Oct 09, 2026
Olahraga

Mandalika Bergemuruh, Parade Delapan Rider MotoGP Pukau Mataram

Mataram berubah menjadi lautan manusia. Jalanan utama kota itu dipenuhi ribuan warga yang menanti kedatangan delapan rider MotoGP dalam parade eksibisi menuju Sirkuit Mandalika, Jumat sore. Antusiasme...

Mandalika Bergemuruh, Parade Delapan Rider MotoGP Pukau Mataram

Mataram berubah menjadi lautan manusia. Jalanan utama kota itu dipenuhi ribuan warga yang menanti kedatangan delapan rider MotoGP dalam parade eksibisi menuju Sirkuit Mandalika, Jumat sore. Antusiasme pecinta balap di Nusa Tenggara Barat membuktikan bahwa MotoGP bukan sekadar ajang balapan, melainkan pesta rakyat yang menyatukan berbagai kalangan.

Konvoi dimulai pukul 15.30 WITA dari kawasan Kota Tua Mataram. Delapan motor balap melaju dalam formasi berbanjar dengan pengawalan ketat aparat kepolisian. Bendera tim dan spanduk dukungan berkibar di sepanjang rute sepanjang kurang lebih 12 kilometer menuju kawasan wisata Senggigi. Setiap kali iring-iringan melintas, teriakan nama rider menggema dari tepi jalan.

Marquez dan Veda Ega Pratama Jadi Magnet Massa

Dua nama mencuri perhatian paling besar. Marc Marquez, pembalap Repsol Honda, mendapat sambutan luar biasa dari penggemar. Sepanjang rute, spanduk bertuliskan namanya mendominasi tribun-tribun pinggir jalan. Penampilan Marquez yang sesekali melambaikan tangan ke arah penonton langsung dibalas gemuruh sorakan.

Namun kejutan sesungguhnya datang dari Veda Ega Pratama. Pembalap muda Indonesia yang tampil sebagai wildcard ini menjelma menjadi idola baru. Massa yang mayoritas remaja dan anak-anak berdesakan minta foto serta tanda tangan. Veda yang baru berusia belasan tahun tampak kewalahan namun tetap melayani penggemar dengan senyum.

"Melihat sambutan ini, saya sadar tanggung jawab pembalap muda Indonesia semakin besar. Ini modal berharga menuju balapan sesungguhnya," ujar Veda seusai parade.

Barisan pembalap lain juga tak kalah mendapat perhatian. Ada Joan Mir, Luca Marini, Miguel Oliveira, Raul Fernandez, serta dua rider pengganti lain yang melengkapi formasi delapan. Setiap nama disebut penyiar di atas panggung, gemuruh tepuk tangan kembali memecah suasana.

Belokan dan Tanjakan Jadi Ujian Kebugaran

Rute parade yang dipilih bukan jalan datar biasa. Panitia sengaja melewati sejumlah tikungan tajam dan tanjakan curam untuk menguji kestabilan motor balap sekaligus menyuguhkan pertunjukan maksimal bagi penonton. Mulai dari kawasan Cakranegara hingga Mataram Mall, delapan rider dituntut menjaga jarak aman dalam formasi V.

Data lapangan mencatat kecepatan rata-rata konvoi hanya berkisar 40 kilometer per jam. Ini jauh dari kecepatan maksimal MotoGP yang bisa menembus 300 kilometer per jam. Meski begitu, momen ini justru memberi kesempatan penonton melihat motor balap dari jarak dekat, termasuk detail aerodinamika dan livery tim.

Sektor jalan lurus di depan Taman Sangkareang menjadi favorit warga. Di titik itu, beberapa rider memberikan "bunyi gas" khas motor balap, memicu jeritan histeris penonton. Aksi tersebut tentu sudah dikoordinasikan tim demi keselamatan bersama.

Euforia dan Dampak Ekonomi Lokal

Parade ini tidak hanya soal hiburan. Pelaku usaha mikro di sepanjang rute mengaku kebanjiran pembeli. Penjual minuman, kuliner khas Lombok, hingga suvenir bertema MotoGP meraup keuntungan berlipat. Satu pedagang mengaku omzetnya naik tiga kali dibanding hari biasa.

Dinas Pariwisata NTB menargetkan kunjungan wisatawan melonjak signifikan selama rangkaian MotoGP. Okupansi hotel di Mataram dan Senggigi dilaporkan menyentuh angka di atas 85 persen. Ini menjadi indikator positif bahwa gelaran internasional mampu menggerakkan sektor ekonomi daerah.

Dari sisi keamanan, aparat mengerahkan personel gabungan untuk mengawal parade. Tidak ada insiden berarti sepanjang rute. Rekayasa lalu lintas diterapkan sejak pukul 14.00 WITA guna mengurai kepadatan.

Menuju Balapan Sesungguhnya

Parade ini menjadi pemanasan psikologis bagi para rider. Sirkuit Mandalika dengan karakter tikungan cepat dan aspal bergelombang menuntut setelan motor yang presisi. Sesi latihan bebas akan digelar dalam waktu dekat sebelum balapan resmi.

Bagi penggemar, momen parade adalah cara paling intim mendekati para idola. Tidak ada batas tembok pembatas, tidak ada jarak sekian meter dari trek. Hanya sorak sorai langsung yang mengiringi setiap putaran roda.

Ketika konvoi delapan rider akhirnya tiba di titik akhir, langit Mataram mulai berwarna jingga. Massa perlahan membubarkan diri, membawa cerita dan foto untuk dikenang. Namun euforia sesungguhnya baru akan dimulai saat lampu start menyala di Sirkuit Mandalika.

Dari pantauan lapangan, delapan rider melahap rute dalam waktu kurang lebih 45 menit. Tidak ada catatan waktu resmi karena parade bukan sesi kompetitif. Yang tersisa hanyalah kenangan manis bahwa MotoGP benar-benar hidup di hati masyarakat Lombok.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS fajar-ramadhan

Editor Hukum. Alumni FH UI. Meliput pengadilan, MA, dan judicial review.

Comments (0)

User