Paredes biang keladi kericuhan usai final Piala Dunia 2026

Skor akhir 2-1 untuk kemenangan Argentina atas Brasil di final Piala Dunia 2026 yang digelar di MetLife Stadium, New Jersey, Amerika Serikat. Akan tetapi, momen yang paling ramai diperbincangkan bukan...

Paredes biang keladi kericuhan usai final Piala Dunia 2026

Skor akhir 2-1 untuk kemenangan Argentina atas Brasil di final Piala Dunia 2026 yang digelar di MetLife Stadium, New Jersey, Amerika Serikat. Akan tetapi, momen yang paling ramai diperbincangkan bukanlah gol penentu di menit ke-104, melainkan kericuhan massal yang meletus setelah peluit panjang berbunyi — dan nama Leandro Paredes menjadi biang keladinya. Gelandang berusia 32 tahun itu memicu adu dorong yang melibatkan lebih dari 20 pemain dan ofisial, hingga wasit harus mengeluarkan kartu merah langsung setelah laga usai, pemandangan yang nyaris tak pernah terjadi dalam partai puncak Piala Dunia.

Babak pertama: duel taktik tanpa gol

Kedua tim menurunkan starting XI terbaiknya. Argentina tampil dengan formasi 4-3-3, sementara Brasil menjawab lewat formasi 4-2-3-1 yang mengandalkan kecepatan sayap. Sepanjang 45 menit pertama, laga berjalan sengit dengan penguasaan bola Argentina unggul tipis 55 persen berbanding 45 persen. Keunggulan itu tidak serta-merta berbuah gol: dari tujuh percobaan, Argentina hanya mencatat dua shots on target, sedangkan Brasil melepaskan lima tembakan dengan tiga mengarah ke gawang. Dua kartu kuning sempat dikeluarkan untuk gelandang kedua tim akibat tekel keras, sinyal bahwa tensi sudah tinggi sejak menit-menit awal.

Babak kedua hingga perpanjangan waktu: gol demi gol

Kebuntuan pecah di menit ke-51 ketika Brasil membuka skor lewat sundulan yang menukik ke pojok gawang, hasil assist dari umpan silang sayap kanan. Argentina merespons cepat: di menit ke-67, sebuah umpan terukur menjadi assist bagi gol penyeimbang yang membuat tribun tim biru-putih bergemuruh. Tensi naik lagi di menit ke-78 saat gol kedua Argentina dianulir oleh VAR setelah tayangan ulang memperlihatkan posisi offside lebih dulu pada fase awal serangan. Wasit juga sempat menahan kartu kuning kedua untuk bek Brasil usai pelanggaran di tepi kotak penalti, tetapi keputusan berubah menjadi peringatan lisan setelah intervensi asisten.

Skor 1-1 bertahan hingga 90 menit, memaksa laga berlanjut ke perpanjangan waktu. Clean sheet gagal tercipta untuk kedua kiper yang sama-sama tampil gemilang dengan total delapan penyelamatan. Di menit ke-104, Argentina akhirnya memastikan gelar lewat penyelesaian satu lawan satu yang dingin setelah memanfaatkan celah di lini belakang Brasil yang mulai kelelahan. Tidak ada catatan hat-trick di laga ini, tetapi gol penentu itu cukup untuk mengukir sejarah baru bagi tim asuhan pelatih asal Amerika Selatan tersebut.

Kericuhan pasca-final: Paredes jadi biang keladi

Begitu peluit panjang berbunyi, para pemain Argentina mulai merayakan gelar di tengah lapangan. Namun suasana berubah drastis dalam hitungan detik. Paredes, yang baru masuk sebagai pemain pengganti di menit ke-91 untuk memperkokoh lini tengah, tiba-tiba berjalan ke arah bangku cadangan Brasil dan melakukan gestur provokatif kepada para pemain lawan. Aksi itu langsung dibalas, dan dalam sekejap kericuhan melibatkan puluhan pemain dari kedua tim, termasuk staf pelatih yang ikut turun ke lapangan. Wasit dan ofisial pertandingan berusaha memisahkan, sementara petugas keamanan turun tangan untuk meredam amuk di tengah lapangan.

Catatan disiplin menjadi bukti betapa panasnya malam itu: total lima kartu kuning dan satu kartu merah dikeluarkan sepanjang laga, dengan kartu merah terakhir diberikan kepada Paredes setelah pertandingan usai. Rekaman televisi memperlihatkan seorang pemain Brasil terkena dorongan keras, sementara sejumlah pemain cadangan harus ditahan oleh ofisial agar tidak ikut terlibat. Insiden ini menodai apa yang seharusnya menjadi pesta sepak bola dunia, dan semua mata kini tertuju pada laporan wasit yang akan diserahkan kepada Komite Disiplin FIFA.

Reaksi pelatih dan ancaman sanksi

Pelatih Argentina enggan membela ulah anak asuhnya.

"Kemenangan ini seharusnya murni milik kami, tetapi insiden di akhir laga jelas tidak bisa diterima. Saya sudah berbicara dengan Paredes, dan kami akan menerima konsekuensinya," ujarnya dalam konferensi pers usai laga.
Di sisi lain, pelatih Brasil menegaskan bahwa timnya tidak akan menuntut balik, tetapi berharap FIFA mengambil tindakan tegas agar kejadian serupa tidak terulang.

Paredes kini menghadapi ancaman hukuman berat, mulai dari larangan bermain beberapa pertandingan hingga denda dalam jumlah besar. Dengan skor akhir 2-1, Argentina sah menjadi juara dunia, tetapi jejak kericuhan itu diperkirakan akan menghiasi pemberitaan selama berminggu-minggu. Pertanyaannya kini sederhana: akankah gelar itu tetap dikenang sebagai sejarah, atau justru dibayangi oleh ulah biang keladi di lapangan?

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
reza-pahlevi

Reporter Pengadilan. Meliput kasus-kasus landmark di PN, PT, dan MA.

Comments (0)

User