Oct 13, 2026
Olahraga

Mina Tenun, Program Pemberdayaan Keluarga Pra-Sejahtera ala Pertamina

Balikpapan — Sebuah program pemberdayaan masyarakat berbasis keterampilan tekstil kembali mencuri perhatian. Mina Tenun, inisiatif yang digagas oleh PT Pertamina Patra Niaga melalui Aviation Fuel Te...

Mina Tenun, Program Pemberdayaan Keluarga Pra-Sejahtera ala Pertamina

Balikpapan — Sebuah program pemberdayaan masyarakat berbasis keterampilan tekstil kembali mencuri perhatian. Mina Tenun, inisiatif yang digagas oleh PT Pertamina Patra Niaga melalui Aviation Fuel Terminal (AFT) Balikpapan, menjadi contoh nyata bagaimana korporasi dapat mendorong kemandirian ekonomi keluarga prasejahtera di kawasan pesisir. Program ini menyasar kelompok ibu rumah tangga yang tinggal di sekitar wilayah operasional perusahaan, dengan fokus pada pelatihan menenun dan pengelolaan usaha berbasis kain tradisional.

Latar Belakang dan Tujuan Program

Mina Tenun lahir dari keprihatinan terhadap tingkat pendapatan keluarga nelayan di pesisir Balikpapan yang kerap bergantung pada hasil tangkapan harian. Ketika musim paceklik tiba, penghasilan keluarga menurun drastis. Melalui program ini, Pertamina Patra Niaga AFT Balikpapan berupaya menciptakan sumber penghasilan alternatif yang berkelanjutan. Peserta dilatih mulai dari teknik dasar menenun, pemilihan bahan baku, hingga pemasaran produk. Konsep pemberdayaan yang diusung bukan sekadar bantuan sosial, melainkan pendampingan intensif agar peserta mampu menjalankan usaha secara mandiri.

Program ini juga sejalan dengan target Sustainable Development Goals (SDGs) poin 1 tentang pengentasan kemiskinan dan poin 8 tentang pekerjaan layak serta pertumbuhan ekonomi. Pendekatan yang digunakan mengombinasikan pelatihan teknis, manajemen keuangan sederhana, dan akses pasar. Sejumlah peserta mengaku sebelumnya tidak memiliki keterampilan menenun, namun setelah beberapa bulan pendampingan, mereka mampu memproduksi kain tenun dengan motif khas yang bernilai jual.

Pelatihan dan Pendampingan Intensif

Kegiatan pelatihan dilaksanakan secara berkala di balai warga setempat. Instruktur didatangkan dari perajin tenun berpengalaman, sementara tim tanggung jawab sosial perusahaan (TJSL) Pertamina Patra Niaga berperan sebagai fasilitator. Materi yang diberikan mencakup teknik dasar menyambung benang, membuat motif, hingga finishing produk. Tidak hanya itu, peserta juga dibekali pengetahuan tentang penghitungan harga pokok produksi, strategi pemasaran digital, dan pengelolaan koperasi kelompok.

Menurut sejumlah peserta, antusiasme komunitas cukup tinggi. Puluhan ibu rumah tangga terlibat aktif dalam setiap sesi. Mereka terbagi ke dalam beberapa kelompok berdasarkan jenis produk yang dikembangkan, seperti selendang, kain sarung, dan aksesori fashion. Hasil produk kemudian dipamerkan dalam bazar UMKM binaan Pertamina, bahkan sebagian sudah dipasarkan melalui marketplace. Pendampingan yang berkelanjutan membuat peserta tidak hanya terampil secara teknis, tetapi juga percaya diri memasarkan produknya sendiri.

Dampak Ekonomi dan Sosial bagi Peserta

Meski belum dipaparkan secara rinci besaran peningkatan pendapatan per kapita, indikator keberhasilan program mulai terlihat dari meningkatnya jumlah produk yang terjual setiap bulan. Beberapa peserta mengaku kini memiliki penghasilan tambahan yang dapat membantu memenuhi kebutuhan sekolah anak dan kebutuhan rumah tangga. Selain dampak ekonomi, program ini juga memperkuat ikatan sosial antarwarga. Kelompok tenun menjadi ruang belajar bersama, berbagi pengalaman, dan saling memotivasi.

Dari sisi keberlanjutan, Mina Tenun tidak berhenti pada pelatihan awal. Pertamina Patra Niaga melalui AFT Balikpapan terus memfasilitasi penguatan kelembagaan kelompok, termasuk pendirian badan usaha milik desa atau koperasi. Harapannya, ketika program pendampingan berakhir, komunitas tetap dapat menjalankan roda usaha secara mandiri. Pemerintah daerah setempat menyambut baik inisiatif ini karena sejalan dengan program pengembangan ekonomi lokal.

Tantangan dan Prospek ke Depan

Di balik capaian positif, Mina Tenun menghadapi sejumlah tantangan. Fluktuasi harga bahan baku, persaingan dengan produk tekstil pabrikan, serta keterbatasan akses pasar menjadi pekerjaan rumah bersama. Namun, dengan pendekatan kolaboratif antara perusahaan, pemerintah, dan masyarakat, optimisme tetap terjaga. Ke depan, program ini direncanakan diperluas ke wilayah pesisir lain di Kalimantan Timur, dengan model yang disesuaikan dengan potensi lokal.

Dengan semangat gotong royong dan dukungan berkelanjutan, Mina Tenun bukan sekadar program tanggung jawab sosial. Ia menjelma menjadi gerakan pemberdayaan yang mengangkat harkat keluarga prasejahtera melalui keterampilan warisan budaya. Jika dikelola konsisten, bukan tidak mungkin tenun khas Balikpapan ini menembus pasar nasional dan menjadi identitas baru ekonomi kreatif daerah.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS vina-melati

Data Journalist Hukum. Visualisasi data kejahatan dan analisis tren kriminal.

Comments (0)

User