Leandro Paredes Picu Kericuhan Usai Final Piala Dunia 2026
Skor akhir bertahan di papan skor MetLife Stadium: Argentina 3-2 Prancis, namun laga tidak berakhir di peluit panjang wasit. Detik-detik setelah trofi Jules Rimet diserahkan, situasi berubah menjadi k...
Skor akhir bertahan di papan skor MetLife Stadium: Argentina 3-2 Prancis, namun laga tidak berakhir di peluit panjang wasit. Detik-detik setelah trofi Jules Rimet diserahkan, situasi berubah menjadi kericuhan massal yang dipicu oleh satu nama: Leandro Paredes. Gelandang AS Roma berusia 32 tahun itu menjadi pusat badai setelah sebuah gestur provokatif dan dorongan terhadap Kylian Mbappé mengawali bentrokan dua kubu yang melibatkan lebih dari 15 pemain dan ofisial tim. Federasi Sepak Bola Dunia langsung membuka penyelidikan resmi usai insiden yang mencoreng malam bersejarah di New Jersey tersebut.
Kronologi Kericuhan di Lapangan
Menit ke-90+5, peluit panjang dibunyikan. Argentina merayakan gelar Piala Dunia keempat mereka. Namun di tengah selebrasi, Paredes — yang masuk sebagai pemain pengganti pada menit ke-78 menggantikan Alexis Mac Allister — terlihat mendekati Mbappé yang tengah duduk kecewa di rumput. Rekaman VAR menunjukkan Paredes mengucapkan kata-kata sambil menunjuk wajah Mbappé dari jarak kurang dari satu meter. Penyerang Prancis itu berdiri dan mendorong Paredes, yang langsung membalas dengan dorongan lebih keras. Dalam hitungan detik, kedua tim berlarian. Aurélien Tchouaméni dan Eduardo Camavinga berusaha memisahkan, namun malah terseret. Pemain cadangan dari bangku penonton ikut berlari masuk.
Sebelum insiden, tensi sudah membara sejak babak kedua. Paredes menerima kartu kuning pada menit ke-82 setelah tekel terlambat terhadap Theo Hernández. Statistik mencatat 6 pelanggaran dilakukan Argentina di 15 menit terakhir, tiga di antaranya oleh Paredes. Penguasaan bola Prancis mencapai 58% dengan 9 shots on target, sementara Argentina hanya 4 tembakan tepat sasaran dari 42% penguasaan bola, namun berhasil memaksimalkan efisiensi lewat skema serangan balik. Formasi 4-4-2 yang diterapkan Lionel Scaloni di 20 menit terakhir secara efektif meredam sayap Prancis, tetapi juga meningkatkan agresivitas di lini tengah.
Data dan Statistik Kunci
Angka tidak pernah berbohong. Total 8 kartu kuning dikeluarkan wasit asal Inggris, Michael Oliver — 5 untuk Argentina, 3 untuk Prancis. Tidak ada kartu merah langsung selama laga, namun setelah kericuhan, komisi disiplin meninjau potensi sanksi kepada tiga pemain melalui rekaman VAR. Tiga assist tercipta sepanjang laga: dua dari Antoine Griezmann untuk gol Marcus Thuram (menit 23) dan Randal Kolo Muani (menit 67), serta satu dari Enzo Fernández untuk gol penentu Julián Álvarez di menit 88. Gol pembuka Argentina dicetak Lautaro Martínez pada menit 16 lewat skema sepak pojok, dan gol kedua dicetak Álvarez di menit 54 sebelum Prancis menyamakan kedudukan dalam rentang 13 menit babak kedua.
Performa individu Paredes patut disorot. Dalam 12 menit waktu normal yang ia mainkan, ia mencatat 0 tembakan, 0 dribel sukses, 3 pelanggaran, dan 2 konfrontasi verbal terekam kamera. Rasio tekel suksesnya hanya 25%. Ia kehilangan bola sebanyak 4 kali. Data dari penyedia statistik lapangan juga mencatat ia berlari hanya 1,2 kilometer selama berada di lapangan — lebih rendah dari pemain lain yang masuk bersamaan. Semua ini menunjukkan bahwa keterlibatannya lebih bersifat destruktif ketimbang konstruktif.
Reaksi dan Potensi Sanksi
Pelatih Argentina Lionel Scaloni dalam konferensi pers pasca-laga memberikan pembelaan hati-hati:
"Leandro adalah pemain dengan karakter kuat. Saya tidak melihat insiden secara langsung. Kami akan mengevaluasi rekaman dan berbicara dengannya. Piala Dunia adalah momen emosional."Di sisi lain, Didier Deschamps tidak menyembunyikan kemarahannya:
"Yang terjadi setelah peluit akhir tidak seharusnya terjadi di panggung sepak bola. Ada pemain yang dengan sengaja memprovokasi. Itu bukan bagian dari permainan."
Federasi Sepak Bola Dunia melalui juru bicaranya mengonfirmasi bahwa investigasi sedang berlangsung. Sanksi potensial bagi Paredes mencakup larangan bertanding 4 hingga 10 pertandingan internasional, denda, dan pencabutan medali jika terbukti melakukan pelanggaran serius terhadap kode etik. Ada pula desakan agar wasit keempat dan operator VAR memberikan laporan tambahan. Seorang ofisial anonim menyebut bahwa "rekaman audio" dari mikrofon wasit sedang dianalisis.
Insiden ini memicu perdebatan global tentang sportivitas di level tertinggi. Jutaan pasang mata menyaksikan malam yang seharusnya menjadi perayaan sepak bola justru dinodai kericuhan. Apapun hasil investigasi, citra Leandro Paredes — yang sebelumnya dikenal sebagai gelandang tangguh dengan lebih dari 80 caps untuk Argentina — kini tercoreng oleh ulahnya sendiri di panggung paling akbar. Trofi tetap di tangan Argentina, namun bayang-bayang kericuhan akan sulit terhapus dari buku sejarah Piala Dunia 2026.
Comments (0)