PFF Ikuti PSSI, Dukung Penuh Rencana Infantino Jual Saham Piala Dunia

Skor akhir dalam pertarungan diplomatik sepak bola Asia Tenggara kali ini bukan ditentukan di lapangan hijau, melainkan di ruang rapat federasi. Federasi Sepak Bola Filipina (PFF) resmi menyatakan duk...

Aug 07, 2026 - 03:16
0 0
PFF Ikuti PSSI, Dukung Penuh Rencana Infantino Jual Saham Piala Dunia

Skor akhir dalam pertarungan diplomatik sepak bola Asia Tenggara kali ini bukan ditentukan di lapangan hijau, melainkan di ruang rapat federasi. Federasi Sepak Bola Filipina (PFF) resmi menyatakan dukungan penuh terhadap rencana kontroversial Presiden FIFA, Gianni Infantino, untuk menjual saham kepemilikan Piala Dunia demi meningkatkan arus kas bagi negara-negara berkembang. Keputusan ini menjadikan Filipina sebagai federasi kedua di kawasan Asia Tenggara yang sejalan dengan langkah PSSI, setelah sebelumnya induk sepak bola Indonesia lebih dulu menyatakan sikap serupa.

Langkah PFF ini menjadi sinyal kuat bahwa blok Asia Tenggara mulai solid dalam mendukung agenda finansial FIFA yang digadang-gadang akan merevolusi distribusi pendapatan global. Dalam pernyataan resminya, PFF menegaskan bahwa inisiatif ini merupakan langkah strategis untuk memastikan kesetaraan akses terhadap sumber daya bagi federasi dengan ekonomi kecil, termasuk Filipina yang saat ini tengah gencar membangun infrastruktur sepak bola dasar.

Dukungan Strategis di Tengah Polemik Global

Keputusan PFF ini tidak muncul dalam ruang hampa. Sejak Infantino melontarkan wacana penjualan saham Piala Dunia—yang diperkirakan mampu menghimpun dana hingga miliaran dolar AS—berbagai federasi besar Eropa dan Amerika Selatan menunjukkan resistensi. Namun, di kawasan Asia, angin dukungan justru bertiup kencang. PFF menilai bahwa model bisnis baru ini akan membuka keran pendanaan yang selama ini sulit diakses oleh federasi dengan pendapatan terbatas.

Data dari laporan keuangan FIFA menunjukkan bahwa pendapatan Piala Dunia 2022 di Qatar mencapai angka fantastis, dengan total pemasukan lebih dari 7,5 miliar dolar AS. Dari jumlah tersebut, porsi yang dialokasikan untuk program pengembangan (Forward Programme) hanya sekitar 2,25 miliar dolar AS untuk siklus 2023-2026. Dengan skema penjualan saham, PFF berharap alokasi dana pengembangan bisa berlipat ganda, memungkinkan pembangunan akademi, lapangan latihan berstandar internasional, dan program pelatihan pelatih bersertifikat.

“Ini bukan tentang siapa yang memiliki saham, melainkan bagaimana memastikan bahwa setiap anak di negara berkembang memiliki kesempatan yang sama untuk bermain sepak bola,” demikian kira-kira inti pernyataan yang disampaikan Sekretaris Jenderal PFF dalam konferensi pers virtual, menekankan pentingnya solidaritas finansial global.

Analisis Babak Pertama: Peta Kekuatan di Asia Tenggara

Jika kita memetakan formasi dukungan di kawasan ASEAN, terlihat jelas bahwa PSSI dan PFF bergerak sebagai starting XI yang kompak. Kedua federasi ini memiliki kesamaan: kebutuhan mendesak akan pendanaan infrastruktur. Indonesia, dengan populasi lebih dari 270 juta jiwa, tengah mengejar ketertinggalan kualitas lapangan dan pembinaan usia muda. Sementara Filipina, yang peringkat FIFA-nya berada di kisaran 130-an, butuh suntikan dana besar untuk mengejar ketertinggalan dari Vietnam dan Thailand.

Menariknya, dukungan ini datang di saat FIFA sedang menghadapi tekanan dari Liga Primer Inggris dan UEFA terkait padatnya kalender pertandingan internasional. Namun, PFF justru melihat sisi lain: dengan tambahan pendapatan dari penjualan saham, FIFA bisa mengkompensasi federasi kecil yang dirugikan oleh bertambahnya jumlah laga internasional. Ini adalah strategi win-win yang cerdas dari kacamata negara berkembang.

