Gavi Terlibat Keributan dengan Paredes dan Almada Usai Final Piala Dunia

Peluit panjang mengakhiri laga, dan stadion di East Rutherford, New Jersey, langsung berubah dari panggung selebrasi menjadi arena ketegangan. Skor akhir 3-2 telah mengunci Argentina sebagai juara dun...

Aug 24, 2026 - 02:11
0 0
Gavi Terlibat Keributan dengan Paredes dan Almada Usai Final Piala Dunia

Peluit panjang mengakhiri laga, dan stadion di East Rutherford, New Jersey, langsung berubah dari panggung selebrasi menjadi arena ketegangan. Skor akhir 3-2 telah mengunci Argentina sebagai juara dunia 2026, tetapi malam itu belum benar-benar usai. Gavi, gelandang serang Spanyol, terjatuh ke rumput usai terlibat keributan dengan Leandro Paredes dan Thiago Almada di tengah lapangan, hanya beberapa menit setelah peluit terakhir dibunyikan di pertandingan yang digelar dekat New York itu, Minggu (19/7/2026).

Kamera menangkap momen adu mulut antara Gavi dan Paredes yang kian memanas, lalu Almada ikut terlibat, dan dalam sekejap kontak fisik terjadi. Gavi terjatuh, rekan-rekan dari kedua kubu saling dorong, hingga staf pelatih dan petugas keamanan akhirnya memisahkan mereka. Tak ada kartu yang dikeluarkan karena pertandingan sudah tuntas, tapi bayang-bayang sanksi disiplin FIFA kini menggantung di atas kepala beberapa nama.

Kronologi Keributan Pasca-Peluit Panjang

Menurut rekaman kamera, insiden bermula dari percakapan sengit di area tengah lapangan. Gavi terlihat mendatangi Paredes, pemain yang sempat menerima kartu kuning pada menit ke-84, dan keduanya berhadapan dengan wajah memerah. Almada, yang tampil sebagai starter sekaligus pencetak gol penyama kedudukan, mendekat dan memihak rekan setimnya. Sekitar sepuluh detik kemudian, Gavi terjatuh ke rumput dan memicu kerumunan pemain dari kedua tim.

Belum jelas siapa yang memulai kontak fisik. Yang pasti, suasana yang tadinya meriah berubah tegang dalam sekejap. Paredes sendiri dikenal sebagai pemain dengan gaya keras; statistik mencatat ia melakukan empat pelanggaran sepanjang laga, tertinggi di antara seluruh pemain Argentina. Sebaliknya, Gavi jarang terprovokasi, dengan rata-rata hanya 0,7 pelanggaran per laga sepanjang turnamen ini.

Drama Final yang Berakhir 3-2

Ketegangan pasca-laga tak bisa dilepaskan dari betapa sengitnya pertandingan sebelumnya. Starting XI Spanyol tampil dengan formasi 4-3-3: Unai Simon di bawah mistar, lini tengah diisi Pedri, Rodri, dan Fabian Ruiz, plus trio sayap Lamine Yamal dan Nico Williams. Argentina menjawab dengan formasi 4-4-2 ala Lionel Scaloni, menempatkan Julian Alvarez dan Lautaro Martinez di lini depan.

Menit ke-23, Lamine Yamal membuka skor setelah menerima assist terukur dari Pedri. Tendangan kaki kirinya dari sisi kanan tak mampu dijangkau Dibu Martinez, dan itu menjadi gol kedelapan Yamal di turnamen ini. Argentina menyamakan kedudukan pada menit ke-41 lewat Julian Alvarez, memanfaatkan assist Enzo Fernandez, dan babak pertama ditutup imbang 1-1 dengan penguasaan bola Spanyol mencapai 61 persen.

Babak kedua berjalan lebih liar. Menit ke-58, Gavi, ya pemain yang sama, melepaskan tembakan first-time dari luar kotak penalti setelah assist Nico Williams dan membuat skor menjadi 2-1 untuk Spanyol. Publik mulai bermimpi tentang gelar kedua La Roja. Namun Argentina membalas lewat Thiago Almada pada menit ke-79, memanfaatkan assist Mac Allister, dan laga kembali imbang 2-2. Sebelumnya, pada menit ke-67 sempat terjadi drama VAR: gol Julian Alvarez dianulir karena offside tipis. Shots on target hingga 90 menit: Spanyol 6, Argentina 5.

Perpanjangan waktu menjadi babak penentuan. Menit ke-104, Lautaro Martinez lolos dari jebakan offside berkat umpan terobosan Mac Allister dan menuntaskannya dengan dingin. Skor 3-2 untuk Argentina bertahan hingga peluit akhir. Penguasaan bola akhir: Spanyol 58 persen berbanding 42 persen, namun Albiceleste membuktikan efisiensi di depan gawang.

Reaksi Pelatih dan Dampak Disiplin

Lionel Scaloni, pelatih Argentina, mencoba meredam narasi negatif seusai insiden tersebut.

Emosi pasca-final memang sulit dikendalikan. Ini momen puncak karier para pemain, dan panasnya pertandingan kadang terbawa ke luar lapangan. Tapi kami tetap menghormati Spanyol, lawan yang luar biasa sepanjang turnamen ini.

Di sisi lain, Luis de la Fuente menyayangkan insiden yang mencoreng laga final.

Saya bangga dengan perjuangan anak-anak, bertahan hingga 90 menit dan kalah di perpanjangan waktu bukan hal yang memalukan. Tapi insiden setelah laga itu tidak perlu terjadi. Kami akan mempelajari rekaman dan menyerahkan semuanya kepada FIFA.

Kedua federasi kini menunggu keputusan komite disiplin. Jika terbukti melakukan kontak fisik yang berlebihan, Paredes dan Almada bisa diganjar larangan bermain di pertandingan internasional berikutnya, sementara Gavi berpotensi dijatuhi sanksi serupa. Catatan sejarah menunjukkan, keributan pasca-final pernah berujung denda dan skorsing pada edisi-edisi sebelumnya.

Terlepas dari insiden itu, Argentina menutup turnamen dengan catatan impresif: clean sheet yang hanya gagal dipertahankan di laga final setelah tujuh pertandingan sebelumnya tanpa kebobolan. Spanyol, sebaliknya, pulang dengan kepala tegak karena tak terkalahkan di waktu normal sepanjang turnamen. Satu hal yang pasti, duel sengit di East Rutherford ini akan dikenang sebagai salah satu final paling dramatis dalam sejarah Piala Dunia, lengkap dengan skor 3-2, perpanjangan waktu, dan epilog keributan yang tak kalah panas.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
vina-melati

Data Journalist Hukum. Visualisasi data kejahatan dan analisis tren kriminal.

Comments (0)

User