Kim Sang-sik: Arsitek Korea di Balik Kebangkitan Timnas Vietnam

Skor akhir: Thailand 2-3 Vietnam (agregat 3-5). Menit ke-90+20 di Stadion Rajamangala, Bangkok, Nguyen Hai Long melepaskan tembakan ke gawang kosong dari tengah lapangan, dan Piala AFF 2024 resmi terb...

Aug 08, 2026 - 10:50
0 0
Kim Sang-sik: Arsitek Korea di Balik Kebangkitan Timnas Vietnam

Skor akhir: Thailand 2-3 Vietnam (agregat 3-5). Menit ke-90+20 di Stadion Rajamangala, Bangkok, Nguyen Hai Long melepaskan tembakan ke gawang kosong dari tengah lapangan, dan Piala AFF 2024 resmi terbang ke Hanoi. Vietnam menutup final dramatis dengan kemenangan 3-2 atas tuan rumah, dan di tepi lapangan Kim Sang-sik mengepalkan tangan ke udara. Pelatih asal Korea Selatan itu baru delapan bulan memimpin, tetapi trofi regional ketiga dalam sejarah Vietnam sudah ia persembahkan.

Laga hidup sejak menit awal. Menit ke-8, Pham Tuan Hai membuka keunggulan Vietnam. Thailand membalas lewat Ben Davis pada menit ke-28 dan Supachok Sarachat pada menit ke-64. Tekanan tuan rumah menggila, tetapi bunuh diri Pansa Hemviboon pada menit ke-82 mengubah segalanya, sebelum gol Hai Long di masa injury time menjadi penutup cerita. Vietnam hanya mencatat sekitar 35 persen penguasaan bola, namun efisiensi serangan balik mereka luar biasa: sedikit shots on target, tiga berbuah gol kemenangan.

Dari Piala Dunia 2002 Menuju Kursi Panas Hanoi

Kim Sang-sik bukan nama sembarangan. Bek tangguh kelahiran 17 Desember 1976 ini pernah menjadi bagian skuad Korea Selatan di Piala Dunia 2002 — generasi emas asuhan Guus Hiddink yang finis di peringkat empat dunia. Sebagian besar karier bermainnya dihabiskan bersama Seongnam Ilhwa Chunma, klub yang membesarkan namanya sebagai salah satu defender paling disiplin di K League.

Sebagai pelatih, reputasinya dibangun di Jeonbuk Hyundai Motors. Musim debutnya pada 2021 langsung berbuah gelar K League 1, disusul trofi Piala FA Korea setahun kemudian. Ketika Federasi Sepak Bola Vietnam menunjuknya pada Mei 2024 menggantikan Philippe Troussier, banyak yang ragu. Vietnam sedang terpuruk dan akhirnya gagal menembus ronde ketiga Kualifikasi Piala Dunia 2026, sementara bayang-bayang keberhasilan Park Hang-seo masih memayungi Hanoi. Kim menjawab keraguan itu dengan cara paling meyakinkan: trofi.

Analisis Taktik: Blok Rendah dan Transisi Mematikan

Formula Kim sederhana namun brutal efektif. Ia memasang formasi 3-4-3 yang berubah menjadi 5-4-1 saat kehilangan bola, dengan blok rendah yang rapat dan disiplin posisi nyaris militeristik. Dua wing-back naik-turun tanpa henti, sementara lini depan bertumpu pada kekuatan Nguyen Xuan Son sebagai target man dalam skema serangan balik cepat.

Final di Bangkok menjadi studi kasus sempurna. Vietnam sengaja menyerahkan penguasaan bola, membiarkan Thailand mengurung pertahanan, lalu menyambar lewat transisi tiga-empat sentuhan. Kiper Nguyen Dinh Trieu tampil heroik di bawah mistar, dan lini belakang yang dikawal Do Duy Manh serta Nguyen Thanh Chung menahan gelombang serangan tuan rumah hingga detik terakhir. Ini bukan sepak bola indah — ini sepak bola yang menang.

Statistik Turnamen: Tak Terkalahkan dengan 21 Gol

Angka-angka Vietnam di Piala AFF 2024 berbicara keras. Juara Grup B dengan 10 poin hasil kemenangan 4-1 atas Laos, 1-0 atas Indonesia, imbang 1-1 kontra Filipina, dan pesta 5-0 ke gawang Myanmar. Di semifinal, Singapura disikat dengan agregat 5-1. Total dalam delapan pertandingan: 21 gol, hanya kemasukan enam, tujuh kemenangan, satu hasil imbang, dan tiga clean sheet.

Bintang terbesar tentu saja Xuan Son. Penyerang naturalisasi itu mengemas tujuh gol untuk merebut gelar top skor sekaligus pemain terbaik turnamen, termasuk dwigol di leg pertama final. Tragisnya, ia mengalami patah kaki di babak pertama leg kedua dan harus menyaksikan rekan-rekannya menuntaskan misi dari pinggir lapangan.

Melanjutkan Dinasti Korea, Membidik Mimpi Lebih Besar

Kim resmi melanjutkan dinasti pelatih Korea di Vietnam yang dirintis Park Hang-seo — sosok yang mempersembahkan trofi Piala AFF 2018 dan dua emas SEA Games. Sang penerus tidak berhenti di level senior. Sepanjang 2025, ia memimpin Vietnam U-23 menjuarai Piala AFF U-23 usai menang 1-0 atas Indonesia di final di Jakarta, lalu membawa tim U-22 merebut emas SEA Games 2025 lewat comeback dramatis 3-2 atas Thailand.

"Saya ingin Vietnam bermain dengan disiplin, keberanian, dan kebanggaan. Gelar-gelar ini bukan garis finis, melainkan titik awal untuk target yang jauh lebih besar," ujar Kim Sang-sik.

Target berikutnya sudah menanti: Kualifikasi Piala Asia 2027 dan mimpi besar bernama Piala Dunia. Dengan tiga trofi dalam kurang lebih setahun, era Kim Sang-sik di Vietnam baru saja dimulai — dan seluruh Asia Tenggara sudah diperingatkan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
indah-permata

Reporter Kriminal. Meliput Polri, kejaksaan, dan pengadilan pidana.

Comments (0)

User