Oct 13, 2026
Olahraga

Messi Hat-Trick Penalti Tutup Karier Argentina di Buenos Aires

Skor akhir 4-0 untuk Argentina dalam laga persahabatan melawan Benin di Estadio Monumental, Buenos Aires, Rabu (7/10/2026). Malam itu bukan sekadar pertandingan biasa—Lionel Messi menutup perjalanan...

Messi Hat-Trick Penalti Tutup Karier Argentina di Buenos Aires

Skor akhir 4-0 untuk Argentina dalam laga persahabatan melawan Benin di Estadio Monumental, Buenos Aires, Rabu (7/10/2026). Malam itu bukan sekadar pertandingan biasa—Lionel Messi menutup perjalanan panjangnya bersama Tim Tango dengan hat-trick, semuanya lahir dari titik putih. Menit ke-12, menit ke-39, dan menit ke-67, tiga eksekusi penalti yang dieksekusi dengan dingin oleh kapten berusia 39 tahun itu.

Babak Pertama: Dua Penalti, Satu Dominasi

Sejak peluit awal, Argentina tampil dengan formasi 4-3-3 dan penguasaan bola mencapai 68 persen di babak pertama. Benin, yang menurunkan starting XI dengan pendekatan 5-4-1 defensif, nyaris tidak keluar dari sepertiga lapangan sendiri. Menit ke-12, wasit menunjuk titik putih setelah VAR mengonfirmasi handsball bek sayap Benin di dalam kotak terlarang. Messi maju sebagai eksekutor, melepaskan tendangan rendah ke sisi kanan gawang—kiper Benin salah membaca arah. 1-0.

Tanpa gol dari open play, Messi justru membuktikan bahwa set-piece dan penalti tetap menjadi senjata mematikan. Menit ke-23, ia melepaskan umpan terobosan kepada Julian Alvarez, yang sayangnya masih offside. Menit ke-31, tendangan bebas Messi dari jarak 25 meter membentur mistar. Statistik babak pertama mencatat 5 shots on target untuk Argentina, nol untuk Benin.

Menit ke-39, lagi-lagi VAR bekerja. Pelanggaran terhadap Enzo Fernandez di kotak penalti membuat wasit menunjuk titik putih kedua. Messi kembali mengambil tanggung jawab, kali ini mengecoh kiper dengan tembakan ke kiri. 2-0 menutup paruh pertama.

Babak Kedua: Penalti Ketiga dan Standing Ovation

Selepas jeda, pelatih Benin mengubah formasi menjadi 4-2-3-1 untuk menekan lebih tinggi. Hasilnya, penguasaan bola Argentina turun ke 61 persen, tapi jumlah peluang justru meningkat. Menit ke-55, Thiago Almada memaksa kiper Benin melakukan penyelamatan ganda. Menit ke-61, tendangan Lautaro Martinez dari tepi kotak penalti melebar tipis.

Momen puncak datang menit ke-67. Sebuah serangan balik cepat membuat Almada dijatuhkan di dalam kotak. Wasit tanpa ragu menunjuk titik putih untuk ketiga kalinya. Stadion bergemuruh—Messi berdiri di depan bola, menyadari ini eksekusi terakhirnya di hadapan publik Buenos Aires. Ia melepaskan tendangan panenka ke tengah gawang, kiper Benin sudah terlanjur jatuh ke kanan. 3-0, hat-trick penalti sempurna.

Menit ke-78, Messi ditarik keluar dan mendapat standing ovation dari lebih dari 80 ribu penonton yang memadati Monumental. Ia meninggalkan lapangan dengan 3 gol, 2 key passes, dan 89 persen akurasi umpan—statistik yang luar biasa untuk pemain yang sudah menginjak usia 39 tahun.

Analisis Taktik: Mengapa Benin Tak Berkutik

Benin datang dengan rekor clean sheet dalam dua laga terakhir, tapi malam ini mereka dihajar habis-habisan. Formasi 5-4-1 yang mereka gunakan di babak pertama justru membuat Messi punya ruang di antara lini tengah dan pertahanan. Pressing ketat Argentina—tercatat 12 tekel sukses di area tengah—membuat Benin kehilangan bola 23 kali di sepertiga lapangan sendiri.

Di babak kedua, perubahan formasi Benin membuka celah lebih besar. Argentina memanfaatkan transisi cepat dengan Alvarez dan Almada sebagai runner, sementara Messi berperan sebagai false nine yang menarik bek keluar dari posisinya. Tiga penalti memang terlihat seperti keberuntungan, tapi statistik 18 sentuhan di kotak penalti lawan menunjukkan dominasi nyata.

"Dia tidak butuh gol dari open play untuk mendikte pertandingan. Tiga penalti itu adalah hasil dari tekanan konstan yang kami ciptakan," ujar pelatih Argentina dalam konferensi pers usai laga. "Malam ini bukan tentang bagaimana gol tercipta, tapi tentang siapa yang menciptakannya."

Warisan yang Tak Terbantahkan

Messi menutup karier internasionalnya dengan total 112 gol dalam 191 caps—rekor sepanjang masa untuk Timnas Argentina. Malam terakhirnya di Buenos Aires menjadi pengingat bahwa bahkan di usia senja, pemain berjuluk La Pulga ini tetap menjadi pembeda di lapangan. Benin mungkin bukan lawan terberat, tapi cara Argentina bermain—dengan Messi sebagai pusat gravitasi—menunjukkan mengapa mereka masih menjadi salah satu tim yang ditakuti di kancah global.

Laga ini juga menjadi debut tak resmi bagi beberapa pemain muda yang masuk dari bangku cadangan. Menit ke-81, gelandang 20 tahun asal River Plate, Valentin Gomez, mencatat penampilan pertamanya. Ia sempat melepaskan tembakan yang masih bisa ditepis kiper Benin. Di menit injury time, Alvarez akhirnya menutup pesta dengan gol keempat setelah memanfaatkan umpan silang dari sisi kanan. 4-0 untuk Argentina.

Bagi Benin, kekalahan ini menjadi pelajaran berharga. Mereka tercatat hanya melepaskan 2 shots on target dan kalah dalam duel udara 14-6. Meski demikian, kiper mereka tampil cukup baik dengan 6 penyelamatan—termasuk menghalau tendangan bebas Messi di babak pertama.

Malam di Monumental berakhir dengan lapangan yang dipenuhi konfeti dan nyanyian "Muchachos". Messi berjalan mengelilingi lapangan, melambaikan tangan, dan meninggalkan lapangan untuk terakhir kalinya. Sebuah era berakhir, tapi statistik dan momen seperti ini akan terus dikenang—terutama tiga penalti yang mengukir namanya di buku sejarah.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS vina-melati

Data Journalist Hukum. Visualisasi data kejahatan dan analisis tren kriminal.

Comments (0)

User