Mourinho Bawa Real Madrid Menang 3-1 atas Ferencvaros di Budapest
Skor akhir 3-1 untuk Real Madrid. Los Blancos menutup rangkaian pramusim Eropa dengan kemenangan atas Ferencvaros di Budapest, Hungaria, pada 8 Agustus 2026. Namun sorotan malam itu tidak hanya tertuj...
Skor akhir 3-1 untuk Real Madrid. Los Blancos menutup rangkaian pramusim Eropa dengan kemenangan atas Ferencvaros di Budapest, Hungaria, pada 8 Agustus 2026. Namun sorotan malam itu tidak hanya tertuju pada papan skor. Jose Mourinho, pelatih asal Portugal, menjadi pusat perhatian setelah terlihat berkali-kali memanggil pemainnya ke tepi lapangan dan memberi instruksi panjang di sela-sela laga. Bagi publik Madrid, itu adalah pemandangan yang sudah lama dinanti.
Mourinho membawa skema 4-2-3-1 dengan starting XI yang diracik dari kombinasi pemain senior dan beberapa wajah muda akademi. Sementara itu, Ferencvaros, juara bertahan liga Hungaria, tampil berani dengan formasi 4-3-3 dan menolak sekadar bertahan di kandang sendiri. Hasilnya, duel di Budapest berjalan terbuka sejak menit awal.
Babak Pertama: Tekanan Tinggi dan Gol Cepat Madrid
Sejak kick-off, Madrid langsung mengambil inisiatif. Penguasaan bola pada 25 menit pertama tercatat 64 persen, dan pressing tinggi ala Mourinho membuat lini belakang Ferencvaros kesulitan membangun serangan dari bawah. Menit ke-12, tandukan striker Madrid masih membentur mistar gawang setelah menerima umpan silang dari sisi kanan — pertanda bahaya yang tak bisa diabaikan tuan rumah.
Gol pembuka akhirnya datang di menit ke-23. Berawal dari serangan balik cepat, gelandang serang Madrid melepaskan umpan terobosan mendatar yang menembus garis pertahanan Ferencvaros. Penyerang tengah yang berlari bebas dari posisi offside — momen yang sempat diperiksa VAR sebelum disahkan — menyelesaikannya dengan sepakan first-time ke sudut jauh. Skor menjadi 1-0, dan Madrid tidak mengendur.
Menit ke-31, Ferencvaros nyaris menyamakan kedudukan lewat tendangan bebas dari jarak 25 meter. Namun kiper Madrid tampil sigap dengan refleks menepis bola ke tiang gawang. Setelah itu, Madrid kembali menguasai tempo. Menit ke-38, gol kedua lahir dari skema sepak pojok: bek tengah melompat paling tinggi dan menanduk bola masuk. Assist dicatatkan untuk eksekutor corner, dan skor berubah menjadi 2-0. Babak pertama ditutup dengan penguasaan bola Madrid 61 persen dan keunggulan dua gol — hasil yang sepadan dengan dominasi mereka.
Babak Kedua: Kebangkitan Tuan Rumah dan Gol Penutup
Ferencvaros keluar dari ruang ganti dengan wajah berbeda. Pelatih tuan rumah mengganti dua pemain sayap dan menginstruksikan pressing lebih agresif ke lini tengah Madrid. Hasilnya terlihat cepat: penguasaan bola di 15 menit awal babak kedua berpihak kepada tuan rumah, 57 persen. Menit ke-58, tekanan itu membuahkan gol. Ferencvaros memanfaatkan kelengahan bek sayap Madrid lewat serangan dari sisi kiri; umpan silang disambar dengan sundulan keras ke tiang dekat. Skor menjadi 2-1, dan stadion di Budapest tiba-tiba bergemuruh.
Mourinho merespons cepat. Dua pergantian dilakukan pada menit ke-61 — satu gelandang bertahan tambahan dan satu winger baru — untuk mengembalikan keseimbangan. Keputusan itu terbukti tepat. Menit ke-74, Madrid menutup perlawanan tuan rumah dengan gol ketiga: kombinasi satu-dua di tepi kotak penalti berujung tembakan kaki kiri yang melengkung masuk ke pojok atas. Tidak ada yang bisa dilakukan kiper Ferencvaros. Skor akhir 3-1.
Di sisa laga, tuan rumah mencoba mengejar namun dua kali digagalkan posisi offside, sementara satu peluang lain berujung kartu kuning untuk pemain Madrid akibat tekel terlambat di tengah lapangan. Peluit panjang berbunyi dengan skor akhir 3-1. Total, Ferencvaros melepaskan 11 tembakan dengan 4 shots on target, sementara Madrid lebih klinis: 14 tembakan, 7 shots on target, dan tiga gol.
Mourinho, Pekerjaan Rumah, dan Catatan Statistik
Meski menang, Mourinho tidak sepenuhnya puas. Momen di babak kedua, saat timnya kehilangan kendali selama hampir 15 menit, menjadi bahan evaluasi utama.
Kami menang, tapi saya tidak suka cara kami kebobolan. Tim ini harus belajar bahwa setiap menit pertandingan adalah pertandingan,
ujar Mourinho seusai laga, sembari menegaskan bahwa pramusim adalah waktu untuk membangun kebiasaan, bukan sekadar mengumpulkan kemenangan.
Catatan positif: clean sheet gagal diraih karena gol di menit ke-58, namun ada banyak hal yang bisa dibanggakan. Penguasaan bola akhir tercatat 58 persen untuk Madrid, akurasi umpan 89 persen, dan tiga gol yang lahir dari tiga skema berbeda — serangan balik, sepak pojok, dan kombinasi terbuka. Itu sinyal bahwa tim tidak bergantung pada satu pola serangan saja.
Bagi Mourinho, laga di Budapest juga menjadi ajang menguji kedalaman skuad. Ia merotasi lima posisi di starting XI dibanding laga sebelumnya dan memberi menit bermain kepada dua pemain muda. Hasilnya, keduanya mencatatkan kontribusi langsung, satu assist dan satu gol — data yang akan memperkuat posisi mereka dalam perebutan tempat di musim kompetisi.
Dengan skor akhir 3-1 di Budapest, Real Madrid menutup pramusim dengan rekor impresif: empat kemenangan dan satu hasil imbang dalam lima laga, 12 gol dicetak dan hanya 4 kebobolan. Namun pramusim hanyalah pemanasan. Tantangan sesungguhnya menanti saat kompetisi resmi dimulai, dan semua mata akan tertuju pada bagaimana Mourinho menerjemahkan statistik manis ini menjadi trofi. Satu hal yang pasti: ekspektasi di Madrid kembali setinggi langit.
Comments (0)