Mourinho dan Real Madrid: Tiga Musim, 100 Poin, dan Warisan Abadi
Mestalla, 20 April 2011. Menit ke-103 babak perpanjangan waktu, Cristiano Ronaldo melompat di antara dua bek Barcelona dan menyambut assist Angel Di Maria dari sisi kanan. Bola meluncur deras melewati...
Mestalla, 20 April 2011. Menit ke-103 babak perpanjangan waktu, Cristiano Ronaldo melompat di antara dua bek Barcelona dan menyambut assist Angel Di Maria dari sisi kanan. Bola meluncur deras melewati Jose Manuel Pinto. Malam itu Barcelona unggul jauh dalam penguasaan bola — sekitar 70 persen — bahkan melepaskan lebih banyak shots on target sepanjang 120 menit. Namun skor akhir tetap 1-0 untuk Real Madrid, gelar Copa del Rey ke-18 Los Blancos, dan momen itulah yang menjadi fondasi tiga musim Jose Mourinho di Santiago Bernabeu — kisah yang kembali hangat setelah sebuah ilustrasi The Special One berseragam putih beredar luas di media sosial.
Ilustrasi yang dihasilkan kecerdasan buatan itu membangkitkan nostalgia sekaligus rasa penasaran: seberapa besar sebenarnya pengaruh Mourinho bagi Madrid? Jawabannya ada di data. Di balik kontroversi dan aksi teatrikalnya di pinggir lapangan, tersimpan angka-angka yang hingga kini masih tercatat dalam buku rekor La Liga.
Dari Kekalahan 5-0 ke Kemenangan di Camp Nou
Kedatangan Mourinho pada musim panas 2010 bukan tanpa luka. El Clasico pertamanya berakhir telak: Barcelona 5-0 Real Madrid di Camp Nou, 29 November 2010 — kekalahan terbesar Madrid di era modern dan salah satu malam terburuk sang pelatih. Tanpa bantuan VAR, kontroversi demi kontroversi mewarnai duel-duel berikutnya; kartu kuning bahkan kartu merah menjadi pemandangan biasa, termasuk kartu merah Pepe pada semifinal Liga Champions 2011.
Namun dari reruntuhan itulah Mourinho membangun timnya. Sepanjang tiga musim, ia bertemu Barcelona dalam 17 pertandingan resmi di semua kompetisi — La Liga, Copa del Rey, Supercopa, dan Liga Champions. Dari 17 laga itu, kemenangan-kemenangan ikonik lahir: final Copa del Rey 2011, kemenangan 2-1 di Camp Nou pada April 2012, Supercopa de Espana 2012, hingga kemenangan 3-1 di Camp Nou di semifinal Copa del Rey 2013. Malam 21 April 2012 adalah puncaknya: menit ke-73, Ronaldo membungkam Camp Nou lewat gol kemenangan, lengkap dengan gestur calma yang kini abadi. Real Madrid unggul lebih dulu lewat Sami Khedira pada menit ke-17, Lionel Messi menyamakan dari titik putih menit ke-70, sebelum Ronaldo menuntaskan. Starting XI Madrid malam itu tampil tanpa rasa takut — persis cetakan tim asuhan Mourinho.
Musim 100 Poin: Rekor yang Tak Pernah Terkikis
Musim 2011-12 adalah mahakarya. Real Madrid menutup La Liga dengan 100 poin dari 32 kemenangan, 4 hasil imbang, dan hanya 2 kekalahan. Gol yang tercipta mencapai 121 — rekor gol terbanyak dalam satu musim La Liga yang belum terpecahkan hingga kini — dengan hanya 32 kebobolan, kurang dari satu gol per laga. Ronaldo menjadi mesin utama dengan 46 gol, termasuk sederet hat-trick, dikawal Mesut Ozil yang memproduksi assist terbanyak tim dan Di Maria yang menghuni sisi kanan.
Formasi 4-2-3-1 menjadi senjata utama. Xabi Alonso dan Sami Khedira mengisi poros ganda, Ozil di posisi nomor 10, Ronaldo melebar dari kiri, dan Di Maria di kanan. Gaya mainnya kontras dengan tiki-taka: transisi secepat kilat, umpan vertikal, dan serangan yang kerap bermain di batas garis offside lawan. Penguasaan bola rata-rata Madrid kalah dari Barcelona, namun efektivitasnya menakutkan — lawan tak sempat membentuk blok bertahan. Gelar dipastikan dengan kemenangan 3-0 atas Athletic Bilbao di Bernabeu pada awal Mei 2012, mengakhiri puasa gelar liga sejak 2008. Di belakang, Iker Casillas menutup musim dengan deretan clean sheet bersama duet Sergio Ramos dan Pepe.
Tiga Semifinal dan Rasa yang Tertinggal
Namun Liga Champions menjadi kutukan yang tak terselesaikan. Tiga musim, tiga semifinal: 2011 dihentikan Barcelona, 2012 kalah dari Bayern Munich lewat adu penalti meski Ronaldo mencetak dua gol di leg pertama, dan 2013 menyerah dari Borussia Dortmund dengan agregat 4-3. Mimpi La Decima tetap menggantung, dan itulah salah satu alasan terbesar kepergiannya pada 2013 — meski musim terakhirnya sempat menambah trofi Supercopa de Espana 2012 lewat agregat 4-4 yang dimenangkan dengan aturan gol tandang.
Warisan di Balik Ilustrasi
Mourinho meninggalkan Bernabeu dengan tiga trofi: satu La Liga, satu Copa del Rey, dan satu Supercopa. Secara keseluruhan, tiga musimnya melewati 170 pertandingan resmi dengan lebih dari 120 kemenangan — persentase menang di atas 70 persen. Di balik angka, ia menyerahkan warisan yang lebih besar: mentalitas pemenang yang kemudian dipoles Carlo Ancelotti menjadi tim peraih La Decima. "Kami membangun tim untuk mengalahkan tim terbaik dalam sejarah," begitu pesan yang kerap ia ulang soal Barcelona era Pep Guardiola.
Jadi, ketika ilustrasi Mourinho berseragam Real Madrid kembali beredar, jangan lihat itu sekadar gambar nostalgia. Lihatlah angka-angka di belakangnya: 100 poin, 121 gol, gelar demi gelar, dan satu era yang mengubah El Clasico selamanya. Itulah warisan The Special One di ibu kota Spanyol — lengkap dengan rasa penasaran: andai ia bertahan lebih lama, akankah La Decima hadir lebih cepat?
Comments (0)