PBB Tinggalkan Proyeksi Mercator dan Beralih ke Peta Equal Earth
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) secara resmi mengumumkan langkah strategis untuk menghentikan penggunaan proyeksi peta Mercator dalam dokumen dan represen
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) secara resmi mengumumkan langkah strategis untuk menghentikan penggunaan proyeksi peta Mercator dalam dokumen dan representasi visual resminya. Kebijakan ini diambil menyusul desakan kuat dari negara-negara Afrika yang menuntut representasi visual yang lebih adil dan akurat terhadap ukuran benua mereka di panggung global. Sebagai penggantinya, badan dunia tersebut mulai mengadopsi proyeksi Equal Earth.
Langkah PBB ini menandai pergeseran signifikan dalam diplomasi kartografi. Selama berabad-abad, proyeksi Mercator telah mendominasi ruang kelas, atlas navigasi, hingga aplikasi digital modern, meski kerap dikritik karena mendistorsi ukuran wilayah belahan bumi selatan secara sistematis.
Kronologi Pergeseran Paradigma Kartografi Global
Perubahan ini tidak terjadi dalam semalam, melainkan melalui perdebatan geopolitik dan akademis yang berlangsung selama beberapa dekade:
- Tahun 1569: Geografer Gerardus Mercator menciptakan proyeksi peta untuk membantu navigasi pelayaran. Model ini menjaga bentuk daratan dan sudut arah kompas, namun memperbesar daratan di lintang tinggi seperti Eropa dan Amerika Utara, sembari mengecilkan wilayah khatulistiwa seperti Benua Afrika dan Amerika Selatan.
- Dekade 1970–2000-an: Muncul kritik pascakolonial dari negara-negara berkembang. Kritik tersebut menuduh proyeksi Mercator melanggengkan bias Eurosentris karena membuat daratan Eropa terlihat setara atau lebih besar dari Afrika, padahal luas Afrika secara riil mencapai tiga kali lipat luas Eropa.
- Tahun 2018: Kartografer Bojan Šavrič, Tom Patterson, dan Bernhard Jenny mengembangkan proyeksi Equal Earth. Model ini dirancang khusus untuk mempertahankan proporsi ukuran area daratan yang akurat tanpa mengorbankan estetika bentuk visual bumi.
- Kini: PBB secara resmi menetapkan Equal Earth sebagai standar kartografi baru guna merefleksikan keadilan representasi geografis bagi seluruh anggotanya.
Alasan PBB Memilih Proyeksi Equal Earth
Dalam proyeksi Mercator, pulau Greenland tampak memiliki luas yang setara dengan seluruh Benua Afrika. Secara fakta geografis, luas daratan Afrika mencapai sekitar 30,37 juta kilometer persegi, sedangkan Greenland hanya sekitar 2,16 juta kilometer persegi. Distorsi visual ekstrem inilah yang menjadi dasar protes delegasi Afrika di PBB.
Proyeksi Equal Earth menawarkan solusi jalan tengah dengan keunggulan teknis berikut:
- Akurasi Luas Wilayah (Equal-Area): Menampilkan perbandingan ukuran sebenarnya antarbenua secara proporsional sesuai rasio permukaan bumi.
- Estetika Visual yang Seimbang: Mengurangi distorsi bentuk yang ekstrem seperti yang kerap terjadi pada proyeksi Gall-Peters sebelumnya.
- Representasi Geopolitik Setara: Memberikan pengakuan visual yang proporsional bagi negara-negara berkembang di kawasan khatulistiwa.
Dilema Matematis dan Skeptisisme Pakar Kartografi
Meskipun langkah PBB menuai pujian dari aktivis representasi global, kalangan akademisi kartografi mengingatkan keterbatasan mendasar dari setiap medium peta datar. Pakar kartografi terkemuka, Kevin R. Wittmann, menilai bahwa konsep "kesetaraan kartografis mutlak" merupakan sebuah ilusi matematis.
"Peta tidak merefleksikan realitas sebagaimana mestinya karena mereka memang tidak bisa melakukannya. Kesetaraan kartografis dunia hanyalah angan-angan kosong," tegas Kevin R. Wittmann.
Wittmann menjelaskan bahwa secara hukum geometri, mengubah objek bulat tiga dimensi (elipsoid bumi) menjadi bidang datar dua dimensi selalu menuntut kompromi. Setiap proyeksi peta dipastikan harus mengorbankan salah satu elemen matematis, baik itu bentuk (konformalitas), luas area (ekivalensi), jarak (ekuidistansi), maupun arah (azimut). Pilihan PBB beralih ke Equal Earth adalah pernyataan politis dan kultural, bukan kesempurnaan matematis mutlak.
Comments (0)