Scaloni Termenung Usai Argentina Tumbang di Final Piala Dunia 2026
Skor akhir 2-1 untuk Spanyol atas Argentina pada laga puncak Piala Dunia 2026 di Stadion New York/New Jersey, East Rutherford, Minggu (20/7/2026). Sebuah momen pahit yang membuat pelatih kepala Timnas...
Skor akhir 2-1 untuk Spanyol atas Argentina pada laga puncak Piala Dunia 2026 di Stadion New York/New Jersey, East Rutherford, Minggu (20/7/2026). Sebuah momen pahit yang membuat pelatih kepala Timnas Argentina, Lionel Scaloni, termenung di pinggir lapangan, tatapan matanya kosong menatap rumput hijau yang baru saja menjadi saksi perjalanan La Albiceleste yang berhenti di anak tangga terakhir. Laga berjalan selama 120 menit plus drama yang tak pernah dibayangkan publik Argentina.
Jalannya Laga: Babak Pertama yang Terkunci
Sejak wasit meniup peluit kick-off, Spanyol langsung tampil mendikte tempo. Formasi 4-3-3 yang diusung Luis de la Fuente menempatkan tiga gelandang di lini tengah yang bergerak cair, sementara Argentina memilih 4-4-2 dengan dua penyerang yang sesekali turun menjemput bola. Menit ke-14, ancaman pertama datang dari sayap kanan Spanyol. Umpan silang mendatar mengarah ke kotak penalti, namun Emiliano Martínez sigap memotong bola sebelum striker lawan sempat menyentuhnya.
Argentina baru menemukan ritme permainan pada menit ke-23. Serangan balik cepat lewat sisi kiri berujung pada tendangan keras dari luar kotak penalti. Kiper Spanyol berhasil menepis, tetapi bola memantul dan memicu kemelut yang akhirnya dihentikan bek lawan. Penguasaan bola babak pertama berakhir 58 persen untuk Spanyol berbanding 42 persen untuk Argentina. Meski kalah dominasi, Argentina mencatatkan tiga shots on target dari lima percobaan, sementara Spanyol hanya dua dari tujuh tembakan. Babak pertama ditutup tanpa gol.
Babak Kedua: Gol, VAR, dan Ketegangan
Memasuki babak kedua, Scaloni mengubah pendekatan. Ia menarik keluar satu gelandang bertahan dan memasukkan penyerang cepat untuk menambah daya gedor. Perubahan itu nyaris berbuah manis pada menit ke-51, saat sepakan first-time dari dalam kotak penalti membentur tiang gawang. Stadion bergemuruh, namun bola menolak masuk.
Spanyol akhirnya memecah kebuntuan pada menit ke-63. Sebuah kombinasi umpan satu-dua di tepi kotak penalti diakhiri tembakan terukur yang bersarang di sudut kanan gawang. Skor 1-0. Argentina merespons dengan gelombang serangan. Menit ke-74, drama terjadi. Bola masuk ke gawang Spanyol, tetapi wasit meninjau VAR selama hampir tiga menit. Keputusan akhir: offside. Gol dianulir. Scaloni terlihat menunduk, tangannya menutup wajah.
Hanya berselang empat menit, Spanyol menggandakan keunggulan lewat serangan cepat dari sisi kanan. Assist manis dari bek sayap diselesaikan striker dengan sepakan kaki kiri yang tak mampu dijangkau kiper Argentina. Skor berubah 2-0. Argentina seperti kehabisan tenaga, kartu kuning mulai bermunculan akibat pelanggaran taktis untuk menghentikan serangan lawan. Namun La Albiceleste tak menyerah. Menit ke-88, tendangan bebas dari jarak 25 meter memaksa kiper Spanyol bekerja keras. Corner bertubi-tubi dilancarkan, tetapi pertahanan Spanyol bertahan rapat.
Drama Injury Time: Gol Hiburan dan Harapan yang Pupus
Memasuki menit ke-90+3, Argentina akhirnya mencetak gol. Berawal dari kemelut di depan gawang, bola disambar dari jarak dekat dan menggetarkan jaring Spanyol. Skor menjadi 2-1. Sisa waktu empat menit menjadi neraka bagi Spanyol. Argentina mengepung pertahanan lawan, melepaskan total 18 tembakan sepanjang pertandingan dengan enam shots on target. Spanyol mencatat 12 tembakan, empat di antaranya tepat sasaran. Penguasaan bola akhir 55 persen untuk Spanyol, 45 persen untuk Argentina.
Namun peluit panjang berbunyi sebelum gol penyeimbang tercipta. Spanyol keluar sebagai juara dunia, Argentina harus menerima kenyataan pahit. Statistik menunjukkan Argentina unggul dalam duel udara dan tekel sukses, tetapi efektivitas di sepertiga akhir lapangan menjadi pembeda. Sebuah clean sheet yang gagal diraih, dan dua kebobolan yang lahir dari kesalahan kecil di momen krusial.
"Kami tidak kalah karena kurang berjuang. Kami kalah karena lawan lebih efektif di momen-momen kecil. Para pemain sudah memberikan segalanya sampai detik terakhir. Rasa sakit ini akan menjadi bagian dari perjalanan kami," ujar Scaloni dalam konferensi pers usai laga, dikutip dari pernyataannya kepada media.
Analisis Taktik: Di Mana Argentina Kehilangan Momentum
Scaloni membangun starting XI dengan komposisi yang seimbang antara pengalaman dan kecepatan. Sayangnya, lini tengah Argentina kesulitan memutus alur bola Spanyol yang bergerak cepat tanpa bola. Formasi 4-3-3 Spanyol menciptakan superioritas di area tengah, memaksa Argentina bermain lebih banyak tanpa bola. Perubahan formasi menjadi 4-3-3 di babak kedua memang menambah tekanan, tetapi membuka ruang di belakang yang dieksploitasi lawan.
Keputusan Scaloni memasukkan penyerang tambahan pada menit ke-60 sempat mengubah dinamika. Argentina melepaskan 11 tembakan di 30 menit terakhir, tetapi hanya dua yang mengarah ke gawang. Efisiensi menjadi masalah utama. Di sisi lain, kartu kuning yang diterima tiga pemain Argentina menandakan kegelisahan dan hilangnya disiplin taktis di momen krusial. Pelatih berusia 48 tahun itu menyaksikan semua dari pinggir lapangan, sesekali melontarkan instruksi, namun takdir berkata lain.
Perjalanan Argentina di Piala Dunia 2026 sebenarnya terbilang impresif. Mereka melewati fase grup tanpa kekalahan, memenangi babak 16 besar lewat drama adu penalti, dan melaju ke final dengan hanya kebobolan tiga gol sepanjang turnamen. Namun di partai puncak, detail kecil menjadi pembeda. Spanyol mengangkat trofi, Argentina pulang dengan luka. Bagi Scaloni, kekalahan ini bukan akhir dari segalanya, melainkan titik evaluasi untuk membangun kembali tim menuju turnamen berikutnya.
Comments (0)