Prabowo Gelorakan Spirit Bandung di KTT BRICS 2026 India
Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto secara tegas menggemakan kembali Spirit Bandung dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) BRICS 2026 yang berlangs
Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto secara tegas menggemakan kembali Spirit Bandung dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) BRICS 2026 yang berlangsung di Bharat Mandapam, New Delhi, India. Langkah diplomasi ini dinilai sebagai manuver strategis untuk memperkuat posisi tawar (*bargaining position*) negara-negara berkembang yang tergabung dalam kawasan Global South. Dalam forum internasional tersebut, Indonesia menggarisbawahi bahwa semangat solidaritas Asia-Afrika yang dicetuskan pada Konferensi Asia Afrika (KAA) 1955 di Bandung tetap menjadi kompas moral yang sangat relevan untuk menjawab tantangan tata kelola global masa kini.
Relevansi Geopolitik Spirit Bandung di Era Multipolar
Pidato Presiden Prabowo pada sesi terbatas bertema Inclusive Global Governance and Strengthening Multilateralism pada Sabtu, 12 September 2026, menjadi momentum penting bagi posisi diplomasi Indonesia. Prabowo menekankan bahwa pergeseran dinamika geopolitik abad ke-21 menuntut perubahan sistemik dari unipolaritas menuju tata dunia multipolar yang lebih berkeadilan. Negara-negara yang dahulu terpinggirkan akibat sejarah kolonialisme kini telah bertransformasi menjadi kekuatan ekonomi dan politik baru yang signifikan.
"Kami di Global South kini merasa suara kami didengar. Negara-negara yang baru saja meraih kemerdekaan, yang telah melawan imperialisme dan kolonialisme, kini bersatu sebagai negara yang setara," tegas Presiden Prabowo di hadapan para kepala negara anggota BRICS.
Menurut para analis politik internasional, pengangkatan kembali narasi Spirit Bandung oleh Indonesia bukan sekadar nostalgia sejarah, melainkan strategi untuk mengonsolidasikan kekuatan ekonomi baru di luar dominasi institusi keuangan tradisional Barat. Semangat ini dinilai mampu menaikkan daya tawar negara berkembang dalam merumuskan kebijakan global.
Transformasi Solidaritas: KAA 1955 vs KTT BRICS 2026
Perjalanan sejarah menunjukkan transformasi peran pergerakan negara-negara berkembang dari perjuangan kemerdekaan politik menuju kemandirian ekonomi. Tabel berikut menggambarkan evolusi konseptual dari KAA 1955 hingga KTT BRICS 2026:
| Parameter | Konferensi Asia Afrika (1955) | KTT BRICS (2026) |
|---|---|---|
| Fokus Utama Perjuangan | Dekolonisasi dan Kedaulatan Politik | Geo-ekonomi, De-dolarisasi & Reformasi Multilateral |
| Konteks Geopolitik | Perang Dingin (Blok Barat vs Blok Timur) | Tatanan Dunia Multipolar & Kebangkitan Ekonomi Global South |
| Landasan Kerjasama | Dasasila Bandung (Gerakan Non-Blok) | Kemitraan Strategis & Tata Kelola Inklusif |
Penguatan Multilateralisme dan Urutan Agenda Strategis
Dalam pidatonya, Presiden Prabowo mengutip pepatah tradisional Indonesia, “Bersatu kita teguh, terpecah kita runtuh”, guna mengingatkan pentingnya konsolidasi di antara negara-negara Global South. Beliau memaparkan tiga tahapan utama yang perlu ditempuh secara kolektif:
- Mendorong Reformasi Arsitektur Keuangan Global: Memastikan akses pendanaan pembangunan yang adil dan bebas dari tekanan beban utang yang tidak proporsional bagi negara berkembang.
- Memperkuat Multilateralisme yang Inklusif: Mendorong peran PBB dan badan-badan internasional agar tidak lagi dipengaruhi oleh hegemoni segelintir negara maju.
- Menjaga Solidaritas dan Kedamaian Regional: Mengutamakan diplomasi damai berdasarkan hukum internasional serta menolak segala bentuk neo-kolonialisme di bidang ekonomi maupun teknologi.
Kehadiran Indonesia dalam KTT BRICS 2026 membawa pesan fundamental bahwa Spirit Bandung tetap hidup dan bertransformasi menjadi energi baru. Dengan mengusung prinsip kesetaraan dan keadilan, Indonesia mempertegas komitmennya sebagai pembuat jembatan (*bridge builder*) di tengah persaingan geopolitik global yang kian kompleks.
Comments (0)