Lo Celso Jadi Sorotan Usai Aksi Spanduk Politik di Semifinal Piala Dunia 2026

Skor akhir 2-1 untuk Argentina atas Inggris di semifinal Piala Dunia 2026 tidak hanya menjadi pembuka jalan menuju partai puncak, tetapi juga memicu perbincangan hangat di luar lapangan. Menit ke-89, ...

Lo Celso Jadi Sorotan Usai Aksi Spanduk Politik di Semifinal Piala Dunia 2026

Skor akhir 2-1 untuk Argentina atas Inggris di semifinal Piala Dunia 2026 tidak hanya menjadi pembuka jalan menuju partai puncak, tetapi juga memicu perbincangan hangat di luar lapangan. Menit ke-89, tepat setelah peluit panjang berbunyi di Stadion Lusail, gelandang Argentina Giovani Lo Celso berjalan mendekati tribun penonton dan membentangkan spanduk bernuansa politik yang langsung menyita perhatian kamera. Aksi ini terjadi di tengah euforia kemenangan dramatis yang ditentukan lewat gol penalti di menit ke-78 oleh Lionel Messi setelah VAR memutuskan pelanggaran Declan Rice di kotak terlarang. Spanduk tersebut, yang tidak menampilkan teks jelas namun menampilkan simbol-simbol kontroversial, menjadi topik utama di media sosial dan ruang ganti kedua tim. Meski tidak ada pernyataan resmi dari Lo Celso, foto yang diambil AFP menunjukkan ekspresi serius gelandang berusia 30 tahun itu saat memegang spanduk, sementara rekan setimnya mencoba menariknya kembali ke tengah lapangan.

Dominasi Taktik dan Momen Kunci yang Mengubah Segalanya

Sebelum insiden tersebut, pertandingan berjalan sengit dengan kedua tim menampilkan kualitas tertinggi. Inggris, yang tampil dengan formasi 4-3-3, mendominasi penguasaan bola hingga 58% pada babak pertama, tetapi Argentina justru lebih efisien dengan formasi 4-4-2 yang menekankan serangan balik cepat. Menit ke-23, Julian Alvarez melepaskan tendangan voli dari jarak 18 meter yang masih bisa ditepis Jordan Pickford, menghasilkan tendangan sudut pertama Argentina. Inggris membalas melalui tembakan jarak jauh Jude Bellingham di menit ke-34 yang meleset tipis di atas mistar. Gol pembuka akhirnya datang di menit ke-41: umpan terobosan Lo Celso dari lini tengah membelah pertahanan Inggris, dan Messi dengan tenang menaklukkan Pickford melalui tembakan mendatar ke sudut kiri bawah. Skor 1-0 bertahan hingga turun minum, dengan Argentina mencatatkan 4 shots on target dibandingkan 2 milik Inggris.

Memasuki babak kedua, pelatih Inggris Gareth Southgate melakukan dua pergantian sekaligus di menit ke-55, memasukkan Phil Foden dan Bukayo Saka untuk menambah daya gedor. Strategi ini langsung membuahkan hasil di menit ke-61: umpan silang Saka dari sisi kanan disambut sundulan Harry Kane yang mengarah ke pojok kanan gawang Emiliano Martinez. Skor imbang 1-1 memaksa Argentina keluar dari zona nyaman, dan penguasaan bola Inggris naik menjadi 63% pada rentang menit 60-75. Namun, Argentina justru menunjukkan ketajaman mental yang luar biasa. Menit ke-78, setelah VAR meninjau insiden handball Declan Rice di area penalti selama tiga menit, wasit menunjuk titik putih. Messi yang menjadi eksekutor tidak gagal, mencetak gol keduanya malam itu dan sekaligus gol ke-10 turnamen. Hingga akhir laga, Argentina mencatatkan total 12 tembakan dengan 7 shots on target, sementara Inggris hanya 9 tembakan dengan 4 shots on target. Penguasaan bola akhir menjadi 52% untuk Inggris, tetapi Argentina unggul dalam efektivitas serangan.

Kontroversi Spanduk: Politik Masuk ke Lapangan Hijau

Insiden Lo Celso terjadi setelah peluit akhir, ketika pemain bertukar jersey dan melakukan selebrasi. Spanduk yang dibawa oleh Lo Celso, yang menurut beberapa sumber berasal dari kelompok pendukung di tribun utara, memuat gambar peta dengan warna-warna tertentu yang dianggap sensitif. Beberapa analis politik di Argentina mengaitkan simbol tersebut dengan klaim teritorial yang sudah lama menjadi perdebatan, meskipun tidak ada konfirmasi resmi. Pelatih Argentina Lionel Scaloni dalam konferensi pers setelah pertandingan menyatakan, "Saya tidak melihat spanduk itu sampai kamera menyorotnya. Ini momen untuk merayakan sepak bola, bukan untuk hal lain. Kami akan berbicara dengan Giovani secara internal." Sementara itu, kapten Inggris Harry Kane menolak berkomentar panjang, hanya menyebut bahwa "fokus kami adalah pertandingan, dan kami kecewa dengan hasil ini." FIFA dikabarkan akan membuka investigasi terkait pelanggaran aturan tentang pesan politik di lapangan, yang bisa berujung pada sanksi untuk Lo Celso. Ini bukan pertama kalinya pemain Argentina terlibat kontroversi politik; pada Piala Dunia 2022, beberapa pemain juga menunjukkan gestur simbolis yang memicu reaksi beragam.

Statistik dan Dampak pada Final

Dari sisi statistik murni, penampilan Lo Celso sepanjang laga patut diapresiasi. Ia mencatatkan 89% akurasi umpan dari 76 percobaan, 3 umpan kunci, dan 2 tekel sukses. Assist-nya untuk gol pertama menjadi bukti visi bermainnya yang luar biasa, dan ia juga memenangkan 4 duel udara. Namun, aksi di luar lapangan berpotensi mencoreng pencapaian tersebut. Argentina kini menantikan pemenang semifinal lain antara Prancis dan Brasil yang akan berlangsung dua hari lagi. Dengan clean sheet yang gagal dipertahankan, Martinez tetap mencatatkan 3 penyelamatan penting, termasuk satu di menit ke-83 saat tembakan Foden nyaris menyamakan kedudukan. Jika Lo Celso terkena sanksi, Scaloni harus mencari pengganti di lini tengah, dan nama Enzo Fernandez yang duduk di bangku cadangan menjadi kandidat kuat. Pertandingan final dijadwalkan pada 19 Juli, dan seluruh mata dunia akan tertuju pada apakah Argentina mampu mengangkat trofi ketiga kalinya atau justru terganggu oleh kontroversi yang membayangi skuad. Satu hal yang pasti, malam di Lusail ini tidak akan terlupakan, baik karena kualitas permainan maupun drama di luar lapangan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
vina-melati

Data Journalist Hukum. Visualisasi data kejahatan dan analisis tren kriminal.

Comments (0)

User