Kemenangan Argentina Tercoreng: Paredes Pemicu Kericuhan Final Piala Dunia
Pesta juara Argentina berubah menjadi panggung pertengkaran. Skor akhir 2-1 untuk La Albiceleste lewat babak perpanjangan di MetLife Stadium, New Jersey, seharusnya menjadi penutup yang sempurna bagi ...
Pesta juara Argentina berubah menjadi panggung pertengkaran. Skor akhir 2-1 untuk La Albiceleste lewat babak perpanjangan di MetLife Stadium, New Jersey, seharusnya menjadi penutup yang sempurna bagi turnamen. Namun, begitu peluit panjang berbunyi, kericuhan justru pecah di tengah lapangan, dan nama Leandro Paredes langsung ditunjuk sebagai biang keladinya. Kejadian ini mengiringi gelar juara dunia ketiga Argentina dengan noda yang sulit dihapus.
Laga yang berlangsung sengit sejak menit pertama ini menampilkan dua pendekatan taktik yang kontras. Argentina tampil dengan formasi 4-3-3 ala Lionel Scaloni, sementara Belanda memilih 3-4-3 dengan sayap yang agresif. Data pertandingan mencatat penguasaan bola Argentina 58 persen berbanding 42 persen milik Belanda, meski efisiensi serangan Oranje sempat membuat laga tetap seimbang hingga menit akhir.
Babak Pertama: Penguasaan Bola Argentina, Ancaman Balik Belanda
Sejak kick-off, starting XI Argentina yang mengandalkan Lionel Messi sebagai playmaker di belakang Lautaro Martínez langsung mengambil inisiatif. Menit ke-12, umpan terobosan Julián Álvarez membuka ruang, tetapi tembakan pertama masih bisa diantisipasi kiper Belanda. Menit ke-34, Argentina akhirnya memecah kebuntuan. Umpan terobosan Álvarez dari sisi kanan disambut tendangan first-time Lautaro Martínez yang menembus sudut sempit gawang Belanda. Gol itu lahir dari rangkaian 12 operan, dan assist resmi dicatatkan atas nama Álvarez. Belanda merespons cepat; menit ke-41, Virgil van Dijk hampir menyamakan kedudukan lewat sundulan dari sepak pojok, tetapi Emiliano Martínez tampil gemilang dengan penyelamatan krusial.
Babak pertama ditutup dengan Argentina unggul 1-0, meski Belanda mencatat 3 shots on target dari 6 percobaan. Wasit mengeluarkan kartu kuning pertama laga ini kepada gelandang Belanda pada menit ke-39 usai pelanggaran keras di tengah lapangan.
Babak Kedua Hingga Perpanjangan: Gol, VAR, dan Ketegangan
Belanda keluar dengan intensitas lebih tinggi setelah turun minum. Menit ke-67, tekanan panjang akhirnya membuahkan hasil: Cody Gakpo melewati bek kiri Argentina dan melepaskan tendangan mendatar ke tiang jauh yang tak mampu dijangkau Emiliano Martínez. Skor imbang 1-1 membuat pertandingan kembali terbuka. Pelatih Belanda merespons dengan memasukkan dua penyerang segar dan mengubah formasi menjadi 4-2-4 pada 15 menit terakhir waktu normal.
Petualangan berlanjut ke babak perpanjangan, dan VAR menjadi pusat perhatian. Menit ke-96, gol Belanda dianulir setelah tinjauan VAR menemukan posisi offside pada pemain sayapnya saat menerima umpan. Keputusan itu memicu protes keras dari bangku cadangan Oranje sekaligus menaikkan tensi pertandingan. Argentina membalas pada menit ke-108: Messi melepaskan tendangan bebas melengkung dari jarak 24 meter yang bersarang di pojok kanan atas gawang, gol yang lahir dari pelanggaran terhadapnya sesaat sebelumnya. Skor akhir 2-1 untuk Argentina, dengan total shots on target 7-4 dan lima kartu kuning sepanjang laga.
Kericuhan Pasca-Final: Paredes Jadi Biang Keladi
Bukan trofi yang menjadi pembicaraan setelah laga usai, melainkan kericuhan yang pecah di tengah lapangan. Saat pemain Argentina merayakan gelar, Leandro Paredes terlihat mendekati kelompok pemain Belanda yang tengah berdebat dengan wasit. Paredes, yang baru masuk sebagai pemain pengganti pada babak perpanjangan, disebut memprovokasi dengan gestur dan dorongan ke arah Virgil van Dijk. Dalam hitungan detik, puluhan pemain dari kedua tim terlibat adu dorong, dan ofisial serta petugas keamanan harus turun tangan untuk memisahkan mereka. Tak ada kartu merah yang bisa dikeluarkan wasit karena pertandingan telah berakhir, tetapi insiden itu terekam kamera dan langsung viral di media sosial.
Konteks penting: Paredes dan Van Dijk memang memiliki catatan perseteruan sejak perempat final Piala Dunia 2022. Malam itu, dendam lama itu tampak meledak di atas lapangan juara dunia, mengubah perayaan menjadi adegan yang memalukan bagi kedua tim.
Reaksi Pelatih dan Ancaman Sanksi
Lionel Scaloni tak menampik insiden itu mencoreng kemenangan timnya. Dalam konferensi pers usai laga, ia menegaskan bahwa kejadian tersebut berada di luar kendali tim.
“Apa yang terjadi setelah peluit akhir bukanlah cerminan tim ini. Kami memenangi Piala Dunia dengan kerja keras, dan kami harus meminta maaf karena perayaan itu berubah menjadi pertengkaran. Saya akan berbicara dengan semua pemain, termasuk Paredes.”
Sementara itu, federasi Belanda dikabarkan akan melayangkan protes resmi ke FIFA terkait insiden tersebut. Paredes berpotensi menghadapi sanksi larangan bertanding beberapa laga tim nasional, sementara pemain lain yang terlibat juga tengah diselidiki komisi disiplin. Bagi Argentina, gelar ketiga tetap tercatat dalam sejarah, tetapi pertanyaan besarnya kini bukan lagi siapa yang menang, melainkan bagaimana FIFA menindak biang keladi kericuhan paling kontroversial di final Piala Dunia dalam sejarah turnamen.
Comments (0)