PRANCIS — Omar Souleimane Peringatkan Bahaya Radikalisme Pemuda Banlieue Paris

Fenomena munculnya paham radikal di kawasan pinggiran kota (banlieue) Paris kini menjadi sorotan tajam setelah novelis dan penyair Prancis-Suriah, Omar You

Sep 15, 2026 - 01:25
0 0
PRANCIS — Omar Souleimane Peringatkan Bahaya Radikalisme Pemuda Banlieue Paris

Fenomena munculnya paham radikal di kawasan pinggiran kota (banlieue) Paris kini menjadi sorotan tajam setelah novelis dan penyair Prancis-Suriah, Omar Youssef Souleimane, meluncurkan karya terbarunya. Berdasarkan pengalamannya memimpin lokakarya menulis selama enam tahun di sekolah-sekolah menengah (collèges), Souleimane menemukan fakta mengkhawatirkan: wacana integris dan paham keagamaan ekstrem yang dulu memaksanya melarikan diri dari Suriah kini justru berakar kuat di tengah remaja yang lahir dan dibesarkan di Prancis.

Melalui bukunya yang bertajuk Les Héritiers de la haine (Para Pewaris Kebencian) yang diterbitkan oleh penerbit Plon, Souleimane membedah secara analitis bagaimana krisis identitas dan kegagalan integrasi budaya telah menciptakan segregasi ideologis yang mengancam nilai-nilai sekularisme (*laïcité*) di negara tersebut. Temuan ini menjadi peringatan keras bagi pengambil kebijakan di Paris terkait masa depan generasi muda di kawasan banlieue.

Jejak Pelarian dari Suriah hingga Membuka Lokakarya di Paris

Perjalanan intelektual dan kesaksian Omar Youssef Souleimane tidak lepas dari rekam jejak personalnya saat menghadapi otoritarianisme dan radikalisme di Timur Tengah sebelum akhirnya menetap di Eropa. Berikut adalah garis waktu keterlibatan dan pengamatannya di Prancis:

  1. Tahun 2012: Omar Youssef Souleimane melarikan diri dari Suriah akibat persekusi politik dan ancaman kelompok ekstremis, lalu mendapatkan suaka di Prancis dengan harapan menemukan kebebasan berkespresi serta prinsip sekularisme yang menjamin kebebasan individu.
  2. Tahun 2018: Ia mulai aktif memimpin berbagai lokakarya menulis kreatif di sejumlah sekolah menengah pertama yang berlokasi di kawasan banlieue Paris, daerah yang didominasi oleh populasi imigran generasi kedua dan ketiga.
  3. Tahun 2018–2024: Selama enam tahun berinteraksi langsung dengan para murid, ia mendokumentasikan pola pikir, kecenderungan ideologis, dan penolakan terbuka para remaja terhadap nilai-nilai Republik Prancis.
  4. Tahun 2024: Souleimane merangkum seluruh temuan sosiologis dan narasi pengalaman lapangan tersebut dalam buku Les Héritiers de la haine sebagai bentuk kontribusi kritis terhadap isu integrasi nasional.

Kronologi Penemuan Ideologi Radikal di Sekolah Pinggiran Paris

Dalam analisisnya, Souleimane menyoroti fenomena paradoks di mana anak-anak muda yang memegang kewarganegaraan Prancis justru merasa asing (*alienated*) dengan tanah kelahiran mereka sendiri. Mereka secara bertahap mengadopsi doktrin yang bertolak belakang dengan kebebasan sipil yang dilindungi oleh undang-undang Prancis.

"Di sekolah-sekolah menengah pinggiran kota Paris, saya menemukan kembali wacana integris yang sama persis dengan apa yang saya tinggalkan di Suriah. Ini adalah tragedi di mana anak-anak yang lahir di Prancis justru merindukan ideologi yang saya hindari saat melarikan diri dari konflik," tegas Omar Youssef Souleimane.

Pengamatan mendalam selama rentang waktu enam tahun tersebut memperlihatkan beberapa poin kunci yang menjadi akar masalah:

  • Alienasi Identitas Nasional: Banyak remaja di banlieue tidak menganggap diri mereka sebagai bagian dari bangsa Prancis, melainkan memposisikan diri sebagai pihak yang berseberangan dengan nilai-nilai barat.
  • Penolakan terhadap Sekularisme: Prinsip *laïcité* yang menjadi fondasi pendidikan publik Prancis kerap dianggap sebagai bentuk penindasan budaya, bukan sebagai instrumen perlindungan kebebasan beragama.
  • Romantisasi Paham Ekstrem: Kehadiran narasi-narasi integris yang diserap melalui media sosial dan lingkungan sekitar membentuk cara pandang doktriner yang mirip dengan ideologi ekstremis di kawasan konflik Timur Tengah.

Implikasi Kebijakan dan Masa Depan Integrasi Sosial Prancis

Buku *Les Héritiers de la haine* memberikan analisis kritis bahwa persoalan radikalisme di Prancis bukan lagi semata-mata masalah imigrasi luar, melainkan masalah domestik yang tumbuh dari dalam sistem sosial dan pendidikan. Kegagalan untuk intervensi secara dini di level sekolah menengah berpotensi memperluas jurang pemisah antara masyarakat banlieue dan arus utama warga Prancis.

Para pengamat sosiologi menilai bahwa kesaksian Souleimane menjadi momentum penting bagi Pemerintah Prancis untuk mereformasi pendekatan pendidikan warga negara (*éducation civique*) dan memperkuat kehadiran negara di wilayah-wilayah terisolasi secara ekonomi dan budaya, guna mencegah maraknya retorika kebencian di masa depan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
indah-permata

Reporter Kriminal. Meliput Polri, kejaksaan, dan pengadilan pidana.

Comments (0)

User