Keributan Usai Final: Gavi Terjatuh saat Bentrok dengan Paredes dan Almada
Skor akhir 2-1 untuk kemenangan Argentina atas Spanyol di final Piala Dunia 2026 belum menjadi cerita terbesar malam itu. Momen yang justru memicu perbincangan luas terjadi setelah peluit panjang berb...
Skor akhir 2-1 untuk kemenangan Argentina atas Spanyol di final Piala Dunia 2026 belum menjadi cerita terbesar malam itu. Momen yang justru memicu perbincangan luas terjadi setelah peluit panjang berbunyi di MetLife Stadium, East Rutherford, New Jersey, dekat New York, Minggu, 19 Juli 2026. Gelandang muda Spanyol Gavi terlihat terjatuh di tengah kerumunan pemain ketika terlibat keributan dengan gelandang Argentina Leandro Paredes bernomor punggung 5 serta Thiago Almada. Kericuhan di tepi lapangan itu seketika mencuri perhatian kamera dan mengalahkan selebrasi juara La Albiceleste.
Duel puncak ini berjalan sengit sejak menit pertama. Spanyol mendominasi penguasaan bola dengan catatan 58 persen, sementara Argentina tampil pragmatis dengan pertahanan rapat dan serangan balik cepat. Efisiensi menjadi pembeda utama: Argentina mencatatkan 6 shots on target dari 14 percobaan, sedangkan Spanyol hanya 5 shots on target dari 17 tembakan. Angka itu menegaskan bahwa kualitas penyelesaian akhir, bukan kuantitas serangan, yang menentukan gelar juara.
Babak Pertama: Tiki-taka Berhadapan dengan Tembok Pertahanan
Spanyol membuka laga dengan formasi 4-3-3 yang mengandalkan penguasaan bola dan rotasi cepat di lini tengah. Starting XI Spanyol menempatkan Gavi sebagai gelandang serang di belakang trio penyerang, sementara Argentina menjawab dengan formasi 4-4-2 yang menutup ruang antar lini. Menit ke-23, Gavi melepaskan tendangan voli dari tepi kotak penalti setelah menerima assist dari rekan setimnya, tetapi kiper Argentina bereaksi cepat dan menepis bola keluar. Itu menjadi peringatan pertama bagi pertahanan La Albiceleste.
Spanyol terus menekan dan mencatatkan 61 persen penguasaan bola pada babak pertama, namun kebuntuan justru lahir dari serangan balik. Menit ke-34, Argentina memecah kebuntuan lewat transisi cepat: umpan terobosan menembus garis pertahanan Spanyol yang terlalu tinggi, dan penyerang sayap Argentina menuntaskannya dengan tembakan first-time ke pojok gawang. Spanyol mencoba merespons, tetapi hingga turun minum skor tetap 1-0. Babak pertama ditutup dengan keunggulan Argentina.
Babak Kedua: Gol Balasan, Keputusan VAR, dan Drama Menit Akhir
Memasuki babak kedua, Spanyol meningkatkan tempo dan menekan lebih tinggi. Menit ke-58, Gavi kembali menjadi penggerak serangan; dua tembakannya dalam tiga menit memaksa kiper Argentina melakukan penyelamatan beruntun. Usaha itu akhirnya membuahkan hasil pada menit ke-66. Gol berawal dari assist Gavi yang mengirim umpan silang mendatar, disambut sundulan pemain pengganti Spanyol untuk menyamakan kedudukan menjadi 1-1.
Empat menit berselang, keriuhan pecah di tribun. Tembakan Spanyol membentur lengan bek Argentina di dalam kotak penalti dan wasit sempat menunjuk titik putih. Namun, VAR turun tangan dan menganulir keputusan setelah tayangan ulang memperlihatkan bola lebih dulu mengenai dada sebelum memantul ke lengan. Menit ke-74, giliran gol Spanyol yang dianulir karena offside; asisten wasit mengangkat bendera lebih dulu sebelum bola melewati garis. Dua keputusan itu membuat tensi meningkat.
Argentina akhirnya memastikan gelar lewat gol kedua pada menit ke-81. Tendangan bebas dari sisi kanan dikirim ke tiang jauh dan disambut sundulan keras yang tak mampu dihalau kiper Spanyol, membuat skor menjadi 2-1. Sisa laga berjalan panas: Spanyol mendapat kartu kuning pada menit ke-85 akibat pelanggaran keras, dan pada menit ke-90+3 Argentina nyaris menambah gol lewat serangan balik sebelum kiper Spanyol melakukan penyelamatan penting. Peluit panjang berbunyi dengan skor akhir 2-1.
Keributan Pasca-Laga: Gavi Terjatuh dalam Bentrok dengan Paredes dan Almada
Ketegangan rupanya tidak berakhir saat wasit meniup peluit panjang. Gavi yang terlihat kecewa mendekati area pemain Argentina dan terjadi adu mulut dengan Paredes. Situasi cepat memanas ketika Almada ikut terlibat, dan dalam dorong-mendorong itu Gavi terjatuh ke rumput di tengah kerumunan. Petugas keamanan serta staf pelatih kedua tim segera berlari memisahkan para pemain, sementara rekan setim menuntun Gavi menjauh dari kerumunan. Rekaman kamera memperlihatkan wajah tegang kedua kubu, dan kericuhan baru benar-benar reda beberapa menit kemudian.
Menariknya, ketegangan pasca-laga ini kontras dengan catatan disiplin selama 90 menit yang hanya mencatatkan tiga kartu kuning — dua untuk Spanyol dan satu untuk Argentina — tanpa kartu merah. Artinya, emosi yang meledak justru muncul setelah pertandingan usai, fenomena yang kerap terjadi ketika partai puncak berakhir dengan selisih tipis. Hingga berita ini ditulis, belum ada pernyataan resmi dari federasi terkait, tetapi insiden ini berpotensi ditinjau komite disiplin berdasarkan laporan wasit dan rekaman VAR.
Kata Pelatih dan Catatan Statistik Akhir
"Kami kecewa, semua pemain kecewa. Kehilangan gelar dengan selisih satu gol sangat menyakitkan. Yang terjadi setelah laga adalah bagian dari emosi pertandingan, tetapi itu bukan pembenaran," ujar pelatih Spanyol dalam konferensi pers seusai laga.
"Kami memenangi final, itu yang terpenting. Saya tidak melihat detail insiden itu, tetapi kami akan memastikan para pemain tetap tenang dan menghormati lawan," kata pelatih Argentina.
Secara keseluruhan, statistik akhir menegaskan dominasi Spanyol dalam hal kepemilikan bola dengan penguasaan bola 58-42 persen dan akurasi umpan 89 persen berbanding 81 persen. Namun, Argentina unggul dalam hal shots on target 6-5 dan memenangkan duel udara yang menjadi kunci dua gol mereka. Untuk Spanyol, kegagalan mengonversi dominasi menjadi kemenangan menjadi pekerjaan rumah besar, sementara Argentina membuktikan bahwa gelar juara tidak selalu lahir dari tim yang paling banyak menguasai bola.
Comments (0)