Skor akhir 2-1 untuk Argentina atas Swiss di perempat final Piala Dunia 2026, tetapi pertandingan itu akan lebih dikenang karena satu momen kontroversial: kartu merah Breel Embolo pada menit ke-67 yang mengubah jalannya laga. Bermain dengan sepuluh pemain selama lebih dari 20 menit, Swiss harus mengubur mimpi semifinal mereka di Stadion MetLife, New Jersey, dalam laga yang berlangsung dramatis hingga peluit panjang.
Jalannya Pertandingan: Dominasi Argentina Sejak Awal
Argentina memulai laga dengan formasi 4-3-3, menempatkan Julian Alvarez sebagai ujung tombak tunggal didampingi dua winger cepat. Sebaliknya, Swiss mengandalkan skema 4-2-3-1 dengan Embolo sebagai penyerang tunggal, berharap mampu menyerang lewat serangan balik cepat. Statistik babak pertama menunjukkan penguasaan bola 61 persen untuk Argentina berbanding 39 persen milik Swiss, dengan total shots on target 4-1.
Menit ke-18, Argentina membuka keunggulan lewat gol Alvarez setelah menerima assist terukur dari Enzo Fernandez. Umsan terobosan di antara dua bek tengah Swiss membuat kiper Yann Sommer tidak berkutik. Swiss merespons pada menit ke-34 melalui sundulan Manuel Akanji yang masih menyamping tipis di sisi kiri gawang Emiliano Martinez. Babak pertama ditutup dengan keunggulan tipis 1-0 untuk Argentina, disertai dua kartu kuning masing-masing untuk Nicolas Otamendi dan Granit Xhaka akibat perselisihan di lini tengah.
Momen Kontroversial: Kartu Merah Embolo dan Drama VAR
Menit ke-67 menjadi titik balik pertandingan. Breel Embolo melakukan tekel keras terhadap Rodrigo De Paul di tengah lapangan. Wasit awalnya memberikan kartu kuning, namun setelah peninjauan VAR di monitor pinggir lapangan, keputusan diubah menjadi kartu merah langsung. Embolo meninggalkan lapangan dengan ekspresi tak percaya, sementara pelatih Swiss, Murat Yakin, melayangkan protes keras dari pinggir lapangan. Insiden ini menjadi kartu merah pertama bagi Swiss di fase gugur Piala Dunia 2026.
"Keputusan itu mengubah segalanya. Kami kehilangan pemain penting di momen krusial, dan itu tidak bisa diterima," ujar Yakin dalam konferensi pers usai laga, dikutip dari pernyataannya kepada media.
Sejak menit itu, Swiss bermain dengan sepuluh pemain dan terpaksa menarik satu pemain sayap untuk memperkuat lini tengah. Argentina memanfaatkan keunggulan jumlah pemain dengan menguasai bola hingga 68 persen pada sisa pertandingan. Menit ke-79, Argentina menggandakan keunggulan lewat tendangan keras Lautaro Martinez dari luar kotak penalti, memanfaatkan ruang kosong yang ditinggalkan lini belakang Swiss.
Reaksi Swiss dan Analisis Statistik Akhir
Meski tertinggal dua gol dan kekurangan pemain, Swiss menunjukkan mentalitas baja. Menit ke-88, Xherdan Shaqiri memperkecil kedudukan lewat tendangan bebas melengkung yang menembus sudut kanan atas gawang Argentina. Gol itu membangkitkan asa, tetapi waktu tidak cukup untuk mengejar ketertinggalan. Skor akhir 2-1 memastikan Argentina melaju ke semifinal.
Statistik akhir pertandingan memperlihatkan Argentina unggul jauh: penguasaan bola 65 persen berbanding 35 persen, shots on target 7-3, dan jumlah umpan akurat 512 berbanding 287. Swiss mencatatkan 4 kartu kuning dan 1 kartu merah, sementara Argentina mengumpulkan 3 kartu kuning. Kiper Emiliano Martinez mencatatkan 3 penyelamatan penting, sedangkan Yann Sommer harus bekerja keras dengan 5 penyelamatan meski gawangnya kebobolan dua kali.
Dengan hasil ini, Argentina akan menghadapi pemenang laga antara Brasil dan Prancis di semifinal. Bagi Swiss, kekecewaan harus dihadapi tanpa Embolo yang otomatis absen jika mereka melaju lebih jauh. Pertandingan ini menjadi pengingat keras bahwa di level Piala Dunia, satu keputusan wasit dan satu momen kedisiplinan bisa menentukan nasib sebuah tim. Argentina melaju, Swiss pulang dengan cerita getir kartu merah yang akan lama dikenang penggemar sepak bola Tanah Alpen.
Comments (0)