Laga Penghormatan Emosional Faris Aditama Sebelum Tinggalkan Persik

Kediri berdiri dan bertepuk tangan. Stadion Brawijaya menjadi saksi malam yang emosional ketika para mantan pemain Persik menggelar laga penghormatan untuk Faris Aditama, sosok yang dipastikan tidak l...

Aug 10, 2026 - 16:24
0 0
Laga Penghormatan Emosional Faris Aditama Sebelum Tinggalkan Persik

Kediri berdiri dan bertepuk tangan. Stadion Brawijaya menjadi saksi malam yang emosional ketika para mantan pemain Persik menggelar laga penghormatan untuk Faris Aditama, sosok yang dipastikan tidak lagi berseragam Macan Putih pada Super League 2026/2027. Ini bukan sekadar pertandingan ekshibisi — ini adalah salam perpisahan dari sebuah klub, kota, dan suporter kepada salah satu putra terbaik yang pernah dibesarkan akademi mereka.

Sejak gerbang stadion dibuka, atmosfernya sudah terasa berbeda. Spanduk bertuliskan terima kasih membentang di tribune, sementara nama Faris dinyanyikan berulang kali oleh suporter yang memadati kursi penonton. Ketika sang pemain melangkah masuk ke rumput Brawijaya, sambutan yang diterimanya layaknya seorang pahlawan yang pulang — padahal malam itu justru menjadi momen ia mengucapkan selamat tinggal.

Laga Ekshibisi yang Sarat Makna

Format laga penghormatan ini mempertemukan para mantan pemain Persik dari berbagai generasi. Wajah-wajah familiar yang pernah mengharumkan nama klub di kasta tertinggi sepak bola Indonesia kembali merumput, mengenakan lagi seragam kebanggaan demi satu tujuan: memberikan penghormatan terakhir kepada Faris Aditama. Skor akhir jelas bukan hal penting malam itu. Yang terpenting adalah 90 menit penuh nostalgia, tawa, dan tentu saja, air mata haru.

Faris sendiri tampil dengan senyum yang tak pernah lepas dari wajahnya. Beberapa kali ia memperagakan kemampuan khasnya — overlapping run di sisi kanan, umpan silang akurat, dan kecepatan yang selama ini menjadi identitas permainannya. Setiap sentuhan bola yang ia lakukan disambut riuh penonton. Setiap akselerasi di tepi lapangan seolah mengingatkan semua orang mengapa pemain ini begitu dicintai publik Kediri.

Di pinggir lapangan, jajaran pelatih dan ofisial klub ikut memberikan apresiasi. Momen paling mengharukan terjadi seusai pertandingan, ketika Faris berkeliling lapangan menyapa suporter di setiap sudut tribune. Plakat penghargaan, rangkaian bunga, dan pelukan dari rekan-rekan setimnya menjadi penutup yang sempurna untuk malam yang tak akan terlupakan ini.

Jejak Karier Produk Asli Akademi Persik

Faris Aditama bukan pemain yang datang dengan nama besar. Ia adalah produk asli pembinaan Persik, pemain yang meniti karier dari bawah, dari tim muda hingga akhirnya menembus starting XI tim senior. Perjalanan seperti inilah yang membuat hubungannya dengan klub dan suporter terasa begitu istimewa — ia bukan sekadar pemain, ia adalah bagian dari identitas klub itu sendiri.

Berposisi sebagai bek kanan yang juga nyaman bermain sebagai wing-back, Faris dikenal sebagai pemain modern. Dalam skema formasi yang menuntut bek sayap aktif menyerang, ia selalu menjadi jawaban. Kemampuannya naik-turun lapangan sepanjang 90 menit, ketenangan dalam menguasai bola, serta visi umpan yang dimilikinya membuatnya nyaris tak tergantikan di sektor kanan pertahanan sekaligus penyerangan Persik dalam beberapa musim terakhir.

Konsistensi itulah yang membuatnya dipercaya tampil musim demi musim, melewati berbagai pergantian pelatih dan perubahan taktik. Dari skema empat bek hingga tiga bek, dari sepak bola bertahan hingga penguasaan bola, Faris selalu mampu beradaptasi. Fleksibilitas taktik seperti ini adalah aset langka di sepak bola Indonesia, dan Persik menikmatinya lebih lama dari kebanyakan klub lain.

Babak Baru Menanti di Super League 2026/2027

Kepastian bahwa Faris tidak akan lagi membela Persik pada Super League 2026/2027 menandai berakhirnya sebuah era. Bagi klub, ini adalah kehilangan besar — bukan hanya dari sisi teknis, tetapi juga dari sisi nilai. Pemain homegrown yang setia dan tampil konsisten bukanlah komoditas yang mudah dicari penggantinya di bursa transfer.

Bagi Faris sendiri, kepergian ini membuka lembaran baru dalam kariernya. Di usia yang masih matang untuk seorang bek sayap, pengalaman baru di lingkungan berbeda bisa menjadi langkah tepat untuk mengangkat level permainannya. Ke mana pun ia berlabuh musim depan, satu hal pasti: klub barunya akan mendapatkan pemain dengan etos kerja tinggi, pemahaman taktik yang baik, dan mentalitas profesional yang sudah teruji di level tertinggi.

Malam penghormatan di Brawijaya pada akhirnya menjadi pengingat bahwa sepak bola bukan hanya soal skor akhir, penguasaan bola, atau shots on target. Ada hal-hal yang tak bisa diukur statistik: loyalitas, identitas, dan cinta antara pemain dengan klubnya. Faris Aditama mungkin akan mengenakan seragam berbeda musim depan, tetapi di mata suporter Persik, ia akan selalu menjadi bagian dari keluarga. Sekali Macan Putih, tetap Macan Putih.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
bayu-aji

Investigative Reporter. Spesialisasi: korupsi, pencucian uang, dan kejahatan korporasi.

Comments (0)

User