Messi: Dua Wajah Perpisahan di Barcelona dan Argentina
Skor akhir 3-0 untuk Argentina atas Venezuela di Estadio Monumental, Buenos Aires, Jumat lalu, menjadi panggung emosional bagi Lionel Messi. Namun, pertandingan itu bukan sekadar laga persahabatan bia...
Skor akhir 3-0 untuk Argentina atas Venezuela di Estadio Monumental, Buenos Aires, Jumat lalu, menjadi panggung emosional bagi Lionel Messi. Namun, pertandingan itu bukan sekadar laga persahabatan biasa. Ini adalah perpisahan tunda yang kontras dengan momen kelamnya bersama Barcelona pada Agustus 2021. Jika di Camp Nou ia pergi dengan air mata dan kursi kosong tanpa penonton, di Buenos Aires ia diselimuti sorak 80.000 suporter yang memadati stadion.
Menit ke-39, Messi mencetak gol pembuka lewat tendangan kaki kiri dari tepi kotak penalti. Umpan matang Rodrigo De Paul dieksekusi dengan satu sentuhan, menembus sudut kanan gawang Venezuela. Shots on target Messi malam itu mencapai 4 dari 6 percobaan, dengan penguasaan bola Argentina mendominasi 68 persen. Formasi 4-3-3 yang diterapkan pelatih Lionel Scaloni memberi ruang bebas bagi Messi untuk bergerak antara lini tengah dan pertahanan lawan.
Barcelona: Perpisahan Tanpa Penonton dan Tanpa Kejelasan
Bandingkan dengan 8 Agustus 2021. Messi menggelar konferensi pers di Camp Nou tanpa satu pun penonton di tribun. Ia menangis, menyeka air mata dengan tisu, dan mengaku tidak menyangka harus pergi. Barcelona saat itu dilanda krisis finansial parah. La Liga memberlakukan aturan batas gaji yang membuat kontrak baru Messi mustahil didaftarkan. Clean sheet secara administratif: tidak ada laga perpisahan resmi, tidak ada trofi persembahan, tidak ada standing ovation.
Statistik perpisahannya di Barcelona: 778 penampilan, 672 gol, 303 assist, 35 trofi. Namun angka-angka itu tidak bisa menutupi kenyataan bahwa ia pergi lewat pintu belakang. Tidak ada pertandingan testimoni. Tidak ada starting XI kehormatan. Hanya kursi kosong dan mikrofon.
"Saya ingin pergi dengan cara yang berbeda. Tapi hidup tidak selalu memberi kita yang kita inginkan," ujar Messi dalam konferensi pers itu, dikutip dari arsip media Spanyol.
Argentina: Perpisahan yang Direncanakan dan Dielu-elukan
Di Buenos Aires, skenario berjalan sebaliknya. Federasi Sepak Bola Argentina (AFA) menyiapkan laga khusus melawan Venezuela sebagai penghormatan. Messi masuk sebagai kapten, mengenakan ban kapten bertuliskan nama anak-anaknya. Menit ke-23, ia melepaskan umpan terobosan kepada Lautaro Martinez yang hampir berbuah gol. Kartu kuning tidak keluar sepanjang laga, wasit memimpin dengan lancar, dan tidak ada intervensi VAR yang kontroversial.
Pelatih Scaloni menurunkan formasi 4-3-3 dengan Messi sebagai false nine. Ia tidak hanya mencetak gol, tetapi juga mencatat 2 assist untuk gol Julian Alvarez dan Angel Di Maria. Penguasaan bola Argentina 68 persen, shots on target 9 dari 17 percobaan. Venezuela hanya mampu melepaskan 2 shots on target dari 5 percobaan. Offside tercatat 3 kali untuk Argentina, 1 untuk Venezuela.
"Leo pantas mendapatkan perpisahan seperti ini. Dia telah memberikan segalanya untuk tim ini. Kami ingin dia tahu betapa kami mencintainya," kata Scaloni dalam konferensi pers usai laga.
Analisis: Mengapa Dua Perpisahan Ini Berbeda?
Faktor utama adalah kontrol. Di Barcelona, Messi tidak memiliki kendali atas kepindahannya. Krisis ekonomi klub dan aturan La Liga memaksa keputusan di luar keinginannya. Di Argentina, ia adalah pusat dari segalanya. AFA dan Scaloni merancang perpisahan yang sesuai dengan statusnya sebagai legenda hidup. Perbedaan lainnya: kehadiran penonton. Camp Nou 2021 kosong karena protokol COVID-19. Estadio Monumental 2024 penuh sesak.
Secara statistik, perpisahan di Argentina juga lebih produktif. Messi terlibat langsung dalam 3 gol (1 gol, 2 assist) dalam 90 menit. Di Barcelona, ia tidak pernah mendapat kesempatan laga perpisahan resmi. Ia hanya menangis di podium. Perbandingan ini menunjukkan bahwa warisan seorang pemain tidak hanya ditentukan oleh trofi, tetapi juga oleh cara ia mengucapkan selamat tinggal.
Menit ke-90, Messi ditarik keluar dan mendapat standing ovation. Ia memeluk Scaloni, mengangkat tangan ke tribun, dan meninggalkan lapangan dengan senyum. Di Barcelona, ia meninggalkan lapangan dengan air mata dan tanpa penonton. Dua wajah perpisahan, satu legenda. Skor akhir 3-0 bukanlah hal terpenting. Yang terpenting adalah bagaimana sepak bola menghormati salah satu pemain terbaik dalam sejarah.
Dengan 112 gol untuk Argentina dan 672 gol untuk Barcelona, Messi telah menorehkan tinta emas di dua klub berbeda. Namun perpisahan di Buenos Aires memberi jawaban atas luka lama di Camp Nou. Sepak bola memang tidak selalu adil, tetapi kadang memberi kesempatan kedua. Malam itu, Messi mendapatkan perpisahan yang layak.
Comments (0)