PLN dan Pelindo Operasikan Onshore Power Supply di Tanjung Priok
Dermaga Pelabuhan Tanjung Priok kini memasuki babak baru dalam transformasi energi hijau. Langkah konkret pencapaian target emisi nol bersih sektor maritim
Dermaga Pelabuhan Tanjung Priok kini memasuki babak baru dalam transformasi energi hijau. Langkah konkret pencapaian target emisi nol bersih sektor maritim diwujudkan melalui kolaborasi strategis antara PT PLN (Persero) dan PT Pelabuhan Indonesia (Persero) atau Pelindo. Kedua Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tersebut secara resmi mengoperasikan dua unit fasilitas Onshore Power Supply (OPS) berkapasitas total 1 Mega Volt Ampere (MVA) di kawasan pelabuhan tersibuk di Indonesia tersebut.
Pengoperasian teknologi yang kerap dikenal sebagai sistem cold ironing ini menjadi jawaban atas tingginya jejak karbon yang dihasilkan oleh aktivitas kapal saat bersandar. Selama berlabuh, kapal kargo maupun kapal penumpang umumnya harus terus menyalakan mesin mesin generator berbahan bakar fosil untuk memenuhi kebutuhan listrik internal, mulai dari sistem pendingin, penerangan, hingga navigasi. Skema tradisional tersebut tidak hanya memicu pembengkakan biaya operasional, tetapi juga menyumbang polusi udara dan polusi suara secara signifikan di sekitar pesisir Jakarta.
Transisi Energi di Sektor Logistik Maritim
Melalui penyediaan infrastruktur OPS, kapal-kapal yang merapat di Pelabuhan Tanjung Priok kini dapat mematikan mesin diesel mereka dan mengalihkan pasokan daya sepenuhnya ke jaringan listrik PLN di darat. Integrasi ini memangkas konsumsi Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis High Speed Diesel (HSD) maupun Marine Fuel Oil (MFO) secara drastis.
"Penerapan Onshore Power Supply merupakan salah satu pilar vital dalam mengakselerasi dekarbonisasi sektor maritim. Kehadiran teknologi ini terbukti mampu memotong rantai emisi gas rumah kaca sekaligus memberikan efisiensi ekonomi yang berkesinambungan bagi para pelaku industri pelayaran," ujar seorang analis energi maritim nasional.
Sektor transportasi laut berkontribusi terhadap sekitar 2 hingga 3 persen emisi karbon global setiap tahunnya. Regulasi internasional dari International Maritime Organization (IMO) memperketat standar emisi kapal, sehingga adopsi daya darat berbasis energi bersih menjadi keharusan mutlak bagi pelabuhan berskala internasional.
Analisis Dampak Lingkungan dan Efisiensi Operasional
Secara analitis, transisi penggunaan energi fosil ke listrik PLN di dermaga memberikan manfaat ganda bagi pengelola pelabuhan dan pemilik kapal. Penurunan konsumsi BBM langsung berdampak pada penurunan emisi Karbon Dioksida ($CO_2$), Nitrogen Oksida ($NO_x$), dan Sulfur Oksida ($SO_x$) di lingkungan Tanjung Priok.
Berikut adalah perbandingan parameter operasional kapal saat bersandar sebelum dan sesudah adopsi Onshore Power Supply:
| Parameter Operasional | Genset Fosil Kapal | Onshore Power Supply (PLN) |
|---|---|---|
| Sumber Energi Utama | BBM Fosil (HSD / MFO) | Listrik Jaringan PLN |
| Emisi Gas Rumah Kaca | Tinggi ($CO_2, SO_x, NO_x$) | Signifikan Menurun (Hampir Nol di Dermaga) |
| Tingkat Kebisingan & Getaran | Tinggi (Mesin Diesel Aktif) | Sangat Rendah (Mesin Matikan) |
| Efisiensi Biaya Energi | Tinggi (Terpengaruh Fluktuasi Minyak) | Lebih Hemat hingga 30-40% |
Berdasarkan simulasi keekonomian, para penyedia jasa pelayaran berpotensi menghemat pengeluaran energi hingga 30 persen hingga 40 persen jika dibandingkan dengan biaya operasional genset berbahan bakar minyak. Efisiensi ini memunculkan daya saing logistik nasional yang lebih kuat di tengah ketidakpastian harga minyak mentah dunia.
Menuju Standar Green Port Global
Langkah PLN dan Pelindo meresmikan OPS 1 MVA di Tanjung Priok bukan sekadar pemenuhan kebutuhan energi semata, melainkan bagian dari peta jalan jangka panjang penataan ekosistem Green Port di Indonesia. Tanjung Priok ditetapkan sebagai percontohan nasional sebelum teknologi serupa diperluas secara masif ke pelabuhan strategis lainnya, seperti Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya, Makassar New Port, dan Pelabuhan Belawan.
Penguatan infrastruktur kendor listrik maritim ini diprediksi akan menarik minat lebih banyak armada kapal internasional berstandar ramah lingkungan untuk singgah di Indonesia. Integrasi rantai pasok hijau ini diharapkan mampu menaikkan peringkat daya saing logistik Indonesia di tingkat regional maupun global.
Comments (0)