Memahami Trauma Bonding: Alasan Ilmiah di Balik Sulitnya Melepaskan Diri dari Hubungan Toksik

Jul 06, 2026 - 03:22
0 1
Memahami Trauma Bonding: Alasan Ilmiah di Balik Sulitnya Melepaskan Diri dari Hubungan Toksik

Beritainti.com, Fenomena seseorang yang terus bertahan dalam hubungan yang penuh kekerasan dan manipulasi seringkali memicu kebingungan dari lingkungan sekitar. Banyak pihak mempertanyakan mengapa korban tidak sekadar pergi meninggalkan pasangannya jika sudah jelas disakiti, baik secara fisik maupun emosional. Pertanyaan sederhana ini ternyata memiliki jawaban yang kompleks dari sudut pandang psikiatri.

Menurut laporan terbaru, seorang spesialis kejiwaan, dr Erickson Arthur S, SpKJ, menjelaskan bahwa kondisi psikologis yang menjadi "rantai tak terlihat" dalam situasi ini dikenal dengan istilah trauma bonding. Ikatan traumatis inilah yang membuat korban merasa sangat sulit, bahkan nyaris mustahil, untuk memutus siklus kekerasan yang mereka alami. Dokter Erickson menguraikan bahwa trauma bonding bukanlah kondisi yang terjadi secara tiba, melainkan terbentuk melalui pola siklus berulang yang memperkuat ketergantungan emosional korban terhadap pelaku.

Dinamika Siklus yang Memperkuat Ikatan

Dalam penjelasannya, dr Erickson memaparkan bahwa siklus trauma bonding dimulai dengan fase kekerasan yang tidak bisa dihindari. Kekerasan ini dapat mengambil berbagai bentuk, mulai dari kekerasan fisik, verbal, hingga pelecehan seksual. "Yang pertama jelas ada kekerasan. Kekerasan yang terjadi bisa fisik, verbal, atau seksual. Memang itu pasti tidak nyaman," ungkapnya. Fase ini menempatkan korban pada posisi paling rendah dan menyakitkan, memicu respons stres akut yang melumpuhkan.

Namun, berhenti di titik inilah yang menjadi kesalahan persepsi banyak orang. Trauma bonding justru terbentuk karena fase kekerasan tidak berlangsung secara permanen. Pelaku biasanya akan segera memasuki fase kontras berikutnya yang seringkali mengecoh dan membingungkan korban. Setelah ledakan emosi atau tindakan kekerasan, pelaku mendadak berubah menjadi sangat penuh penyesalan. Mereka akan meminta maaf secara intens, menunjukkan kasih sayang yang berlebihan, memberikan hadiah, atau membuat janji muluk bahwa kesalahan tidak akan pernah terulang. Fase "bulan madu" atau rekonsiliasi ini menciptakan secercah harapan palsu yang sangat kuat bagi korban.

Harapan Semu dan Siklus yang Berulang

Janji dan permintaan maaf yang tampak tulus dari pelaku justru menjadi fondasi paling kokoh bagi terbentuknya trauma bonding. Korban, yang sedang berada dalam titik rentan setelah menerima perlakuan buruk, akan menggenggam erat momen penyesalan ini sebagai bukti bahwa pasangannya masih memiliki sisi baik dan mencintainya. Siklus dari kekerasan menuju rekonsiliasi yang lambat laun menciptakan ketergantungan biokimia di otak, serupa dengan mekanisme kecanduan. Otak korban akhirnya terprogram untuk terus mencari "hadiah" berupa fase baik dari hubungan tersebut, meskipun harus menanggung rasa sakit yang jauh lebih besar terlebih dahulu.

Proses inilah yang menjelaskan mengapa meninggalkan hubungan toksik bukan sekadar soal kemauan atau logika. Korban terjebak dalam pusaran harapan semu yang secara biologis dan psikologis sangat kompleks. Pemahaman mendalam mengenai dinamika trauma bonding ini menjadi krusial, tidak hanya bagi para ahli, tetapi juga bagi masyarakat luas agar bisa memberikan dukungan yang tepat tanpa menyalahkan atau menyederhanakan pergulatan batin yang dihadapi oleh para korban.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User