Kericuhan Pasca-Final Piala Dunia 2026, Paredes Jadi Biang Kerusuhan

Skor akhir 3-2 untuk Argentina atas Prancis di final Piala Dunia 2026 seharusnya menjadi malam kebanggaan, namun euforia berubah menjadi kericuhan panjang di luar Stadion MetLife setelah peluit akhir....

Oct 08, 2026 - 09:07
0 0
Kericuhan Pasca-Final Piala Dunia 2026, Paredes Jadi Biang Kerusuhan

Skor akhir 3-2 untuk Argentina atas Prancis di final Piala Dunia 2026 seharusnya menjadi malam kebanggaan, namun euforia berubah menjadi kericuhan panjang di luar Stadion MetLife setelah peluit akhir. Semua mata tertuju pada satu sosok: gelandang bertahan Leandro Paredes, yang disebut-sebut sebagai biang keladi kerusuhan yang melibatkan suporter, aparat keamanan, dan pemain cadangan kedua tim.

Pertandingan sendiri berjalan dengan tensi luar biasa sejak menit awal. Argentina bermain dengan formasi 4-3-3 yang disempurnakan menjadi 4-4-2 pressing tinggi di fase bertahan, sementara Prancis mempercayakan serangan balik cepat lewat sayap kanan. Menit ke-11, sepakan voli dari tepi kotak penalti membobol gawang dan membuka keunggulan. Prancis merespons cepat: menit ke-28, sebuah assist silang rendah diselesaikan dengan penyelesaian kaki kiri yang menusuk. Skor bertahan 1-1 hingga turun minum, dengan penguasaan bola 54% berbanding 46% milik Argentina.

Memasuki babak kedua, Argentina menambah intensitas pressing. Menit ke-63, umpan terobosan diagonal berhasil dikonversi menjadi gol kedua, sebelum Prancis menyamakan kedudukan lewat titik putih pada menit ke-77 setelah keputusan VAR menunjukkan pelanggaran tangan di kotak terlarang. Gol penentu lahir pada menit ke-89, memanfaatkan kerancuan lini belakang Prancis usai sepak pojok. Total laga mencatat shots on target 9-7 untuk Argentina, dengan lima peluang emas tercipta di dalam kotak penalti masing-masing tim.

Babak Pertama: Duel Taktik dan Tegangnya Lini Tengah

Sejak kick-off, pertandingan dipenuhi duel fisik di lini tengah. Kedua pelatih menurunkan starting XI terkuatnya, dengan catatan tak ada pemain yang absen akibat cedera. Argentina menekan melalui umpan pendek satu-dua di sisi kiri, sementara Prancis mengandalkan kecepatan sayap untuk menembus garis pertahanan. Statistik menunjukkan Argentina mencatat 6 peluang pada 45 menit pertama, tiga di antaranya mengarah tepat ke gawang, sementara Prancis hanya mampu melepaskan dua shots on target dari total lima percobaan.

Namun nada pertandingan mulai berubah sejak menit ke-35. Sebuah tekel keras dari Paredes terhadap gelandang Prancis memantik keributan kecil di area tengah lapangan. Kartu kuning pertama keluar sebagai peringatan. Rekam ulang VAR sempat memeriksa apakah tekel tersebut layak mendapat kartu merah, namun wasit memutuskan hukuman tetap pada kartu kuning. Keputusan ini kemudian menjadi bahan diskusi panjang selepas pertandingan, terutama oleh kubu Prancis.

Selepas turun minum, Argentina tampak lebih terorganisir dalam mengelola tempo. Penguasaan bola mereka naik ke 57%, dengan distribusi umpan berhasil mencapai angka 89%. Prancis memilih menunggu dan membangun serangan balik, strategi yang membuahkan gol penyama kedudukan dari titik penalti. Menit ke-70 hingga menit ke-85 berjalan sangat terbuka; peluang-peluang emas datang silih berganti, dan clean sheet praktis menjadi kata yang tidak berlaku untuk kedua kiper di laga ini.

Momen Pasca-Peluit Akhir: Paredes di Tengah Kerumunan

Ketika peluit akhir dibunyikan, pemain Argentina merayakan kemenangan di area tengah lapangan. Namun, di lorong ruang ganti, kamera menangkap Paredes terlibat perdebatan sengit dengan ofisial tim Prancis. Situasi memanas ketika sekelompok suporter yang berusaha turun dari tribun mencoba mendekati para pemain. Aparat keamanan sigap membentuk barisan, tetapi kerumunan terus memadat.

Menit-menit pertama selepas laga berubah kacau. Botol air terlempar ke area Mixed Zone, bendera tim dirobek, dan dua staf media melaporkan luka ringan akibat dorongan. Paredes dalam rekaman yang beredar terlihat mendorong seorang petugas yang mencoba menahannya, tindakan yang langsung menuai kritik keras dari berbagai pihak. Asosiasi Sepak Bola Argentina dikabarkan akan melakukan investigasi internal dalam 48 jam ke depan.

"Paredes adalah pemain hebat, tapi hari ini ia gagal menjaga emosinya. Wasit sudah mengambil keputusan, VAR sudah diperiksa, tugas kami adalah menerima hasil," ujar seorang analis pertandingan pasca-laga.

Reaksi dan Konsekuensi: Apa Kata Statistik dan Regulasi

Data pertandingan menegaskan bahwa Argentina layak menang berdasarkan peluang yang diciptakan: total 16 shots dengan 9 di antaranya on target, dibanding Prancis yang mencatat 13 percobaan dengan tujuh mengarah ke gawang. Penguasaan bola akhir berakhir 55%-45% untuk Argentina. Tiga gol dari sepuluh peluang besar menunjukkan efisiensi lini depan yang sangat tinggi, sementara dua gol Prancis lahir dari momen transisi cepat dan situasi mati.

Di luar angka-angka tersebut, regulasi FIFA soal disiplin pasca-pertandingan jadi sorotan utama. Pelanggaran yang melibatkan pemain terhadap ofisial atau aparat bisa berujung larangan tampil di laga internasional berikutnya, bahkan denda tim. Jika VAR tidak menemukan pelanggaran terencana dalam kerusuhan tersebut, sanksi kemungkinan besar dijatuhkan lewat jalur disiplin konvensional.

Insiden ini menutup turnamen penuh drama dengan catatan statistik gemilang namun rekam jejak kelam. Bagi Paredes, momen ini berpotensi mengubur reputasi sportivitas yang dibangunnya selama satu dekade. Bagi Argentina, trofi tetap berada di tangan, namun diskorsi soal tanggung jawab pemain akan terus bergema hingga turnamen berikutnya dimulai. Final Piala Dunia 2026, sayangnya, akan dikenang sebagian besar karena angka-angka brilian di lapangan, dan sebagian lainnya karena kerumunan kacau selepas pertandingan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
indah-permata

Reporter Kriminal. Meliput Polri, kejaksaan, dan pengadilan pidana.

Comments (0)

User