MilkLife Archery Challenge 2026: 906 Pemanah Muda Bertarung Sengit
Kudus, Jawa Tengah, berubah menjadi kawah candradimuka bagi para pemanah belia tanah air. Selama delapan hari penuh intensitas, Supersoccer Arena tak lagi bergema dengan deru bola, melainkan desing an...
Kudus, Jawa Tengah, berubah menjadi kawah candradimuka bagi para pemanah belia tanah air. Selama delapan hari penuh intensitas, Supersoccer Arena tak lagi bergema dengan deru bola, melainkan desing anak panah yang menghujam target. Gelaran MilkLife Archery Challenge Kejurnas Junior 2026, yang berlangsung 22-29 Juli, menutup tirai dengan lahirnya wajah-wajah baru yang siap meramaikan peta panahan nasional.
Turnamen ini bukan sekadar perebutan medali. Ia adalah etalase masif regenerasi, mempertemukan 906 atlet dari 29 provinsi. Mereka bertarung dalam empat kelompok umur — U10, U13, U15, dan U18 — yang terbagi ke dalam tiga divisi utama: Nasional, Compound, dan Recurve. Dengan format kualifikasi jarak jauh yang dilanjutkan babak eliminasi head-to-head, setiap rilis anak panah seolah membawa beban ekspektasi dari seluruh kontingen.
Lonjakan Peserta dan Format Regenerasi yang Ketat
Angka 906 peserta menjadi rekor baru dalam sejarah penyelenggaraan kejuaraan ini, melampaui edisi sebelumnya yang hanya menyentuh 700-an pemanah. Panitia penyelenggara menyiapkan puluhan bantalan target (target face) berstandar World Archery, lengkap dengan sistem skoring elektronik yang meminimalkan sengketa poin. Untuk divisi Recurve dan Compound, para atlet harus menuntaskan babak kualifikasi 2x36 anak panah, sementara di divisi Nasional, jarak disesuaikan dengan kelompok usia: 10 meter untuk U10 hingga 30 meter bagi U18.
“Kami sengaja mempertahankan divisi Nasional menggunakan busur standar tanpa stabilizer dan sight, agar fondasi teknik dasar tetap kokoh,” jelas salah satu dewan juri. “Sementara Compound dan Recurve sudah mengadopsi aturan internasional penuh, termasuk sistem set dan adu panah emas.”
Persaingan Sengit di Lintasan Compound dan Recurve
Panggung utama tersaji di divisi Compound U18 putra. Final antara Andika Bima (DKI Jakarta) dan Rangga Wirawan (Jawa Timur) berlangsung dalam lima set dramatis. Kedudukan 4-4 memaksa laga berlanjut ke shoot-off. Dengan tekanan luar biasa, Bima melepaskan anak panah yang mendarat di lingkaran X-ring — lebih dekat ke pusat daripada milik Rangga. Skor akhir 5-4 (shoot-off) memastikan emas bagi kontingen ibu kota.
Kejutan datang dari divisi Recurve U15 putri. Ni Luh Gede Putri (Bali), yang sama sekali tidak diunggulkan, berhasil mengandaskan unggulan pertama asal Jawa Tengah di semifinal dengan skor 6-2, lalu mendominasi final dengan straight set 6-0. “Saya hanya fokus pada teknik pernapasan dan ritme rilis. Setiap kali menarik busur, saya bayangkan target itu adalah titik terlemparnya seluruh beban latihan,” ujar Putri, yang mencatatkan rata-rata 28 poin per set di babak puncak.
Dominasi Tuan Rumah dan Kejutan dari Luar Jawa
Jawa Tengah, sebagai tuan rumah, berhasil membukukan tujuh medali emas, terbanyak di antara semua kontingen. Raihan ini didominasi oleh divisi Nasional, di mana pemanah-pemanah muda seperti Dimas Aryo (U10 putra) dan Sekar Arum (U13 putri) tampil nyaris tanpa cela. Namun, dominasi itu tidak merata. Kalimantan Timur mencuri perhatian lewat Reza Fahlevi yang merebut emas Compound U15 putra dengan total skor kualifikasi 697 dari 720 — catatan yang mendekati level senior nasional.
Kontingen Papua juga meninggalkan jejak. Di Recurve U18 putra, Melkianus Wonda menyumbang perak setelah melewati laga sengit melawan pemanah unggulan. Pelatih timnya, Yohanes Rumbiak, mengungkapkan rasa bangganya dalam kutipan singkat:
“Kami datang dengan persiapan terbatas, tapi anak-anak punya daya juang luar biasa. Medali ini menjadi sinyal bahwa panahan di timur Indonesia mulai berbicara.”
Bintang Muda Divisi Nasional dan Prospek Masa Depan
Divisi Nasional kerap dipandang sebagai batu loncatan. Di U10 putri, Aurora Ayudya dari DI Yogyakarta berhasil melakukan clean sweep: skor sempurna di semua seri eliminasi tanpa kehilangan satu set pun. Ia hanya sekali gagal membukukan skor 30 di jarak 10 meter. Mental baja di usia sembilan tahun itu memunculkan keyakinan bahwa jenjang pelatnas bukan sekadar angan.
Secara keseluruhan, panitia mencatatkan lebih dari 2.400 sesi pertandingan yang berlangsung tanpa insiden berarti. VAR sempat digunakan di dua kesempatan untuk meninjau ulang hasil shoot-off yang terlalu tipis, dan keputusan akhir diterima oleh semua pihak. “Transparansi adalah kunci,” tegas Ketua Panitia.
Warisan Turnamen dan Penutup
Dengan 906 pemanah, 29 provinsi, dan tiga divisi berbeda, MilkLife Archery Challenge 2026 telah membuktikan diri sebagai salah satu kejuaraan junior paling komprehensif di Asia Tenggara. Lebih dari sekadar gelar kampiun, turnamen ini memetakan proyeksi atlet untuk PON Remaja dan kejuaraan dunia yunior. Beberapa nama yang bersinar di Kudus dipastikan akan masuk radar pemantauan Pengurus Pusat Perpani.
Kini, arena kembali sunyi. Namun gema desing anak panah yang menghujam target di Supersoccer Arena akan terus terngiang, menjadi pengingat bahwa masa depan panahan Indonesia sedang ditancapkan dengan kokoh — satu rilis, satu poin, satu emas pada satu waktu.
Comments (0)