Luis Figo Desak Gianni Infantino Mundur dari Kursi Presiden FIFA

Geliat sepak bola dunia kembali memanas, dan kali ini pusat gempanya bukan di atas lapangan hijau, melainkan di koridor kekuasaan tertinggi federasi. Luis Figo, legenda hidup Portugal peraih Ballon d'...

Aug 08, 2026 - 19:49
0 0
Luis Figo Desak Gianni Infantino Mundur dari Kursi Presiden FIFA

Geliat sepak bola dunia kembali memanas, dan kali ini pusat gempanya bukan di atas lapangan hijau, melainkan di koridor kekuasaan tertinggi federasi. Luis Figo, legenda hidup Portugal peraih Ballon d'Or 2000, secara terbuka mendesak Gianni Infantino untuk mundur dari kursi Presiden FIFA. Pernyataan ini ibarat tendangan bebas dari jarak 30 meter — datang tiba-tiba, penuh tenaga, dan langsung mengarah ke jantung pertahanan markas besar Zurich. Ketika sosok sekaliber Figo angkat suara, seluruh stadion sepak bola dunia wajib mendengarkan.

Kredibilitas yang Tak Bisa Dianggap Remeh

Mari kita bedah statistiknya. Figo bukan sembarang nama dalam sejarah sepak bola modern. Bersama timnas Portugal, ia mencatatkan 127 caps dan 32 gol, menjadikannya salah satu pilar utama Generasi Emas Selecao das Quinas. Di level klub, resumenya mentereng: Sporting CP, Barcelona, Real Madrid, dan Inter Milan — empat raksasa Eropa yang semuanya pernah merasakan sentuhan magis sang winger. Trofi Liga Champions 2002 bersama Real Madrid, sederet gelar La Liga, plus empat scudetto beruntun di Serie A melengkapi lemari pialanya.

Belum lagi penghargaan individu: Ballon d'Or 2000 dan gelar Pemain Terbaik Dunia FIFA 2001. Jadi ketika Figo berbicara soal tata kelola sepak bola, ia berbicara dari posisi seseorang yang pernah berada di puncak piramida — bukan komentator pinggir lapangan yang asal melepaskan umpan silang.

Bukan Duel Pertama dengan FIFA

Yang menarik, ini bukan kali pertama Figo masuk ke arena politik sepak bola dunia. Pada 2015, ia sempat maju sebagai kandidat Presiden FIFA, membawa gagasan reformasi tata kelola dan transparansi. Namun ia memilih mundur sebelum pemungutan suara, sembari melayangkan kritik tajam bahwa proses pemilihan saat itu jauh dari kata normal dan demokratis. Pengalaman itu memberinya perspektif orang dalam — ia tahu persis bagaimana mesin birokrasi federasi bekerja, dari ruang ganti hingga ruang kongres.

Setelahnya, Figo tetap aktif di lingkaran elite sepak bola Eropa, termasuk menjalani peran sebagai penasihat sepak bola di UEFA. Artinya, desakannya kali ini bukan ledakan emosi sesaat, melainkan suara dari figur yang hampir satu dekade mengamati dinamika kepemimpinan federasi dunia dari jarak dekat.

Era Infantino di Bawah Mikroskop

Di sisi lain lapangan, Gianni Infantino memegang kendali FIFA sejak Februari 2016, terpilih di tengah badai krisis yang melanda federasi. Ia kemudian memperpanjang masa jabatannya lewat pemilihan 2019 dan 2023 — keduanya tanpa lawan berarti di kongres. Di bawah komandonya, FIFA melakukan sejumlah langkah besar: ekspansi Piala Dunia menjadi 48 tim mulai edisi 2026 yang akan digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko, serta format baru Piala Dunia Antarklub yang diperluas menjadi 32 peserta.

Namun seperti tim yang mendominasi penguasaan bola tapi gagal mencetak gol, kepemimpinan panjang tanpa penantang serius kerap memicu pertanyaan soal akuntabilitas. Desakan Figo menambah daftar suara kritis yang menilai kursi tertinggi FIFA butuh penyegaran — sebuah pergantian pemain di menit-menit krusial pertandingan.

Babak Berikutnya untuk Sepak Bola Dunia

Pertanyaannya sekarang: apakah desakan ini akan bergulir menjadi gerakan yang lebih besar? Dalam sepak bola, momentum adalah segalanya. Satu pernyataan dari legenda sekelas Figo bisa menjadi assist yang memicu gol perubahan, atau sekadar tembakan melenceng yang dilupakan begitu saja oleh para pemegang suara di kongres FIFA.

Yang pasti, pertandingan politik di tubuh federasi dunia baru saja memasuki babak yang lebih panas. Skor akhir belum ditentukan, tetapi satu hal jelas: ketika pemain sekaliber Luis Figo turun ke lapangan isu tata kelola, Gianni Infantino dan jajarannya tidak bisa lagi bersembunyi di balik garis pertahanan. Mata seluruh dunia kini tertuju ke Zurich, menanti respons dari sang nakhoda FIFA.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
vina-melati

Data Journalist Hukum. Visualisasi data kejahatan dan analisis tren kriminal.

Comments (0)

User