Messi Tertunduk di Final Piala Dunia 2026, Spanyol Juara
Skor akhir 2-1 untuk kemenangan Spanyol atas Argentina di final Piala Dunia 2026 meninggalkan satu gambar yang akan terus dikenang: Lionel Messi tertunduk sendirian di tengah lapangan MetLife Stadium,...
Skor akhir 2-1 untuk kemenangan Spanyol atas Argentina di final Piala Dunia 2026 meninggalkan satu gambar yang akan terus dikenang: Lionel Messi tertunduk sendirian di tengah lapangan MetLife Stadium, kedua tangan bertumpu pada lutut, tatapannya kosong menembus rumput. Kapten Argentina itu baru saja menyaksikan peluang emas terakhirnya terbuang pada menit ke-118, tendangan bebas dari jarak 22 meter yang melambung tipis di atas mistar gawang Unai Simón. Wasit asal Inggris Michael Oliver meniup peluit panjang tiga menit berselang. La Roja mengamankan gelar Piala Dunia kedua dalam sejarah mereka, sementara La Albiceleste gagal mempertahankan mahkota yang mereka rebut di Qatar empat tahun silam.
Babak Pertama: Dominasi Spanyol dan Gol Pembuka Lamine Yamal
Pelatih Spanyol Luis de la Fuente menurunkan formasi 4-3-3 andalannya dengan starting XI yang memadukan pengalaman dan talenta muda. Pedri, Gavi, dan Rodri mengisi lini tengah, sementara Lamine Yamal yang kini berusia 19 tahun menempati posisi sayap kanan. Di kubu Argentina, Lionel Scaloni merespons dengan skema 4-4-2 fleksibel yang bertransformasi menjadi 3-5-2 saat fase menyerang. Messi didampingi Julián Álvarez di lini depan, dengan Enzo Fernández dan Alexis Mac Allister sebagai motor serangan dari sektor tengah.
Menit ke-7, Spanyol nyaris membuka skor. Yamal melakukan penetrasi dari sisi kanan, melewati Nicolás Tagliafico, lalu melepaskan umpan silang mendatar yang disambut Dani Olmo di kotak enam yard. Emiliano Martínez melakukan penyelamatan gemilang dengan kakinya. Statistik penguasaan bola dalam 15 menit pertama menunjukkan dominasi Spanyol: 64% berbanding 36%, dengan dua shots on target berbanding nihil milik Argentina.
Gol yang dinanti publik akhirnya hadir pada menit ke-31. Berawal dari skema build-up pendek khas Spanyol yang melibatkan 14 umpan beruntun, Rodri mengirimkan bola vertikal kepada Pedri di ruang antara lini pertahanan dan gelandang Argentina. Pedri memutar tubuh dengan satu sentuhan sebelum menusukkan bola kepada Yamal yang telah bergerak diagonal. Penyerang muda Barcelona itu mengecoh Cristian Romero dengan gerakan tipuan ke dalam, lalu melepaskan tembakan melengkung dengan kaki kiri dari luar kotak penalti. Bola bersarang di sudut kanan atas gawang Emiliano Martínez. Gol kelima Yamal sepanjang turnamen, menyamai catatan rekan setimnya di Barcelona yang kini menjadi legenda Argentina di lapangan yang sama.
Babak Kedua: Kebangkitan Argentina dan Gol Penyeimbang Álvarez
Skaloni merespons ketertinggalan dengan memasukkan Alejandro Garnacho menggantikan Nicolás González pada menit ke-56. Pergantian ini mengubah dinamika serangan Argentina. Garnacho memberikan kecepatan dan keberanian menggiring bola yang semula absen di sisi kiri. Menit ke-64, umpan terobosan Messi menemukan Garnacho yang berlari di belakang bek kanan Spanyol, Pedro Porro. Garnacho menusuk ke kotak penalti, mengirim umpan tarik yang sempat diblok Aymeric Laporte, namun bola liar jatuh di kaki Julián Álvarez. Penyerang Manchester City itu melepaskan tembakan first-time dengan kaki kanan yang menembus kerumunan pemain dan meluncur ke pojok kiri bawah gawang Simón. Skor menjadi 1-1, dan momentum pertandingan berbalik.
