Martinez Pahlawan Adu Penalti, Argentina Juara Piala Dunia 2026

EAST RUTHERFORD — Emiliano Martínez kembali menulis namanya dengan tinta emas di lembaran sejarah sepak bola dunia. Pada final Piala Dunia 2026 yang digelar di MetLife Stadium, East Rutherford, New...

Martinez Pahlawan Adu Penalti, Argentina Juara Piala Dunia 2026

EAST RUTHERFORD — Emiliano Martínez kembali menulis namanya dengan tinta emas di lembaran sejarah sepak bola dunia. Pada final Piala Dunia 2026 yang digelar di MetLife Stadium, East Rutherford, New Jersey, Senin (20/7/2026) waktu setempat, Argentina mengalahkan Spanyol dengan skor akhir 4-2 lewat adu penalti setelah kedua tim bermain imbang 1-1 selama 120 menit. Dua penyelamatan penalti krusial dari kiper berjuluk "Dibu" itu menjadi pembeda di laga yang diputuskan dari titik putih.

Duel dua raksasa sepak bola ini berjalan sengit sejak peluit pertama dibunyikan wasit. Penguasaan bola menjadi milik Spanyol dengan catatan 58 persen, tetapi Argentina tampil lebih efisien dengan shots on target 7 berbanding 5. Argentina turun dengan formasi 4-3-3, sementara Spanyol memilih 4-2-3-1 dengan Lamine Yamal sebagai motor serangan sayap kanan. Sepanjang 90 menit pertama, kedua tim saling meniadakan lewat pressing tinggi yang membuat lini tengah menjadi medan perang sesungguhnya.

Babak Pertama: Gol Cepat Messi dan Pertahanan Bertingkat Argentina

Menit ke-23, Lionel Messi melepaskan tendangan first-time dari tepi kotak penalti menyusul umpan terobosan Rodrigo De Paul, yang tercatat sebagai assist tunggal Argentina malam itu. Gol itu lahir dari transisi kilat setelah Spanyol kehilangan bola di lini tengah — pola yang persis diantisipasi Lionel Scaloni sejak sesi taktik. Tembakan Messi yang melengkung ke tiang jauh membuat Unai Simón hanya bisa mematung. Skor 1-0 bertahan hingga turun minum.

Babak pertama menjadi milik Argentina secara taktis. Lini belakang yang disiplin memaksa Spanyol bermain lebar, dan pressing terorganisir membuat Rodri kesulitan mengatur ritme. Satu-satunya peluang emas Spanyol datang pada menit ke-39 ketika Nico Williams lolos dari jebakan offside, tetapi tembakannya masih bisa diblok oleh Emiliano Martínez — penyelamatan pertama dari total lima save yang ia catatkan malam itu.

Babak Kedua: Dominasi Spanyol dan Gol Balasan Yamal

Memasuki babak kedua, Spanyol menaikkan intensitas. Pelatih Luis de la Fuente memasukkan Fermín López untuk menambah kreativitas di lini kedua, dan perubahan itu langsung mengubah wajah pertandingan. Menit ke-68, Lamine Yamal menyamakan kedudukan dengan tendangan kaki kiri dari sudut sempit setelah menerima umpan tarik dari sisi kiri pertahanan Argentina. Gol itu lahir dari skema kombinasi pendek yang menjadi ciri khas tiki-taka, dan skor berubah menjadi 1-1.

Sepuluh menit terakhir babak kedua menjadi ujian mental bagi Argentina. Spanyol menekan dengan penguasaan bola hingga 64 persen di paruh kedua, namun pertahanan berlapis tetap kokoh. Menit ke-88, sundulan Aymeric Laporte dari sepak pojok nyaris membawa Spanyol unggul, tetapi Martínez kembali menggagalkan peluang itu dengan refleks luar biasa. Satu gol tambahan Spanyol sempat dianulir wasit setelah pengecekan VAR karena pelanggaran di kotak penalti, dan skor 1-1 bertahan hingga peluit panjang.

Extra Time dan Adu Penalti: Malam Keemasan "Dibu"

Dua babak tambahan masing-masing 15 menit berjalan dengan tempo lebih hati-hati. Kedua pelatih tampak mengatur napas pemainnya menuju drama adu penalti. Spanyol tetap mendominasi penguasaan bola dengan catatan total 61 persen sepanjang 120 menit, sementara Argentina bertahan disiplin dan mengandalkan serangan balik cepat. Tak ada gol tambahan, dan pertandingan pun berlanjut ke titik putih.

Di sinilah Emiliano Martínez membuktikan statusnya sebagai kiper adu penalti terbaik dunia. Setelah Messi, Julián Álvarez, dan De Paul sukses menuntaskan eksekusi pertama mereka, "Dibu" menggagalkan tendangan Pedri dengan tebakan ke arah kiri. Spanyol sempat menyamakan kedudukan lewat Yamal dan Rodri, tetapi Martínez kembali menjadi pahlawan saat menepis eksekusi Fermín López. Lautaro Martínez yang naik sebagai penendang kelima menuntaskan tugasnya, dan skor adu penalti resmi ditutup 4-2 untuk Argentina.

"Saya berlatih membaca pergerakan penendang setiap hari. Malam ini mimpi itu menjadi nyata — bukan untuk saya, tapi untuk seluruh rakyat Argentina," ujar Emiliano Martínez dengan mata berkaca-kaca seusai pertandingan.

Kemenangan ini menegaskan posisi Argentina sebagai raksasa sepak bola dunia dengan gelar juara dunia ketiga dalam sejarah, menyamai capaian legendaris era 1978 dan 1986. Bagi Messi, trofi ini melengkapi koleksi prestasinya yang sudah sempurna, sementara bagi Martínez, dua penyelamatan penalti di final akan selamanya dikenang sebagai salah satu penampilan kiper terbesar dalam sejarah Piala Dunia.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
reza-pahlevi

Reporter Pengadilan. Meliput kasus-kasus landmark di PN, PT, dan MA.

Comments (0)

User