Mourinho Resmi Tangani Real Madrid, Perburuan La Decima Dimulai

Tidak ada skor akhir di Santiago Bernabeu pada 31 Mei 2010, tetapi apa yang terjadi sore itu terasa seperti kemenangan besar: Jose Mourinho secara resmi menandatangani kontrak empat musim sebagai pela...

Mourinho Resmi Tangani Real Madrid, Perburuan La Decima Dimulai

Tidak ada skor akhir di Santiago Bernabeu pada 31 Mei 2010, tetapi apa yang terjadi sore itu terasa seperti kemenangan besar: Jose Mourinho secara resmi menandatangani kontrak empat musim sebagai pelatih Real Madrid, menggantikan Manuel Pellegrini. Bersama Presiden Florentino Perez, pria Portugal berusia 47 tahun itu memperkenalkan diri dengan senyum yang sama seperti saat mengangkat trofi Liga Champions di stadion yang sama tiga pekan sebelumnya. Los Blancos kini menyerahkan kunci ruang ganti kepada pelatih yang baru saja membawa Inter Milan meraih treble winner pertama dalam sejarah klub Italia itu.

Perez tidak butuh waktu lama meyakinkan publik bahwa ini keputusan yang tepat. Bagi penggemar Madrid yang sudah enam musim frustrasi di Eropa, kedatangan Mourinho terdengar seperti janji yang selama ini ditunggu. Sebab sejak 2004-05, Real Madrid konsisten gugur di babak 16 besar — rekor enam musim beruntun yang memalukan, ditorehkan oleh enam klub berbeda: Juventus, Arsenal, Bayern Munchen, AS Roma, Liverpool, dan terakhir Lyon.

Kutukan Enam Musim di Babak 16 Besar

Statistiknya kejam. Enam musim, enam kali Madrid pulang lebih cepat dari Liga Champions. Gol solo legendaris Thierry Henry di Bernabeu mengantar Arsenal menang pada 2005-06; Bayern Munchen menyingkirkan mereka lewat gol tandang pada 2006-07; Liverpool bahkan menang telak 5-0 secara agregat pada 2008-09; dan terakhir, Lyon menahan Madrid 1-1 di Bernabeu untuk lolos 2-1 pada 2009-10. Di periode yang sama, Barcelona mengangkat trofi Liga Champions dua kali — 2006 dan 2009 — plus dua gelar La Liga beruntun. Sementara trofi kesembilan Madrid di panggung Eropa terakhir diraih pada 2002. Tugas Mourinho sudah terpetakan: memutus kutukan dan mengejar "La Decima".

Rekor Treble Inter yang Meyakinkan Bernabeu

Mourinho datang dengan kredensial yang sulit dibantah. Di Porto, ia menjuarai Liga Champions 2003-04 setelah setahun sebelumnya merebut Piala UEFA. Di Chelsea, dua gelar Premier League beruntun dengan rekor 95 poin pada 2004-05. Dan musim terakhirnya bersama Inter, ia menyapu bersih Serie A, Coppa Italia, dan Liga Champions.

Perjalanan treble Inter itu layak menjadi bahan studi taktik. Di babak 16 besar, Inter membungkam Chelsea dengan clean sheet 1-0 di Stamford Bridge. Di semifinal, mereka menyingkirkan Barcelona yang sedang berkuasa dengan agregat 3-2 — meski di leg kedua di Camp Nou, penguasaan bola pasukan Pep Guardiola menyentuh hampir 80 persen dan Inter bermain dengan 10 pemain setelah Thiago Motta diganjar kartu merah pada menit ke-28. Inter nyaris tidak melepaskan shots on target yang berarti, tetapi tetap lolos. Lalu di final di Bernabeu, Diego Milito memecah kebuntuan dengan tendangan terukur pada menit ke-35 dan menutup pesta lewat penyelesaian dingin memanfaatkan assist Wesley Sneijder pada menit ke-70 — skor akhir 2-0 atas Bayern Munchen.

Di balik ketajaman Milito, ada disiplin kolektif khas Mourinho: pressing terorganisir, transisi cepat, garis pertahanan yang memakai jebakan offside secara disiplin, dan formasi 4-2-3-1 yang bisa berubah menjadi dua blok empat yang sulit ditembus. Ia bukan pelatih yang mengejar permainan indah demi pujian; ia mengejar angka di papan skor. Itulah alasan Perez menunjuknya.

Warisan Galacticos dan Misi Berat di Ruang Ganti

Yang membuat pekerjaan Mourinho berbeda dari tantangan sebelumnya adalah isi ruang ganti Bernabeu: Iker Casillas, Sergio Ramos, Kaka, Xabi Alonso, Gonzalo Higuain, Karim Benzema, dan tentu saja Cristiano Ronaldo. Starting XI itu adalah skuad termahal dunia pada zamannya, dibangun Perez lewat belanja besar-besaran musim panas 2009 — termasuk rekor transfer 94 juta euro untuk Ronaldo.

Tapi statistik La Liga 2009-10 menunjukkan materi mewah tidak otomatis menjadi trofi. Real Madrid finis dengan 96 poin — angka yang biasanya cukup untuk juara — namun tetap menyerahkan mahkota kepada Barcelona dengan 99 poin. Di El Clasico, Madrid dipermalukan 5-0 di Camp Nou dan kalah 0-2 di Bernabeu dengan dua gol Lionel Messi. Messi bahkan bukan nama asing bagi papan skor Bernabeu: ia pernah mencetak hat-trick di stadion ini pada 2007. Kekalahan-kekalahan itulah yang membuat Pellegrini didepak, meski mencatat poin tertinggi kedua dalam sejarah klub saat itu.

Mourinho menjawab keraguan dengan rencana khasnya: tidak meniru Barcelona, melainkan membangun tim yang tahu kapan menguasai bola dan kapan bertahan rapat. "Jangan sebut saya sombong, tapi saya juara Eropa dan saya pikir saya orang yang spesial," begitu ia pernah berujar pada 2004 — dan kini ia datang ke Madrid untuk membuktikan kalimat itu tetap berlaku.

Tentu, tekanannya berbeda total. Di Inter, Mourinho adalah pelatih dengan target realistis; di Bernabeu, ia harus tampil sebagai algojo yang memutus dominasi Barcelona dan mengakhiri paceklik trofi Eropa sejak 2002. Dengan kontrak hingga 2014, ia punya empat musim untuk membuktikan bahwa skor akhir yang ia janjikan — trofi, bukan sekadar permainan indah — benar-benar terwujud. Pertandingan sebenarnya baru dimulai.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
citra-maharani

Reporter HAM. Fokus pada isu hak asasi, kebebasan sipil, dan reformasi hukum.

Comments (0)

User