat trofi AFCON kedua sepanjang sejarah mereka, sementara puluhan ribu suporter Atlas Lions yang memadati stadion harus pulang dengan kekecewaan mendalam.

Babak Pertama: Efisiensi Senegal Membuka Jalan

Maroko membuka pertandingan dengan agresivitas tinggi di hadapan publik sendiri. Menit ke-9, Achraf Hakimi melepaskan umpan silang dari sisi kanan yang disambut sundulan Youssef En-Nesyri, tetapi bola masih melambung tipis di atas mistar gawang Édouard Mendy. Menit ke-23, Lamine Camara mencuri perhatian lewat tekel bersih di lini tengah untuk memotong aliran serangan yang dibangun Hakimi bersama Bilal El Khannouss — sebuah cuplikan yang menjadi gambaran sengitnya perebutan bola di sektor tengah sepanjang 90 menit.

Kebuntuan akhirnya pecah pada menit ke-34. Berawal dari transisi cepat, Mané mengirim assist terukur ke dalam kotak penalti, dan Sarr menyambarnya dengan tembakan kaki kanan ke sudut bawah gawang Yassine Bounou. 1-0 untuk Senegal. Statistik babak pertama mencatat penguasaan bola 55 persen untuk Maroko, tetapi Senegal jauh lebih efisien dengan 3 shots on target dari 5 percobaan, berbanding 2 dari 7 milik tuan rumah.

Babak Kedua: Drama VAR dan Gol Penentu Mané

Tuan rumah keluar dari ruang ganti dengan pendekatan berbeda. Instruksi pressing lebih tinggi langsung membuahkan hasil pada menit ke-58. El Khannouss memenangi bola di tengah lapangan, mengalirkannya ke En-Nesyri, yang lalu menyodorkan bola matang kepada Brahim Díaz. Tembakan mendatar Díaz gagal diantisipasi Mendy. 1-1, dan seisi stadion bergemuruh.

Drama tersaji pada menit ke-65 ketika wasit meninjau VAR menyusul dugaan handball Kalidou Koulibaly di kotak penalti. Setelah peninjauan hampir dua menit, keputusan keluar: tidak ada penalti. Momentum itu langsung dimanfaatkan Senegal. Menit ke-72, Camara — motor lini tengah Singa Teranga sepanjang laga — melepaskan umpan terobosan yang diselesaikan Mané dengan sepakan kaki kiri mendatar. 2-1 untuk Senegal. Maroko menggempur habis-habisan di sisa waktu, termasuk peluang emas menit ke-89 yang dimentahkan penyelamatan gemilang Mendy, tetapi skor tidak berubah hingga peluit panjang.

Duel Kunci: Camara Melawan Hakimi dan El Khannouss

Salah satu babak paling menarik dari final ini adalah pertarungan fisik dan taktik di lini tengah. Lamine Camara tampil luar biasa disiplin menjaga area half-space, berkali-kali terlibat duel langsung dengan Achraf Hakimi yang rajin naik membantu serangan dari sisi kanan, serta Bilal El Khannouss yang berperan sebagai penghubung antarlini Maroko. Data mencatat Camara memenangi 7 dari 10 duel, membukukan 4 tekel sukses, 3 intersep, dan menyumbang 1 assist untuk gol penentu kemenangan.

Secara taktik, formasi 4-3-3 Senegal berhasil menetralkan skema 4-2-3-1 Maroko. Dengan Camara bertugas membayangi pergerakan El Khannouss dan memotong jalur umpan ke Hakimi, build-up tuan rumah kerap terputus sebelum memasuki sepertiga akhir. Maroko memang unggul jumlah umpan, tetapi mayoritas sirkulasi bola mereka berakhir di area yang tidak berbahaya.

Statistik Akhir dan Reaksi Pelatih

Angka akhir pertandingan menunjukkan betapa ketatnya final ini. Penguasaan bola: Maroko 58 persen berbanding 42 persen. Total tembakan 16-9 untuk Maroko, tetapi shots on target hanya 5-4. Wasit mengeluarkan 5 kartu kuning — tiga untuk Maroko, dua untuk Senegal — tanpa satu pun kartu merah. Tendangan sudut berakhir 8-3 untuk Atlas Lions, sementara Mendy mencatatkan 4 penyelamatan krusial.

"Para pemain menunjukkan karakter juara sejak menit pertama. Kami tahu Maroko akan mendominasi bola, jadi kami menyiapkan transisi cepat dan disiplin bertahan. Malam ini milik Senegal," ujar pelatih Senegal seusai laga. Di kubu lawan, pelatih Maroko mengakui kekalahan dengan lapang dada. "Kami menguasai bola, menciptakan peluang, tetapi final ditentukan oleh ketajaman di kotak penalti. Senegal lebih klinis malam ini," katanya.

Bagi Senegal, gelar ini mengukuhkan status mereka sebagai kekuatan besar sepak bola Afrika dalam satu dekade terakhir. Bagi Maroko, kegagalan di kandang sendiri menjadi catatan pahit, meski perjalanan mereka menuju final tetap layak diapresiasi. Satu hal yang pasti: final di Rabat ini akan dikenang sebagai salah satu pertarungan taktik terbaik dalam sejarah Piala Afrika.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
fajar-ramadhan

Editor Hukum. Alumni FH UI. Meliput pengadilan, MA, dan judicial review.

Comments (0)

User