Messi Menunjuk Cucurella: Drama Final Piala Dunia 2026

Menit ke-74 laga final Piala Dunia 2026 di Stadion New York/New Jersey, East Rutherford, berubah menjadi teater paling panas dalam sejarah turnamen. Lionel Messi, penyerang Argentina bernomor punggung...

Aug 24, 2026 - 09:01
0 0
Messi Menunjuk Cucurella: Drama Final Piala Dunia 2026

Menit ke-74 laga final Piala Dunia 2026 di Stadion New York/New Jersey, East Rutherford, berubah menjadi teater paling panas dalam sejarah turnamen. Lionel Messi, penyerang Argentina bernomor punggung 10, berdiri berhadapan langsung dengan bek kiri Spanyol bernomor punggung 24, Marc Cucurella, sambil menunjuk lengan sang bek. Di sisi lain, gelandang Argentina bernomor punggung 24, Enzo Fernandez, berdebat sengit dengan pengadil asal Slovenia, Slavko Vincic, yang tengah menunggu hasil pemeriksaan VAR. Malam 20 Juli 2026 itu, skor akhir 2-1 untuk Argentina dan satu keputusan kontroversial yang bakal diperbincangkan bertahun-tahun.

Babak Pertama: Dominasi Spanyol, Efisiensi Argentina

Kedua pelatih nyaris tidak mengubah starting XI dari semifinal. Luis de la Fuente memasang formasi 4-3-3 dengan trio lini depan Lamine Yamal, Alvaro Morata, dan Nico Williams. Sementara Lionel Scaloni menjawab dengan 4-4-2 diamond, menempatkan Messi sebagai false nine di belakang duet Julian Alvarez dan Lautaro Martinez. Hasilnya duel gaya klasik: Spanyol menggenggam bola, Argentina menunggu ruang.

Penguasaan bola babak pertama tercatat 61 persen untuk Spanyol berbanding 39 persen. La Roja membangun serangan lewat Pedri dan Fabian Ruiz di lini tengah, melahirkan 7 percobaan dengan 3 shots on target. Namun Argentina hanya butuh satu momen untuk menghukum. Menit ke-34, Messi menerima bola di setengah lapangan, melepas umpan terobosan terukur ke sisi kiri kotak penalti, dan Julian Alvarez menuntaskannya dengan tembakan first-time ke pojok kiri bawah gawang Unai Simon. Gol semata wayang babak pertama itu lahir dari assist ke-9 Messi di turnamen ini. Argentina memimpin 1-0.

Babak Kedua: Yamal Membalas, VAR Mengubah Segalanya

Spanyol keluar dari ruang ganti dengan tempo lebih tinggi. Menit ke-58, kombinasi satu-dua Pedri dan Yamal di sisi kanan berbuah gol penyama. Yamal menusuk dari sayap, memotong ke dalam, lalu melepaskan tembakan melengkung yang tak mampu dijangkau Emiliano Martinez. Skor imbang 1-1. Gol itu membuktikan mengapa pemain berusia 19 tahun tersebut menjadi top skor tim dengan 6 gol di Piala Dunia ini.

Spanyol nyaris membalikkan keadaan pada menit ke-67 ketika Nico Williams menjebol gawang Martinez. Namun asisten wasit mengangkat bendera lebih dulu: offside. VAR mengonfirmasi posisi Morata yang menghalangi pandangan kiper. Gol dianulir, dan ketegangan di tribun New York/New Jersey memuncak.

Puncak drama datang pada menit ke-74. Saat bertahan menghadapi sepak pojok, Cucurella berusaha memblok tembakan Enzo Fernandez, tetapi bola membentur lengannya yang sedikit terbuka. Vincic awalnya memberi isyarat lanjut, lalu jeda panjang terjadi setelah VAR memanggil sang pengadil ke monitor. Di tengah kerumunan, Messi menghampiri Cucurella dan menunjuk lengannya, sementara Enzo Fernandez memprotes dengan penuh semangat. Dua menit kemudian Vincic mengambil keputusan final: penalti untuk Argentina. Messi yang maju sebagai eksekutor tidak tergesa-gesa. Tendangan kaki kirinya mengecoh Unai Simon. 2-1.

Analisis Statistik dan Penampilan Kunci

Sepanjang 90 menit plus waktu tambahan, statistik akhir mencatat Spanyol unggul penguasaan bola 58-42 persen dan melepaskan 14 tembakan dengan 4 shots on target. Argentina lebih efisien: 11 percobaan, 6 shots on target. Kartu kuning keluar tiga kali: Cucurella (67), Rodri (82) untuk Spanyol, serta Rodrigo De Paul (79) untuk Argentina, sementara tidak ada kartu merah sepanjang laga. Tidak ada hat-trick dalam pertandingan ini, tetapi kontribusi Messi satu gol dan satu assist menjadikannya pemain dengan keterlibatan gol terbanyak di turnamen.

Kartu kuning Cucurella bukan satu-satunya luka Spanyol. Menit ke-88, Emiliano Martinez menggagalkan sundulan Laporte dari jarak dekat, penyelamatan yang menjaga keunggulan Argentina. Di sisi lain, Messi nyaris mencetak gol keduanya lewat tendangan bebas pada menit ke-90+3, namun bola menghantam tiang. Deja vu dari final 2014, kali ini dengan akhir berbeda: Argentina menang dan mengunci gelar ketiga mereka setelah 1978 dan 1986.

Reaksi Pelatih dan Kata Penutup

"Tim ini lahir untuk momen seperti ini. Kami tahu Spanyol akan menguasai bola, tetapi kami punya Messi dan keberanian untuk menunggu," ujar Scaloni usai laga.
"Satu keputusan mengubah segalanya. Kami bermain lebih baik hampir sepanjang laga, tetapi sepak bola terkadang kejam," kata De la Fuente.

Malam itu di East Rutherford, seorang pemain berusia 39 tahun menunjuk lengan lawannya dan mengubah sejarah. Bagi Spanyol, clean sheet di final kembali menjadi mimpi yang tertunda. Bagi Argentina, trofi keenam mereka di semua ajang sejak 2022 membuktikan bahwa La Albiceleste bukan sekadar juara bertahan, melainkan sebuah dinasti.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
fajar-ramadhan

Editor Hukum. Alumni FH UI. Meliput pengadilan, MA, dan judicial review.

Comments (0)

User