Persebaya Taklukkan Persib Lewat Drama Penalti di Final
Skor akhir 2-2 (4-3 penalti) menjadi saksi bisu kemenangan dramatis Persebaya Surabaya atas Persib Bandung di final Piala Presiden 2026. Laga yang berlangsung di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakar...
Skor akhir 2-2 (4-3 penalti) menjadi saksi bisu kemenangan dramatis Persebaya Surabaya atas Persib Bandung di final Piala Presiden 2026. Laga yang berlangsung di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Minggu malam, berjalan sengit sejak menit pertama. Bajul Ijo tampil percaya diri dengan formasi 4-3-3, sementara Maung Bandung mengandalkan skema 3-5-2 yang solid. Pertandingan ini langsung memanas ketika wasit meniup peluit panjang, dengan kedua tim saling jual beli serangan.
Babak Pertama: Adu Taktik dan Gol Cepat
Menit ke-12, Persebaya membuka keunggulan melalui sontekan Bruno Moreira setelah menerima assist terukur dari Rizky Ridho. Gol ini lahir dari skema serangan balik cepat yang memanfaatkan kelengahan lini belakang Persib. Penguasaan bola di 15 menit awal memang dikuasai Persib dengan 58 persen, namun efektivitas serangan Persebaya lebih tajam. Shots on target tercatat 3 banding 1 untuk keunggulan tim asal Kota Pahlawan pada babak pertama. Persib mencoba merespons melalui sepakan jarak jauh Marc Klok pada menit ke-27, namun kiper Ernando Ari masih sigap menepis bola. Hingga turun minum, skor 1-0 untuk Persebaya bertahan.
Babak Kedua: Balasan Cepat dan Ketegangan Meningkat
Memasuki babak kedua, Persib meningkatkan intensitas serangan. Pelatih Bojan Hodak memasukkan David Da Silva untuk menambah daya gedor. Hasilnya langsung terlihat pada menit ke-58 ketika David Da Silva menyamakan kedudukan memanfaatkan assist dari Ciro Alves. Gol ini membuat suporter Persib bersorak, namun kegembiraan itu hanya bertahan lima menit. Menit ke-63, Persebaya kembali memimpin melalui gol kedua Bruno Moreira yang mencetak brace setelah menerima umpang silang dari Muhammad Hidayat. Skor menjadi 2-1. Persib tidak menyerah, dan pada menit ke-81, sundulan Nick Kuipers memaksa skor menjadi 2-2 setelah memanfaatkan sepak pojok. Tensi meningkat saat wasit memberikan kartu kuning kepada tiga pemain dalam waktu lima menit. VAR sempat digunakan pada menit ke-88 untuk mengecek potensi offside dalam gol Persib, namun akhirnya disahkan. Hingga peluit panjang, skor tetap imbang, memaksa laga berlanjut ke babak tambahan.
Babak Tambahan: Kelelahan dan Peluang Emas
Dua babak tambahan selama 2x15 menit berjalan dengan tempo lebih lambat akibat kelelahan fisik. Kedua tim hanya mampu mencatatkan masing-masing satu shots on target. Peluang emas tercipta pada menit ke-105 ketika penalti diberikan kepada Persebaya setelah handball di kotak terlarang. Namun, eksekusi Francisco Rivera yang seharusnya menjadi penentu justru melambung di atas mistar. Momen ini menjadi titik balik psikologis, dengan Persib mencoba memanfaatkan kelengahan lawan. Namun, hingga babak tambahan usai, skor tetap 2-2, membawa pertandingan ke adu penalti yang menegangkan.
Adu Penalti: Sarwendi Jadi Pahlawan
Drama adu penalti menjadi penentu gelar juara. Persib mengeksekusi lebih dulu. Empat penonton pertama dari kedua tim sukses menjalankan tugasnya dengan baik. Pada penendang kelima, Persib melalui Ciro Alves gagal setelah tendangannya ditepis oleh kiper Ernando Ari. Persebaya yang memiliki kesempatan menang, menugaskan bek tengah Sarwendi sebagai eksekutor kelima. Dengan tenang, Sarwendi melepaskan tendangan ke pojok kiri bawah yang tidak mampu dijangkau kiper Persib. Skor adu penalti berakhir 4-3 untuk Persebaya. Stadion langsung bergemuruh oleh sorak sorai suporter Bajul Ijo. Ernando Ari dinobatkan sebagai pemain terbaik turnamen dengan total tiga penyelamatan selama laga final dan dua penyelamatan di adu penalti.
Analisis Taktik dan Statistik Kunci
Statistik akhir menunjukkan Persib unggul dalam penguasaan bola dengan 61 persen berbanding 39 persen. Namun, Persebaya lebih efisien dengan mencatatkan 7 shots on target dari 12 percobaan, sementara Persib hanya 5 dari 14. Kartu kuning tercatat 4 untuk Persib dan 3 untuk Persebaya, dengan satu kartu merah tidak ada dalam laga ini. Pelatih Persebaya, Paul Munster, dalam konferensi pers usai laga mengungkapkan, "Kami tahu Persib akan mendominasi bola, tetapi kami menyiapkan strategi serangan balik yang mematikan. Kedisiplinan pemain dalam menjalankan instruksi adalah kunci kemenangan ini." Sementara itu, Bojan Hodak mengakui kekalahan ini, "Kami bermain baik, tetapi adu penalti selalu lotere. Selamat untuk Persebaya." Kemenangan ini menjadi gelar Piala Presiden kedua bagi Persebaya setelah sebelumnya juara pada edisi 2019. Momentum ini diharapkan menjadi modal berharga bagi tim untuk menghadapi kompetisi Liga 1 musim depan.
Comments (0)