Presiden Fecofa Mosengo-Omba Pasang Badan Bela Infantino di Tengah Protes

Skor akhir dukungan terhadap Gianni Infantino di kawasan Afrika belum berubah: tetap aman, tetap kokoh. Ketika gelombang protes mengguncang markas FIFA di Zurich, Presiden Federasi Sepak Bola Republik...

Presiden Fecofa Mosengo-Omba Pasang Badan Bela Infantino di Tengah Protes

Skor akhir dukungan terhadap Gianni Infantino di kawasan Afrika belum berubah: tetap aman, tetap kokoh. Ketika gelombang protes mengguncang markas FIFA di Zurich, Presiden Federasi Sepak Bola Republik Demokratik Kongo (Fecofa), Véron Mosengo-Omba, justru keluar sebagai bek tengah paling vokal yang memasang badan membela sang petahana. Ia menegaskan bahwa mayoritas dari 211 asosiasi anggota FIFA masih berdiri di belakang Infantino, dan gelombang kritik yang terdengar nyaring di permukaan hanyalah suara minoritas.

Pernyataan ini keluar bukan tanpa perhitungan. Bagi Mosengo-Omba, ini bukan sekadar sikap diplomatik, melainkan hasil membaca peta kekuatan. Jika dukungan dihitung seperti penguasaan bola, maka blok Afrika memegang persentase yang membuat lawan sulit membangun serangan: 54 dari 211 suara, atau nyaris seperempat total kekuatan pemilih di Kongres FIFA. Tembakan kritik boleh deras, tapi shots on target dari kubu oposisi belum menemukan sasaran yang cukup untuk menggulingkan posisi Infantino.

Babak Pembuka: Gelombang Protes yang Gagal Menembus Pertahanan

Tekanan terhadap Infantino sebenarnya bukan barang baru. Sejak memimpin FIFA pada 2016, presiden asal Swiss ini sudah terbiasa bermain di bawah teror pressing tinggi. Kritik soal agenda padat turnamen, rencana ekspansi Piala Dunia, hingga gelombang investigasi yang menyeruak dari berbagai penjuru, semua datang silih berganti seperti umpan silang yang bertubi-tubi. Namun seperti kiper yang menjaga clean sheet, setiap serangan itu sejauh ini mampu diredam.

Mosengo-Omba menilai banyak kritik justru lahir dari kesalahan membaca situasi. Menit ke-90 laga politik sepak bola dunia memang selalu rawan, tetapi ia meyakini mayoritas asosiasi, terutama dari Afrika dan Asia, masih memberi ruang gerak bagi Infantino. Argumentasinya sederhana: pembangunan infrastruktur, distribusi pendapatan, dan perhatian FIFA terhadap federasi kecil menjadi alasan mengapa dukungan tak mudah goyah. Sejumlah kritik bahkan dianggap offside karena dibangun di atas asumsi, bukan data.

Mosengo-Omba: Starting XI Dukungan dari Kongo Raya

Sosok Mosengo-Omba sendiri bukan nama asing di lorong-lorong kekuasaan sepak bola Afrika. Mantan Sekretaris Jenderal CAF ini tahu persis bagaimana peta dukungan dibentuk dari ruang rapat, bukan dari tribun. Sejak memimpin Fecofa, ia membawa gaya kepemimpinan yang mengutamakan stabilitas, dan sikapnya kini menjadi cermin dari arah politik federasi-federasi Afrika pada umumnya.

Keputusan DR Kongo untuk berbaris di belakang Infantino juga bukan tanpa alasan taktis. Federasi di Afrika kerap melihat hubungan baik dengan markas FIFA sebagai aset penting: akses pendanaan, program pengembangan, hingga dukungan teknis untuk kompetisi domestik. Dalam formasi politik semacam ini, posisi Mosengo-Omba adalah gelandang bertahan yang mengamankan lini tengah agar serangan kubu oposisi tidak sampai menusuk jantung pertahanan Infantino.

Kebangkitan sepak bola Kongo ikut memperkuat posisi tawar federasi ini. Leopards, julukan timnas RD Kongo, tampil meyakinkan hingga babak semifinal Piala Afrika 2023, sebuah pencapaian yang menaikkan pamor Fecofa di mata CAF dan FIFA. Ketika federasi dengan prestasi menanjak berbicara, kata-katanya punya bobot lebih di ruang voting.

Blok Afrika: Penguasaan Bola yang Menentukan Hasil Akhir

Data berbicara tegas: tanpa dukungan Afrika, nyaris mustahil seorang calon memenangi kursi presiden FIFA. Dengan 54 asosiasi anggota, CAF adalah blok pemilih terbesar kedua setelah UEFA. Dalam Kongres FIFA 2023 di Kigali, Rwanda, Infantino memenangi pemilihan tanpa lawan — bukti bahwa mesin politiknya di Afrika bekerja seperti pressing kolektif yang rapi: tidak ada celah bagi lawan untuk keluar dari tekanan.

Di sinilah pernyataan Mosengo-Omba menjadi penting. Ia bukan sekadar menyuarakan dukungan pribadi, melainkan membaca denyut mayoritas. Jika dihitung kasar, 54 suara Afrika ditambah dukungan dari Asia, Oseania, dan sebagian Eropa, maka posisi Infantino menjelang Kongres FIFA 2027 masih duduk nyaman di puncak klasemen. Protes boleh saja membunyikan peluit, tetapi wasit akhir — para pemegang suara — belum menunjukkan kartu merah. Peringatan berupa kartu kuning memang bertebaran, tetapi belum ada hukuman berat yang menjatuhkan sang petahana.

Menuju Kongres 2027: Duel Belum Usai, Skor Masih Terbuka

Meski begitu, pertandingan belum memasuki menit akhir. Oposisi dipastikan akan terus menekan, mencari celah seperti penyerang sayap yang ingin memanfaatkan ruang di belakang bek. Setiap keputusan kontroversial FIFA ke depan akan kembali diuji, dan VAR berupa pengawasan media serta opini publik akan selalu memeriksa setiap insiden.

Mosengo-Omba sendiri tetap tenang. Baginya, dukungan bukan soal siapa yang paling keras bersuara, melainkan siapa yang hadir saat penghitungan suara dilakukan. Dengan penguasaan dukungan mayoritas di tangannya, ia percaya Infantino masih mampu menjaga clean sheet hingga peluit akhir Kongres 2027. Dukungannya kini menjadi assist penting yang memberi ruang bagi Infantino untuk terus membangun serangan. Satu hal yang pasti: di tengah badai protes, kubu petahana masih memegang kendali bola, dan blok Afrika adalah pemain kunci yang tak akan mudah dijatuhkan.

"Saya yakin mayoritas asosiasi anggota FIFA masih mendukung Presiden Gianni Infantino. Kritik yang keras bukan berarti mayoritas berpaling," demikian kira-kira pesan yang disampaikan Mosengo-Omba di tengah tekanan yang menerpa.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
reza-pahlevi

Reporter Pengadilan. Meliput kasus-kasus landmark di PN, PT, dan MA.

Comments (0)

User