Enam menit berselang, Argentina hampir membalikkan kedudukan. Tendangan sudut Messi dari sisi kanan melambung akurat ke kepala Lisandro Martínez. Sundulan bek Manchester United itu ditepis spektakuler oleh Simón. Bola rebound mengarah ke Mac Allister yang melepaskan tendangan voli dari jarak 12 meter, namun lagi-lagi Simón menunjukkan refleks luar biasa. Penguasaan bola Argentina selama periode 15 menit setelah gol penyama mencapai 58%, berbanding terbalik dengan babak pertama. Total shots on target Argentina pada babak kedua: 6, dibandingkan 3 milik Spanyol.
Perpanjangan Waktu dan Drama yang Menghancurkan Argentina
Kedua tim memasuki extra time dengan kelelahan yang tampak jelas. Statistik jarak tempuh total pada menit ke-90 mencapai 108 kilometer untuk Spanyol dan 106 kilometer untuk Argentina. Skaloni menempatkan Leandro Paredes untuk menyegarkan lini tengah, sementara De la Fuente memasukkan Martín Zubimendi dan Ferran Torres.
Momen yang menentukan datang pada menit ke-109. Serangan balik cepat Spanyol diawali oleh intersepsi Rodri terhadap umpan Enzo Fernández. Rodri mengalirkan bola kepada Gavi yang berlari di ruang terbuka, lalu meneruskannya ke Ferran Torres yang menusuk dari sayap kiri. Torres mengecoh Nahuel Molina sebelum mengirim umpan silang melengkung ke kotak penalti. Álvaro Morata, yang masuk pada menit ke-98, menyambar bola dengan sundulan keras dari jarak enam meter. Emiliano Martínez tak mampu menjangkau. 2-1 untuk Spanyol. Gol kedelapan Morata di turnamen Piala Dunia sepanjang kariernya, menjadikannya pencetak gol terbanyak aktif di fase final turnamen ini.
Argentina menghabiskan sisa waktu dengan penuh keputusasaan. Messi, yang mencatatkan 102 sentuhan dan 4 tembakan sepanjang laga, mengerahkan seluruh energi yang tersisa. Pada menit ke-118, pelanggaran terhadap Garnacho di depan kotak penalti menghasilkan tendangan bebas. Seluruh stadion menahan napas. Messi mengambil ancang-ancang khasnya—dua langkah mundur, satu langkah ke kiri. Tendangan kaki kirinya melambung melewati pagar betis, melengkung tajam, namun meleset tipis di atas mistar. Bola mengenai jaring atas gawang. Di sanalah gambar Messi tertunduk itu tercipta.
"Kami memberikan segalanya di lapangan. Sepak bola kadang kejam, tapi saya bangga dengan tim ini. Leo sudah memberikan lebih dari yang bisa diminta dari seorang pesepakbola. Ini bukan akhir yang kami impikan, tapi dia akan selalu menjadi yang terhebat," ujar Scaloni dalam konferensi pers pasca-pertandingan.
Statistik akhir pertandingan menceritakan duel yang seimbang namun dengan efisiensi berbeda: penguasaan bola 52%-48% untuk Spanyol, total shots 16-14 untuk Argentina, namun shots on target 7-5 untuk Spanyol. Kartu kuning diberikan kepada Rodri (menit ke-44), Cristian Romero (menit ke-69), dan Gavi (menit ke-102). Tidak ada kartu merah. VAR sempat meninjau gol Morata untuk potensi offside, namun hasil pengecekan mengonfirmasikan bahwa posisi penyerang itu sejajar.
Bagi Spanyol, ini adalah penegasan dominasi satu generasi emas baru. Yamal, Pedri, Gavi, dan Rodri kini memiliki trofi Piala Dunia yang melengkapi koleksi internasional mereka. Bagi Argentina, ini adalah penutup sebuah era. Messi menyelesaikan turnamen dengan 3 gol dan 5 assist dalam 7 pertandingan, namun trofi terpenting melayang tepat di depan matanya. Seluruh Stadion MetLife berdiri memberikan tepuk tangan saat Messi berjalan meninggalkan lapangan untuk terakhir kalinya di panggung Piala Dunia. Matanya masih basah, tapi kepalanya kini terangkat sedikit lebih tinggi.
Comments (0)