DOHA — Piala Dunia 2022 di Qatar meninggalkan cerita pahit bagi sejumlah pelatih elite. Bukan karena minim pengalaman, melainkan karena besarnya investasi yang dikeluarkan federasi masing-masing tidak berbanding lurus dengan hasil di lapangan. Lima nama harus rela menyaksikan tim asuhannya angkat koper lebih cepat dari fase gugur, meski bayaran mereka masuk jajaran tertinggi turnamen.
Salah satu yang paling mencolok adalah Hansi Flick. Pelatih Timnas Jerman itu disebut menerima upah sekitar 5 juta pound sterling atau setara Rp94 miliar per tahun — angka yang menempatkannya di antara deretan juru taktik termahal di Qatar. Namun Der Panzer hanya mampu finis di peringkat ketiga klasemen Grup E, terpaut di belakang Jepang dan Spanyol, dan harus menerima kenyataan pahit tersingkir di babak penyisihan.
Jerman dan Eksperimen yang Berujung Antiklimaks
Kegagalan Jerman tidak terjadi dalam semalam. Flick datang dengan reputasi gemilang setelah sukses bersama Bayern Muenchen, termasuk meraih sextuple pada 2020. Ia membawa filosofi penguasaan bola tinggi dan pressing agresif, dengan formasi dasar 4-2-3-1 yang kerap berubah menjadi 3-4-3 saat membangun serangan. Namun di Qatar, transisi bertahan Jerman menjadi titik lemah yang fatal.
Pada laga pembuka melawan Jepang, Jerman unggul lebih dulu melalui penalti Ilkay Guendogan di menit ke-33. Statistik menunjukkan penguasaan bola mereka menyentuh angka 74 persen dengan 26 tembakan, tetapi hanya tujuh yang mengarah ke gawang alias shots on target. Jepang membalas lewat gol Ritsu Doan menit ke-75 dan Takuma Asano menit ke-83. Skor akhir 2-1 untuk Samurai Biru — sebuah pembalasan atas kekalahan 1998 di Prancis.
Laga kedua melawan Spanyol sempat memberi harapan. Niclas Fuellkrug menyamakan kedudukan di menit ke-83 setelah Alvaro Morata membuka keunggulan. Skor 1-1 membuat Jerman masih bergantung pada hasil laga terakhir. Sayangnya, kemenangan 4-2 atas Kosta Rika tidak cukup. Jepang menumbangkan Spanyol 2-1, dan Jerman tersingkir karena kalah selisih gol. Dua edisi beruntun gagal lolos dari fase grup — setelah 2018 di Rusia — menjadi luka besar bagi negara empat kali juara dunia itu.
"Kami tidak boleh menyalahkan siapa pun. Kami harus melihat diri sendiri. Kami punya cukup peluang, tetapi tidak cukup efisien," ujar Flick dalam konferensi pers usai laga terakhir, seperti dikutip awak media di Doha.
Deretan Nama Mahal Lainnya yang Pulang Lebih Cepat
Flick bukan satu-satunya. Sejumlah pelatih bergaji besar juga mengalami nasib serupa. Berikut lima nama yang menyita perhatian karena tingginya bayaran berbanding jauhnya capaian di lapangan:
1. Hansi Flick (Jerman) — Gaji sekitar Rp94 miliar per tahun. Tersingkir di fase grup dengan torehan empat poin dari tiga laga. Rata-rata penguasaan bola 61 persen, tetapi hanya mencatat lima gol dan kebobolan lima kali.
2. Roberto Martinez (Belgia) — Salah satu pelatih dengan bayaran tertinggi di Eropa. Belgia, yang bertabur bintang generasi emas seperti Kevin De Bruyne dan Romelu Lukaku, hanya finis ketiga Grup F di bawah Maroko dan Kroasia. Rata-rata usia starting XI mereka 28,7 tahun — salah satu yang tertua di turnamen.
3. Carlos Queiroz (Iran) — Pelatih veteran Portugal yang dikenal bergaji kompetitif di Timur Tengah. Iran tampil disiplin dalam formasi 4-4-2 bertahan, bahkan menumbangkan Wales 2-0, tetapi kalah dari Inggris dan Amerika Serikat membuat mereka gagal melaju.
4. Gerardo Martino (Meksiko) — El Tri kembali terhenti di babak 16 besar, kali ini setelah finis ketiga Grup C di bawah Argentina dan Polandia. Pola menyerang Meksiko kurang tajam dengan hanya dua gol dalam tiga laga penyisihan.
5. Luis Fernando Suarez (Kosta Rika) — Meski bayarannya tidak sebesar nama lain, kontraknya dianggap fantastis untuk ukuran federasi Kosta Rika. Timnya sempat mengejutkan dengan mengalahkan Jepang 1-0, tetapi hancur 0-7 oleh Spanyol dan tumbang 2-4 dari Jerman.
Pelajaran dari Lapangan: Gaji Tinggi Bukan Jaminan
Data menunjukkan korelasi antara besarnya gaji pelatih dan keberhasilan di Piala Dunia sangat tipis. Dari lima nama di atas, tidak ada satu pun yang mampu melewati fase gugur. Bandingkan dengan Maroko, yang dilatih Walid Regragui dengan bayaran jauh lebih rendah, justru melaju hingga semifinal — pencapaian terbaik tim Afrika dalam sejarah turnamen.
Faktor taktik menjadi sorotan. Flick, misalnya, kerap dianggap terlambat melakukan rotasi. Ia baru memasukkan Fuellkrug sebagai pengganti pada menit ke-79 saat melawan Jepang — sebuah keputusan yang menuai kritik karena Jerman butuh gol tambahan. Sementara Martinez dinilai terlalu bergantung pada pemain senior, membuat Belgia kehilangan intensitas di sepertiga akhir lapangan.
Di sisi lain, kegagalan ini juga membuktikan bahwa Piala Dunia adalah turnamen yang kejam. Tiga laga penyisihan hanya memberi ruang kesalahan yang sangat sempit. Satu kartu merah, satu blunder pertahanan, atau satu keputusan VAR yang kontroversial bisa mengubah segalanya. Jerman harus menerima kenyataan pahit ketika gol Fuellkrug ke gawang Kosta Rika dianulir offside — momen yang menjadi simbol betapa tipisnya batas antara lolos dan pulang.
Kesimpulannya, Piala Dunia 2022 menjadi pengingat keras bahwa reputasi dan gaji bukanlah segalanya. Flick dan empat nama lainnya kini harus menghadapi sorotan tajam publik sepulang ke negara masing-masing. Untuk Flick, masa depannya di kursi pelatih Jerman sempat dipertanyakan, meski akhirnya ia tetap dipercaya. Bagaimana pun, sepak bola selalu memberi kesempatan kedua — dan Piala Dunia berikutnya akan menjadi pembuktian apakah investasi mahal itu akhirnya berbuah, atau kembali berakhir di babak penyisihan.
Statistik Kunci Piala Dunia 2022 (Fase Grup): rata-rata penguasaan bola Jerman 61 persen, shots on target 19 dari 55 total tembakan, efektivitas gol hanya 9 persen. Belgia mencatat 1,3 gol per laga, sementara Meksiko hanya mencetak dua gol dalam tiga pertandingan. Angka-angka ini menjadi potret nyata bahwa tanpa efisiensi, dominasi di atas kertas tidak berarti apa-apa.
Comments (0)