Statistik menunjukkan bahwa dari total 211 federasi anggota FIFA, lebih dari 60 persen memiliki pendapatan tahunan di bawah 5 juta dolar AS. Bagi mereka, skema saham Piala Dunia adalah oase di tengah gurun finansial. PFF, yang pendapatannya sebagian besar bergantung pada hibah FIFA dan sponsor lokal, jelas akan menjadi salah satu penerima manfaat terbesar jika skema ini terealisasi.

Menit Krusial: Apa Artinya Bagi Sepak Bola Filipina?

Bagi sepak bola Filipina, dukungan ini bukan sekadar sikap politik. Dalam lima tahun terakhir, PFF telah menginvestasikan jutaan dolar untuk membangun fasilitas di kota-kota seperti Manila, Cebu, dan Davao. Namun, cakupan pembinaan usia muda masih sangat timpang jika dibandingkan dengan Thailand yang memiliki lebih dari 200 akademi berlisensi. Dengan tambahan dana dari skema baru ini, PFF menargetkan pembangunan 50 lapangan mini berstandar FIFA di berbagai provinsi hingga 2028.

Pelatih tim nasional Filipina, yang kini tengah mempersiapkan skuad untuk Kualifikasi Piala Dunia 2026, menyambut baik kabar ini. “Kami butuh kompetisi internal yang lebih ketat. Dengan dana pengembangan yang lebih besar, kami bisa menggelar liga usia muda yang lebih profesional, yang pada akhirnya akan meningkatkan kualitas pemain yang masuk ke tim senior,” ujarnya dalam sesi latihan di Stadion Rizal Memorial.

Dari sisi permainan, Filipina saat ini mengandalkan formasi 4-2-3-1 dengan penekanan pada transisi cepat. Namun, tanpa dukungan finansial yang memadai, pengembangan taktik modern ini akan berjalan lambat. Dukungan terhadap Infantino dianggap sebagai jalan pintas untuk mempercepat proses tersebut.

Babak Kedua: Reaksi dan Konsekuensi

Keputusan PFF tentu menuai reaksi beragam. Federasi Sepak Bola Australia (FFA) yang notabene berada di konfederasi yang sama (AFC) belum memberikan sikap resmi, namun sumber internal menyebutkan bahwa mereka tengah mengkaji dampak hukum dari penjualan saham tersebut. Sementara itu, Federasi Sepak Bola Jepang (JFA) dan Korea Selatan (KFA) masih bungkam, meskipun keduanya dikenal sebagai pendukung kuat transparansi tata kelola FIFA.

Di sisi lain, dukungan PFF dan PSSI ini bisa menjadi katalis bagi federasi-federasi lain di Asia Tenggara seperti Malaysia, Singapura, dan Myanmar untuk mengambil sikap serupa. Jika blok ini solid, mereka bisa menjadi kekuatan tawar yang signifikan dalam Kongres FIFA mendatang yang dijadwalkan berlangsung di tahun 2025.

Namun, perlu dicatat bahwa penjualan saham Piala Dunia bukan tanpa risiko. Kritikus memperingatkan bahwa komersialisasi berlebihan bisa menggerus nilai sakral turnamen. Tapi bagi PFF, risiko tersebut sepadan dengan potensi keuntungan jangka panjang. “Kami tidak melihat ini sebagai pengorbanan, melainkan investasi untuk masa depan,” tegas pernyataan resmi PFF.

Dengan skor akhir dukungan saat ini: dua federasi ASEAN resmi mendukung, satu (Australia) masih mengkaji, dan sisanya menunggu. Pertandingan diplomatik ini belum usai, namun Filipina dan Indonesia telah memastikan posisi mereka di starting XI. Kini, bola berada di kaki federasi-federasi lain untuk merespons.

Yang jelas, langkah PFF ini menunjukkan bahwa peta kekuatan sepak bola global sedang bergeser. Negara berkembang tidak lagi menjadi penonton pasif, melainkan pemain aktif yang menentukan arah kebijakan FIFA. Dan untuk itu, mereka pantas mendapat tepuk tangan—setidaknya untuk keberanian mengambil sikap di tengah badai kontroversi.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
bayu-aji

Investigative Reporter. Spesialisasi: korupsi, pencucian uang, dan kejahatan korporasi.

Comments (0)

User