Lo Celso dan Spanduk Politik Usai Argentina Lolos ke Final
Piala Dunia 2026 menyajikan drama yang tak berhenti di lapangan. Setelah laga semifinal yang mempertemukan Argentina kontra Inggris, perhatian publik tersedot bukan hanya ke skor akhir, tetapi juga ke...
Piala Dunia 2026 menyajikan drama yang tak berhenti di lapangan. Setelah laga semifinal yang mempertemukan Argentina kontra Inggris, perhatian publik tersedot bukan hanya ke skor akhir, tetapi juga ke aksi Giovani Lo Celso yang mengibarkan spanduk bernuansa politik. Momen itu terjadi saat selebrasi kelolosan ke partai puncak, ketika gelandang bernomor punggung 20 tersebut memegang kain bertuliskan pesan yang tidak berkaitan dengan sepak bola.
Jalannya Laga: Argentina Menang Dramatis
Pertandingan yang digelar di Stadion MetLife, New Jersey, itu berlangsung ketat. Argentina tampil dengan formasi 4-3-3, sementara Inggris merespons dengan 3-4-2-1 yang menekan lini tengah. Menit ke-14, Inggris membuka keunggulan lewat sundulan setelah kemelut dari sepak pojok. Penguasaan bola babak pertama seimbang di angka 51 persen untuk Argentina dan 49 persen untuk Inggris, tetapi shots on target justru dikuasai Inggris, 4 berbanding 2.
Memasuki babak kedua, pelatih Argentina mengubah taktik dengan memasukkan Lo Celso untuk menambah kreativitas di lini tengah. Perubahan itu membuahkan hasil. Menit ke-67, Argentina menyamakan kedudukan melalui tendangan kaki kiri dari luar kotak penalti. Skor 1-1 bertahan hingga waktu normal usai. Laga berlanjut ke perpanjangan waktu, dan pada menit ke-112, Argentina mencetak gol kemenangan lewat serangan balik cepat. Skor akhir 2-1 untuk Argentina, sekaligus memastikan tiket ke final.
"Kami tahu Inggris akan menekan sejak awal. Kunci kami adalah kesabaran dan disiplin posisi," ujar pelatih Argentina dalam konferensi pers usai laga.
Peran Lo Celso di Lini Tengah
Lo Celso tampil selama 58 menit setelah masuk dari bangku cadangan. Statistik mencatat ia melepaskan 1 assist untuk gol penyama kedudukan, akurasi umpan 89 persen, dan 2 peluang tercipta. Ia juga melakukan 3 tekel sukses serta 1 intersep di area pertahanan. Kombinasinya dengan penyerang sayap membuat lini tengah Inggris kewalahan pada 30 menit terakhir waktu normal.
Menit ke-78, Lo Celso hampir mencetak gol lewat sepakan voli dari tepi kotak penalti. Bola masih membentur mistar gawang. Meski tidak mencetak gol, kontribusinya di fase transisi bertahan-menyerang menjadi salah satu faktor pendorong kebangkitan Argentina. Ia juga sempat menerima kartu kuning pada menit ke-95 akibat protes berlebihan kepada wasit, yang sempat meninjau insiden VAR terkait potensi offside.
Momen Spanduk dan Reaksi Publik
Usai peluit panjang berbunyi, Lo Celso berlari ke sisi lapangan dan mengambil sebuah spanduk. Aksi tersebut langsung menarik perhatian kamera siaran langsung dan menjadi sorotan media sosial. Federasi Sepak Bola Argentina belum memberikan pernyataan resmi terkait aksi tersebut, namun sejumlah pihak menilai momen itu menambah lapisan cerita di balik keberhasilan tim.
Dari sisi statistik, kemenangan ini menempatkan Argentina sebagai tim dengan clean sheet terbanyak kedua di turnamen, meski laga semifinal sendiri tidak berakhir tanpa kebobolan. Inggris harus mengakhiri perjalanan dengan catatan penguasaan bola total 49 persen dan 6 shots on target, tetapi hanya mencetak satu gol.
"Fokus kami sekarang adalah final. Apa pun yang terjadi di luar lapangan tidak boleh mengganggu persiapan," tambah pelatih Argentina.
Menuju Final: Tantangan Berikutnya
Argentina akan menghadapi pemenang semifinal lainnya pada akhir pekan. Lo Celso kemungkinan kembali masuk dalam rencana starting XI setelah performa impresifnya sebagai pengganti. Dengan rata-rata umpan sukses 88 persen sepanjang turnamen, ia menjadi opsi utama untuk membongkar pertahanan rapat. Tim pelatih juga akan mengevaluasi kondisi fisik pemain mengingat jadwal final yang hanya berselisih empat hari.
Terlepas dari kontroversi spanduk politik, Lo Celso tetap menunjukkan kelasnya sebagai gelandang box-to-box. Jika Argentina mampu mempertahankan efektivitas serangan balik dan disiplin bertahan, gelar juara Piala Dunia 2026 bukan hal mustahil. Pertanyaannya kini: siapa yang berani menjegal langkah mereka di partai puncak?
Comments (0)