Skor akhir 1-0 untuk Argentina atas Prancis di final Piala Dunia 2026 seharusnya menjadi puncak perayaan sepak bola dunia. Namun, momen yang seharusnya diwarnai konfeti dan trofi itu berubah menjadi kericuhan besar di lapangan. Leandro Paredes, gelandang bertahan Argentina, disebut-sebut sebagai pemicu utama insiden yang melibatkan puluhan pemain dan ofisial dari kedua kubu.
Kericuhan terjadi hanya beberapa detik setelah wasit meniup peluit panjang tanda berakhirnya pertandingan. Paredes, yang masuk sebagai pemain pengganti pada menit ke-78 menggantikan Enzo Fernandez, terlihat mendekati area bangku cadangan Prancis. Saksi mata di stadion melaporkan bahwa gelandang berusia 31 tahun itu melakukan selebrasi berlebihan tepat di depan wajah pemain Prancis, yang memicu reaksi spontan dari kubu Les Bleus.
Kronologi Insiden Menit ke-90+5
Menit ke-90+5, tepat setelah gol tunggal yang dicetak oleh penyerang Argentina pada menit ke-67, Paredes berlari ke arah sisi lapangan tempat pemain cadangan Prancis melakukan pemanasan. Rekaman VAR yang diperlihatkan ulang oleh operator stadion menunjukkan Paredes mengangkat tangannya ke arah wajah Aurelien Tchouameni. Tchouameni, yang bermain penuh 90 menit dengan 7 tekel sukses dan penguasaan bola 89 persen, langsung mendorong Paredes.
Dalam hitungan detik, situasi memanas. Bek Prancis William Saliba dan gelandang Argentina Rodrigo De Paul terlibat adu mulut. Ofisial keempat mencoba memisahkan, tetapi kerumunan pemain dari kedua tim sudah saling dorong. Wasit utama, yang sebelumnya hanya mengeluarkan 3 kartu kuning sepanjang pertandingan, langsung mengeluarkan kartu merah kepada Paredes setelah berkonsultasi dengan VAR.
"Saya tidak melihat insiden itu secara langsung, tetapi reaksi para pemain berbicara sendiri," ujar kapten Prancis, Kylian Mbappe, dalam konferensi pers usai pertandingan. "Kami datang untuk bermain sepak bola, bukan untuk terlibat dalam adu fisik. Ini bukan cara mengakhiri final Piala Dunia."
"Leandro adalah pemain yang temperamental, tetapi saya tidak pernah menyangka dia akan memicu kericuhan sebesar ini. Kami sudah memenangkan trofi, seharusnya kami merayakannya dengan kepala dingin." — Lionel Scaloni, pelatih Argentina
Statistik Pertandingan yang Terlupakan
Di tengah kericuhan, fakta bahwa Argentina tampil dominan sepanjang 90 menit nyaris terlupakan. Penguasaan bola Argentina mencapai 58 persen berbanding 42 persen milik Prancis. Argentina melepaskan 14 shots on target, sementara Prancis hanya mencatatkan 5 shots on target. Kiper Argentina, Emiliano Martinez, mencatatkan clean sheet kelimanya di turnamen ini, sebuah rekor baru di era 48 tim.
Formasi 4-3-3 yang diterapkan Scaloni berjalan efektif. Tiga gelandang Argentina — De Paul, Mac Allister, dan Enzo Fernandez — berhasil memutus alur serangan Prancis yang mengandalkan formasi 4-2-3-1. Tchouameni dan Adrien Rabiot kewalahan menghadapi transisi cepat Argentina. Gol tunggal tercipta dari skema serangan balik cepat: tendangan sudut Prancis berhasil dipatahkan, bola panjang ke arah sayap kanan, lalu umpan silang rendah diselesaikan dengan sepakan first-time dari dalam kotak penalti.
Prancis sebenarnya memiliki peluang emas pada menit ke-81 melalui Mbappe, tetapi tendangannya membentur tiang gawang setelah sebelumnya terkena VAR karena posisi offside. Hingga peluit akhir, Prancis tidak mampu menembus pertahanan rapat Argentina yang dikomandoi Cristian Romero.
Dampak dan Sanksi yang Menanti
FIFA dipastikan akan membuka investigasi resmi terhadap insiden ini. Paredes terancam sanksi larangan bermain minimal tiga pertandingan internasional, serta denda untuk federasi Argentina. Kericuhan ini juga mencoreng momen bersejarah karena final Piala Dunia 2026 adalah final pertama yang dihelat di tiga negara — Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko — dengan kehadiran 82.500 penonton di Stadion MetLife, New Jersey.
Paredes sendiri belum memberikan pernyataan resmi. Namun, sumber di dalam tim Argentina menyebutkan bahwa gelandang tersebut menyesali tindakannya. "Dia menangis di ruang ganti, bukan karena kartu merah, tetapi karena merasa telah mengganggu selebrasi rekan-rekannya," ujar sumber tersebut.
Bagi Prancis, kekalahan ini menambah daftar final yang gagal mereka menangkan dalam dua edisi terakhir. Dua tahun lalu di Qatar, mereka kalah adu penalti dari Argentina. Kini, mereka harus pulang dengan tangan kosong lagi. Pelatih Didier Deschamps menyebut timnya "kehilangan fokus di momen krusial" dan menolak mengomentari insiden Paredes secara detail.
Yang jelas, final Piala Dunia 2026 akan dikenang bukan hanya karena trofi keempat Argentina, tetapi juga karena kericuhan yang melibatkan Leandro Paredes. Sebuah catatan hitam di pesta sepak bola dunia yang seharusnya berjalan sportif.
Comments (0)