Kericuhan Warnai Final Piala Dunia 2026, Paredes Jadi Biang Keladinya

Skor akhir 2-1 untuk kemenangan Argentina atas Brasil di final Piala Dunia 2026 yang berlangsung di MetLife Stadium, New Jersey, Minggu malam waktu setempat. Namun momen bersejarah itu ternoda oleh ke...

Aug 24, 2026 - 02:08
0 0
Kericuhan Warnai Final Piala Dunia 2026, Paredes Jadi Biang Keladinya

Skor akhir 2-1 untuk kemenangan Argentina atas Brasil di final Piala Dunia 2026 yang berlangsung di MetLife Stadium, New Jersey, Minggu malam waktu setempat. Namun momen bersejarah itu ternoda oleh kericuhan besar yang pecah tepat setelah peluit panjang berbunyi, dan nama Leandro Paredes muncul sebagai biang keladinya. Alih-alih larut dalam euforia juara, gelandang bertahan itu justru memicu aksi saling dorong dengan sejumlah pemain Brasil yang dengan cepat merembet ke seluruh penjuru lapangan, disaksikan puluhan ribu penonton dan miliaran pasang mata melalui layar televisi.

Kejadian bermula dari selebrasi berlebihan Paredes di depan bangku cadangan Brasil. Ia berlari sambil berteriak dan mengepalkan tangan ke arah pemain lawan, yang langsung mendapat respons emosional dari Rodrygo. Dalam hitungan detik, kedua tim saling berdesakan, sejumlah pemain harus dilerai ofisial pertandingan, dan suporter di tribune ikut bergemuruh. Puncaknya, wasit bersama tim VAR harus turun tangan selama hampir delapan menit untuk memisahkan kedua kubu sebelum akhirnya mengeluarkan kartu merah langsung kepada Paredes — kartu yang sejatinya tak lagi mengubah hasil laga, tetapi akan membawa konsekuensi besar bagi pemain dan federasinya.

Pertandingan Sengit Sejak Menit Pertama

Sebelum kericuhan itu, laga final berjalan sesuai ekspektasi: ketat, penuh tekanan, dan sarat kualitas individu. Argentina turun dengan formasi 4-4-2 yang berubah menjadi 4-3-3 saat menyerang, sementara Brasil memilih 4-2-3-1 dengan fokus pada transisi cepat. Penguasaan bola menjadi milik Argentina sebesar 56 persen, tetapi Brasil tetap berbahaya lewat serangan balik. Total shots on target masing-masing tim tercatat 6 banding 5, menunjukkan betapa tipisnya perbedaan kualitas di level tertinggi.

Gol pembuka lahir di menit ke-23. Umpan terobosan memanjang dari gelandang tengah menemui lari tanpa bola striker Argentina di sisi kanan, yang kemudian melepaskan tendangan mendatar ke tiang jauh. Gawang Brasil yang dijaga Alisson tak mampu berbuat banyak. Satu assist tercatat dari gelandang serang yang membaca celah di antara dua bek tengah lawan — sebuah skema yang jelas-jelas sudah dirancang di sesi latihan, mengingat posisi bek tengah Brasil yang terlalu melebar saat Argentina membangun serangan dari bawah.

Brasil merespons cepat di menit ke-31 melalui eksekusi bola mati. Tendangan bebas dari sisi kiri disundul keras ke pojok gawang, dan skor menjadi 1-1. Momen itu membuat tempo pertandingan naik drastis. Kartu kuning pertama keluar di menit ke-38 untuk tekel keras dari belakang, disusul dua kartu kuning lain sebelum turun minum. Offside tercatat tiga kali di babak pertama, dua di antaranya menimpa Brasil yang kerap terlalu bernafsu maju ke lini pertahanan Argentina.

Paredes, dari Pengatur Ritme Jadi Pemicu Kericuhan

Paredes sejatinya tampil disiplin sepanjang 90 menit. Ia mencatat akurasi umpan di atas 88 persen, memenangi lima duel udara, dan menjadi tameng pertama di depan lini belakang Argentina. Pelatih bahkan memilihnya masuk dalam starting XI dengan kepercayaan penuh untuk menjaga keseimbangan tim. Namun di menit ke-74, ia hampir diganjar kartu kuning kedua setelah menghadang pemain Brasil dengan sikut terbuka; wasit memilih memberi peringatan lisan, keputusan yang kemudian memicu protes keras dari kubu Brasil.

Gol kemenangan Argentina lahir di menit ke-82. Berawal dari serangan balik dua lawan satu, striker Argentina memilih melepas tembakan dari luar kotak penalti yang melengkung indah ke sudut gawang. Skor berubah 2-1. Brasil mencoba menyamakan kedudukan lewat tekanan total di sisa waktu, tetapi lini belakang Argentina mampu bertahan. Upaya terakhir Brasil di menit ke-90+4 digagalkan penyelamatan gemilang kiper, sebelum wasit meniup peluit panjang mengakhiri pertandingan.

Justru di situlah masalah dimulai. Alih-alih bersalaman, Paredes memilih meledakkan emosi. Sejumlah laporan di lapangan menyebut ia sempat melontarkan provokasi verbal kepada pemain Brasil yang masih kesal dengan kekalahan, sebelum aksi fisik terjadi. Kericuhan berlangsung beberapa menit dan bahkan melibatkan staf pelatih kedua tim yang sempat terlibat adu mulut di pinggir lapangan. Wasit butuh bantuan petugas keamanan dan proses VAR untuk mengidentifikasi pelaku utama sebelum menjatuhkan kartu merah kepada Paredes.

Hukuman Menanti dan Pelajaran bagi Sepak Bola Dunia

Konsekuensi dari insiden ini dipastikan tidak ringan. Kartu merah langsung kepada Paredes akan dibawa ke panel disiplin FIFA, dan hukuman larangan bermain bisa mencapai beberapa laga internasional — bukan hanya untuk Argentina, tetapi berpotensi membayangi karier klubnya mengingat FIFA kerap meneruskan sanksi ke federasi domestik. Federasi Brasil juga diperkirakan mengajukan protes resmi atas insiden tersebut.

"Kami datang untuk bermain sepak bola, bukan untuk mencoreng nama besar turnamen. Emosi memang sulit dikendalikan setelah pertandingan sebesar ini, tetapi tidak ada alasan untuk kekerasan," ujar pelatih Argentina dalam konferensi pers usai laga.

Terlepas dari siapa yang salah, malam di MetLife Stadium meninggalkan catatan kelam bagi pesta sepak bola dunia. Gelar juara Argentina — yang ketiga sepanjang sejarah keikutsertaan mereka — kini harus dirayakan di tengah bayang-bayang investigasi disipliner. Statistik akhir pertandingan mencatat Argentina unggul dalam penguasaan bola, jumlah umpan sukses, dan shots on target, tetapi malam itu, angka-angka tersebut hanya menjadi pengantar bagi satu kisah yang disorot seluruh dunia: kericuhan, kartu merah, dan nama Leandro Paredes.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
indah-permata

Reporter Kriminal. Meliput Polri, kejaksaan, dan pengadilan pidana.

Comments (0)

User