Pelatih Malaysia U-16 Kenang Kehebatan dan Kerendahan Hati Bepe di Selangor
Jika ada skor akhir yang pantas dicatat dari kisah ini, itu bukan angka di papan skor, melainkan persahabatan yang menang atas persaingan. Fairuz Montana, pelatih timnas Malaysia U-16, membuka memori ...
Jika ada skor akhir yang pantas dicatat dari kisah ini, itu bukan angka di papan skor, melainkan persahabatan yang menang atas persaingan. Fairuz Montana, pelatih timnas Malaysia U-16, membuka memori lamanya ketika berbagi ruang ganti dengan Bambang Pamungkas di Selangor FC. Di tengah rivalitas Indonesia–Malaysia yang kerap panas di tribun, kisah Fairuz menjadi pengingat bahwa di dalam lapangan yang tersisa hanyalah rasa hormat antarpemain — dan sosok Bepe, sapaan akrab Bambang, adalah salah satu contoh terbaiknya.
Dari Lintas Batas Menuju Satu Ruang Ganti
Tahun 2005 menjadi titik temu dua karier. Saat itu Bepe memutuskan meninggalkan Persija Jakarta untuk mencicipi kompetisi Malaysia bersama Selangor FC, sementara Fairuz adalah bagian dari skuad yang menerimanya. Sejak sesi latihan pertama, kualitas sang tamu langsung terasa. Dalam formasi 4-4-2 yang kerap dipasang pelatih Selangor, Bepe diplot sebagai ujung tombak utama dan nyaris selalu mengisi satu tempat di starting XI. Fairuz mengaku setiap sesi latihan berubah menjadi ujian nyata bagi barisan pertahanan, seolah menghadapi lawan yang tak pernah memberi ruang bernapas.
“Ia datang dengan reputasi besar, tapi tidak pernah menunjukkannya di luar lapangan,” kenang Fairuz. Menurutnya, saat bola ada di kaki Bepe, penguasaan bola di area kotak penalti berubah menjadi senjata mematikan. Arah tembakannya nyaris selalu mengarah ke gawang, layaknya data shots on target yang konsisten menjadi pembeda di setiap pertandingan. Bahkan lini belakang yang memakai jebakan offside tinggi sekalipun kerap tak berdaya. Yang lebih mengejutkan, semua itu dilakukan tanpa drama — tanpa kartu kuning karena protes berlebihan, tanpa aksi mencari perhatian. Bepe bekerja, mencetak gol, lalu kembali ke garis start seperti pemain muda yang masih haus menit bermain. Pada beberapa sesi, ia bahkan sanggup membukukan hat-trick sebelum peluit istirahat berbunyi, membuat kiper dan bek lawan dalam sesi latihan itu mengakui bahwa menjaga clean sheet terasa seperti misi mustahil.
Rekam Jejak yang Bicara Lewat Angka
Kerendahan hati Bepe memang berbanding terbalik dengan besarnya prestasi. Sepanjang karier internasionalnya bersama timnas Indonesia, ia mencatatkan 85 penampilan dan 37 gol, menjadikannya salah satu pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah Garuda. Sebelum ke Selangor, Bepe sempat mencicipi kompetisi Eropa bersama EHC Norad di Belanda — sebuah langkah berani di zamannya. Ia juga menahbiskan diri sebagai ikon Persija Jakarta dengan gelar juara Liga Indonesia 2001 serta empat kali mengantarkan Indonesia ke final Piala AFF, termasuk saat memakai ban kapten di final 2010 yang ironisnya harus takluk dari Malaysia.
Catatan itu makin lengkap dengan torehan assist dan gol-gol penting yang kerap lahir di menit ke-80-an untuk mengubah jalannya laga. Fairuz masih ingat bagaimana Bepe tak pernah membiarkan momen besar berlalu tanpa jejak — entah lewat tendangan jarak jauh, sundulan mematikan, atau eksekusi penalti dingin yang membuat kiper lawan sekadar menebak arah. Di matanya, Bepe adalah mesin gol yang bekerja diam-diam, tapi hasilnya selalu berisik di papan skor.
Kerendahan Hati yang Paling Membekas
Namun bagi Fairuz, gol dan trofi bukanlah hal yang paling membekas. Yang membuatnya terpukau adalah cara Bepe memperlakukan orang-orang di sekitarnya. Ia menyapa ofisial, menenangkan rekan setim dengan bahasa yang santun, dan tak segan ikut mengangkat perlengkapan latihan seperti pemain biasa. “Ia bintang besar, tapi memperlakukan semua orang dengan cara yang sama. Itu yang membuat saya mengingatnya sampai hari ini,” kata Fairuz.
Sikap semacam ini, menurut Fairuz, adalah alasan mengapa nama Bepe tetap dihormati di Malaysia meski kerap menjadi lawan. Di era ketika teknologi seperti VAR mulai mengubah wajah sepak bola dan data mendominasi analisis taktik, nilai-nilai lama seperti kerja keras dan kesederhanaan justru semakin langka. Bepe, bagi Fairuz, adalah bukti bahwa ketenaran tak harus mengubah siapa diri seseorang.
Warisan untuk Generasi U-16
Kini Fairuz membawa pelajaran itu ke bangku kepelatihan timnas Malaysia U-16. Ia ingin para pemain mudanya memahami bahwa bakat tanpa karakter hanya akan melahirkan pemain yang cepat dilupakan. “Sehebat apa pun statistik Anda, jika lupa cara menghormati orang lain, sepak bola tidak akan lama memeluk Anda,” tegasnya.
Dari Selangor ke ruang ganti tim muda Malaysia, kisah Fairuz dan Bepe membuktikan bahwa sepak bola selalu menyimpan ruang untuk cerita lintas rivalitas. Skor akhirnya mungkin tak tercatat di buku statistik, tapi pesannya abadi: pemain hebat dikenang karena golnya, pemain legendaris dikenang karena hatinya.
Comments (0)