Final Piala Dunia 2026: Argentina Taklukkan Spanyol, Messi Jadi Raja

Skor akhir Argentina 2-1 Spanyol menahbiskan La Albiceleste sebagai juara Piala Dunia 2026 di Stadion New York/New Jersey, East Rutherford, pada 20 Juli 2026. Momen paling panas justru terjadi sebelum...

Aug 24, 2026 - 02:07
0 0
Final Piala Dunia 2026: Argentina Taklukkan Spanyol, Messi Jadi Raja

Skor akhir Argentina 2-1 Spanyol menahbiskan La Albiceleste sebagai juara Piala Dunia 2026 di Stadion New York/New Jersey, East Rutherford, pada 20 Juli 2026. Momen paling panas justru terjadi sebelum jeda, tepatnya menit ke-41, ketika Lionel Messi menunjuk tajam ke arah bek Spanyol Marc Cucurella. Wasit asal Slovenia, Slavko Vincic, tengah dicecar protes gelandang Argentina Enzo Fernandez setelah Video Assistant Referee (VAR) menunjuk titik putih: bola mengenai tangan Cucurella di kotak penalti. Satu tendangan penalti kemudian mengubah seluruh wajah final — dari tim yang tertinggal menjadi tim yang melaju dengan kepercayaan diri penuh menuju gelar kedua beruntun.

Babak Pertama: Tiki-taka Spanyol dan Penalti Kontroversial

Spanyol membuka final dengan formasi 4-3-3 dan langsung mengambil alih ritme. Menit ke-21, Pedri membuka keunggulan lewat assist terukur Lamine Yamal dari sayap kanan; tembakan first-time gelandang Barcelona itu gagal dihalau Emiliano Martinez. Pada fase tersebut penguasaan bola Spanyol menyentuh 62 persen dan Argentina nyaris tanpa serangan balik efektif. Namun menit ke-41 semuanya berubah. Umpan silang Messi membentur lengan Cucurella yang sedikit terangkat, dan setelah peninjauan VAR selama dua menit, Vincic menunjuk titik putih. Kerumunan di sekitar wasit langsung tegang: Cucurella mengangkat kedua tangan, Enzo Fernandez terus mendesak Vincic, sementara Messi berdiri di depan Cucurella sambil menunjuk ke arahnya — gambaran yang akan mengisi seluruh headline esok hari. Messi menuntaskan eksekusi penalti ke pojok kiri gawang Unai Simon dan skor menjadi 1-1. Babak pertama ditutup dengan shots on target imbang 3-3, tetapi momentum jelas berpihak kepada Argentina.

Babak Kedua: Restrukturisasi Scaloni dan Gol Kemenangan

Pelatih Argentina Lionel Scaloni mengejutkan semua orang dengan mengubah formasi menjadi 4-4-2 diamond di awal babak kedua. Rodrigo De Paul bergeser lebih dalam, Enzo Fernandez dan Alexis Mac Allister mengunci lini tengah, sementara dua penyerang Julián Alvarez dan Lautaro Martinez ditaruh sejajar di depan. Hasilnya langsung terasa: Argentina menguasai bola 44 persen di babak kedua — angka tertinggi mereka sepanjang turnamen — dan mulai menekan tinggi. Menit ke-67, gol kemenangan lahir dari kerja sama duet Messi-Alvarez. Messi menerima bola di antara lini, melepaskan umpan terobosan sejauh 25 meter menembus celah Cucurella dan Le Normand, lalu Julián Alvarez menyelesaikannya dengan lob dingin melewati Unai Simon. Spanyol mencoba membalas lewat masuknya Dani Olmo dan Mikel Oyarzabal, namun pertahanan Argentina yang dikomandoi Cristian Romero tetap kokoh. Menit ke-88, Yamal nyaris menyamakan kedudukan, tetapi tembakannya hanya membentur tiang — shots on target akhir: Argentina 6, Spanyol 4.

Analisis Pemain Kunci: Messi, Cucurella, dan Enzo Fernandez

Messi, 39 tahun, kembali membuktikan kelasnya di panggung terbesar: satu gol, satu assist, tiga peluang diciptakan, dan rating tertinggi pertandingan. Ia juga memenangi lima duel udara dan dua kali dilanggar — angka yang membuktikan Spanyol tidak pernah berhasil memutus sirkulasinya sepanjang 90 menit. Cucurella, sebaliknya, mengalami malam yang sulit: ia tercatat kehilangan bola 14 kali, menerima kartu kuning pada menit ke-72 menyusul pelanggaran terhadap Messi, dan menjadi pusat kontroversi penalti. Enzo Fernandez tampil sebagai pengatur tempo: 87 persen akurasi umpan dari 102 operan, tiga tackle sukses, dan duel sengit dengan Rodri sepanjang laga.

"Kami kalah dari tim yang bermain lebih detail malam ini. Penalti itu memang layak, tapi anak-anak saya sudah bertarung hingga batas akhir," ujar pelatih Spanyol Luis de la Fuente dalam konferensi pers usai laga.
"Saya hanya bilang kepada tim: jangan pernah berhenti percaya. Para pemain ini menjawab dengan cara yang paling indah — trofi di tangan," kata Scaloni.

Catatan Sejarah dan Dampak

Kemenangan ini mengukuhkan Argentina sebagai juara bertahan pertama sejak Brasil 1962 yang mempertahankan gelar. Spanyol, yang tak terkalahkan dalam 21 laga sebelum final, harus menerima kenyataan pahit: kekalahan ini juga menghentikan rekor 15 kemenangan beruntun mereka. Tidak ada clean sheet dalam laga ini; wasit Vincic mengeluarkan total empat kartu kuning tanpa kartu merah, dan VAR hanya campur tangan pada satu insiden — insiden yang justru menjadi titik balik laga. Dengan penguasaan bola akhir 57 persen milik Spanyol berbanding 43 persen milik Argentina, statistik kembali membuktikan satu hal: di final, efisiensi mengalahkan estetika.

Malam di East Rutherford itu menutup satu era dengan cara yang dramatis. Messi meninggalkan lapangan dengan trofi ketiganya sebagai kapten, sementara jutaan pasang mata di tribun dan di depan layar menyaksikan salah satu final terbaik dalam sejarah turnamen.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
fajar-ramadhan

Editor Hukum. Alumni FH UI. Meliput pengadilan, MA, dan judicial review.

Comments (0)

User