Lo Celso Buka Politis usai Argentina Singkirkan Inggris di Semifinal Piala Dunia 2026
Skor akhir 2-1 untuk Argentina usai perpanjangan waktu! Menit ke-112 menjadi penentu ketika Lautaro Martinez melepaskan tendangan voli dari kotak penalti yang menembus jala Jordan Pickford, menutup dr...
Skor akhir 2-1 untuk Argentina usai perpanjangan waktu! Menit ke-112 menjadi penentu ketika Lautaro Martinez melepaskan tendangan voli dari kotak penalti yang menembus jala Jordan Pickford, menutup drama 120 menit yang memanas di semifinal Piala Dunia 2026 kontra Inggris. Namun, sorotan tak cuma tertuju pada gol kemenangan Albiceleste. Gelandang andalan Lionel Scaloni, Giovani Lo Celso, mencuri perhatian dunia usai laga dengan mengangkat spanduk bernuansa politik di hadapan ribuan kamera dan jutaan pemirsa global.
Pertarungan sengit di bawah terik Amerika Utara ini dimulai dengan tempo tinggi. Starting XI Argentina yang diturunkan dalam formasi 4-3-3 langsung menekan lini tengah Three Lions. Menit ke-34, keunggulan Argentina tercipta lewat serangan transisi cepat. Lo Celso, beroperasi sebagai mezzala di sektor kiri, mengirimkan umpan terobosan akurat ke Julian Alvarez yang melesat di belakang bek Inggris. Striker Manchester City itu tenang menaklukkan Pickford dengan tembakan rendah ke sudut kanan bawah. Assist gemilang dari eks Tottenham Hotspur itu membuka kegembiraan di tribun penonton berjersey biru-putih.
Dominasi Inggris dan Balasan Menit ke-67
Inggris, yang mengandalkan formasi 4-2-3-1 dengan Jude Bellingham sebagai false-10, tak tinggal diam. Penguasaan bola 52% berpihak pada asuhan Gareth Southgate sepanjang 90 menit reguler, dengan shots on target mencapai delapan kali berbanding enam milik Argentina. Tekanan berbuah hasil di menit ke-67. Bukayo Saka melesat di sayap kanan, melepaskan crossing rendah yang disambut Harry Kane dengan first-time finish dari dalam kotak enam pas. Emiliano Martinez sempat melakukan reflex save, namun bola muntah tepat ke kaki Declan Rice yang menyamakan kedudukan 1-1.
Kartu kuning muncul di menit ke-74 untuk Cristian Romero setelah tackle keras terhadap Phil Foden. VAR sempat mengintervensi insiden di kotak penalti Argentina pada menit ke-81 saat Bellingham jatuh usai duel dengan Lisandro Martinez, namun wasit Danny Makkelie menolak menunjuk titik putih setelah meninjau monitor. Argentina nyaris unggul lagi di menit ke-88 ketika Enzo Fernandez melepaskan long shot dari luar kotak, tapi Pickford melakukan diving save spektakuler ke tiang jauh. Skor 1-1 bertahan hingga wasit meniup peluit akhir babak kedua.
Perpanjangan Waktu dan Gol Emas Martinez
Extra time berlangsung dalam tensi maksimal. Southgate memasukkan Cole Palmer untuk menggantikan Foden guna menambah kreativitas, sementara Scaloni mempertahankan trio lini tengah Lo Celso-Enzo-McAllister. Fatigue mulai terlihat di kaki para pemain, namun Argentina menemukan celah di menit ke-112. Counter-attack berawal dari intersep Lo Celso di tengah lapangan, ia menggiring bola 15 meter sebelum menyodorkan kepada Nicolas Tagliafico yang overlapping di sayap kiri. Bek Lyon itu mengirimkan early cross ke tiang jauh, dan di situlah Lautaro Martinez muncul untuk mencetak gol kemenangan 2-1 dengan sundulan presisi.
Clean sheet pupus bagi Inggris yang sepanjang turnamen hanya kebobolan dua gol sebelum laga ini. Starting XI Three Lions yang diperkuat John Stones dan Harry Maguire di jantung pertahanan akhirnya roboh di menit-menit krusial. Offside trap Inggris gagal bekerja sempurna saat gol penentuan, meski pemain bertopeng putih sempat protes. Garis VAR mengonfirmasi Tagliafico berada dalam posisi onside sebesar setengah meter. Argentina pun melaju ke final untuk memperebutkan trofi keempat mereka.
Kontroversi Spanduk Lo Celso Pasca Laga
Celebrasi di lapangan langsung beralih ke adegan yang menggemparkan. Giovani Lo Celso, yang tampil brilian dengan satu assist, 87% akurasi umpan, dan tiga key passes, terlihat mengambil spanduk dari kerumunan suporter Argentina di tribune. Gelandang 28 tahun itu mengangkat kain bertuliskan pesan bernuansa politik di depan lensa fotografer dan kru penyiaran. Aksi tersebut terjadi selama lap of honour, tepat setelah skuad Scaloni menyalami fans di sisi barat stadion.
Petugas keamanan FIFA langsung bergerak cepat untuk mengamankan situasi, namun Lo Celso sempat memegang spanduk tersebut selama beberapa detik yang cukup untuk ditangkap kamera. Belum ada pernyataan resmi dari federasi maupun wasit pertandingan terkait apakah aksi tersebut akan mendapatkan sanksi. Dalam sejarah Piala Dunia, regulasi FIFA ketat soal atribut bermuatan politik di dalam area stadion, termasuk perayaan oleh pemain.
Pertandingan ini menunjukkan karakter luar biasa dari para pemain. Kami pantas menang meski harus kerja ekstra keras selama 120 menit, tapi apa yang terjadi setelahnya adalah ranah pribadi pemain, ujar Scaloni dengan nada hati-hati saat ditanya soal insiden spanduk.
Dari sisi statistik, Argentina menutup laga dengan penguasaan bola 48% namun lebih efisien dengan conversion rate 33%. Inggris unggul total shots 18 berbanding 11, namun hanya mengonversi satu gol dari delapan shots on target mereka. Lo Celso sendiri menjadi motor lini tengah dengan 68 sentuhan, lima tackle sukses, dan dua dribel komplit. Kontribusi teknisnya memang tak terbantahkan, tapi gestur pasca-pertandingannya kini menjadi bahan debat di media sosial dan ruang redaksi seluruh dunia.
Argentina kini menanti lawan di final dari sisi bracket lainnya, sementara Inggris kembali pulang dari semifinal dengan luka mendalam. Bagi Lo Celso, malam yang seharusnya menjadi puncak perayaan olahraga kini berubah menjadi narasi kontroversial yang bisa saja membayangi perjalanan timnya meraih gelar juara dunia.
Comments (0)