Messi dan Argentina Gagal di Final Piala Dunia 2026

Skor akhir 2-1 untuk Spanyol di Stadion MetLife, New Jersey, pada final Piala Dunia 2026 menjadi saksi bisu kegagalan Lionel Messi mengangkat trofi ketiga secara beruntun. Menit ke-12, Lamine Yamal me...

Aug 07, 2026 - 17:05
0 0
Messi dan Argentina Gagal di Final Piala Dunia 2026

Skor akhir 2-1 untuk Spanyol di Stadion MetLife, New Jersey, pada final Piala Dunia 2026 menjadi saksi bisu kegagalan Lionel Messi mengangkat trofi ketiga secara beruntun. Menit ke-12, Lamine Yamal membuka keunggulan lewat tendangan bebas melengkung yang tak mampu dijangkau Emiliano Martínez. Namun, Argentina membalas cepat melalui Julian Alvarez pada menit ke-28 memanfaatkan assist brilian dari Messi. Babak pertama ditutup dengan skor 1-1, penguasaan bola Spanyol 58% berbanding 42% untuk Argentina, dan shots on target masing-masing 4 berbanding 3.

Babak Pertama: Pertarungan Taktik ala De La Fuente vs Scaloni

Spanyol tampil dengan formasi 4-3-3 yang menekankan penguasaan bola, sementara Argentina memilih 4-4-2 yang lebih pragmatis. Menit ke-23, Pedri hampir saja menggandakan keunggulan setelah menerima umpang terobosan dari Rodri, namun tendangan kakinya masih melambung tipis di atas mistar. Argentina justru lebih efektif lewat serangan balik cepat. Menit ke-28, Messi yang beroperasi di sisi kanan melihat pergerakan Alvarez, melepaskan umpan terobosan presisi, dan Alvarez menuntaskannya dengan tendangan first-time ke pojok kiri bawah gawang Unai Simón. Statistik menit ke-40 menunjukkan Argentina melakukan 12 pelanggaran untuk memutus ritme Spanyol, berbuah dua kartu kuning untuk Nicolas Otamendi dan Rodrigo De Paul.

Babak Kedua: Kejayaan Yamal dan Kegagalan Penalti Messi

Memasuki babak kedua, Spanyol meningkatkan intensitas tekanan. Menit ke-58, Yamal kembali menjadi mimpi buruk lini belakang Argentina. Ia menerima bola di sisi kanan, melakukan cut inside melewati Nahuel Molina, lalu melepaskan tembakan kaki kiri yang menghujam sudut atas gawang Martínez. Skor menjadi 2-1, dan Argentina dipaksa keluar dari zona nyaman. Scaloni merespons dengan memasukkan Lautaro Martinez dan Angel Di Maria pada menit ke-63, mengubah formasi menjadi 3-5-2. Menit ke-78, Argentina mendapat hadiah penalti setelah VAR memutuskan Aymeric Laporte melanggar Di Maria di kotak terlarang. Messi yang menjadi eksekutor, namun tendangannya berhasil ditebak Unai Simón yang melompat ke arah kiri. Itu adalah penalti kedua Messi yang gagal di Piala Dunia setelah final 2022 melawan Prancis. Hingga menit ke-90+5, Argentina terus menekan dengan penguasaan bola mencapai 55% di babak kedua, tetapi hanya menghasilkan satu shots on target tambahan. Spanyol bertahan dengan disiplin, memanfaatkan offside trap yang sukses menggagalkan tiga peluang Argentina di menit-menit akhir.

Messi: Dari Air Mata ke Warisan Abadi

Usai peluit panjang, Messi tertunduk lama di tengah lapangan. Statistik final menunjukkan ia mencatatkan 8 percobaan dribel sukses, 5 umpan kunci, dan 1 assist, tetapi gagal mencetak gol dari 4 tembakan yang ia lepaskan. Pelatih Argentina, Lionel Scaloni, dalam konferensi pers mengatakan, "Kami bangga dengan perjuangan tim, tetapi sepak bola kadang kejam. Messi telah memberikan segalanya, dan kami semua berdiri di belakangnya." Sementara itu, pelatih Spanyol, Luis de la Fuente, memuji Yamal yang dinobatkan sebagai pemain terbaik final dengan rating 9.2 dari 10. "Yamal adalah generasi baru yang luar biasa. Ia mampu menentukan laga sebesar ini di usia 19 tahun," ujarnya. Kekalahan ini membuat Messi gagal menyamai rekor 3 gelar Piala Dunia yang dipegang oleh Pele. Namun, dengan 2 gelar, 1 trofi Copa America, dan 8 Ballon d'Or, warisannya tetap tak terbantahkan. Pertandingan ini juga mencatat rekor penonton 82.500 orang di stadion, dengan total 27 tembakan (14 untuk Spanyol, 13 untuk Argentina), 6 kartu kuning, dan 1 keputusan VAR yang mengubah jalannya laga.

Bagi Argentina, ini adalah kekalahan final ketiga dalam lima edisi terakhir, namun bagi Messi yang kini berusia 39 tahun, ini hampir pasti menjadi pertandingan terakhirnya di Piala Dunia. Ia meninggalkan lapangan dengan tepuk tangan meriah dari pendukung Spanyol sekalipun, sebuah penghormatan untuk salah satu pemain terhebat sepanjang masa. Dengan clean sheet yang gagal dipertahankan, Argentina harus puas dengan status runner-up, sementara Spanyol merayakan gelar keempat mereka setelah 2010, 2012, dan 2024 (Liga Negara).

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
reza-pahlevi

Reporter Pengadilan. Meliput kasus-kasus landmark di PN, PT, dan MA.

Comments (0)

User