Oct 13, 2026
Olahraga

Scaloni Termenung Usai Argentina Kalah di Final Piala Dunia 2026

East Rutherford — Peluit panjang berbunyi di Stadion New York/New Jersey, Minggu malam 20 Juli 2026. Skor akhir 2-1 untuk Spanyol atas Argentina memastikan La Roja mengangkat trofi Piala Dunia 2026,...

Scaloni Termenung Usai Argentina Kalah di Final Piala Dunia 2026

East Rutherford — Peluit panjang berbunyi di Stadion New York/New Jersey, Minggu malam 20 Juli 2026. Skor akhir 2-1 untuk Spanyol atas Argentina memastikan La Roja mengangkat trofi Piala Dunia 2026, sementara Lionel Scaloni berdiri mematung di pinggir lapangan, tatapan matanya kosong menembus kerumunan pemain yang bersimpuh di rumput. Kekalahan ini menjadi luka pertama Argentina di partai final sepanjang era kepelatihan Scaloni, sekaligus mengakhiri mimpi mempertahankan gelar yang mereka raih di Qatar empat tahun silam.

Jalannya Pertandingan: Dominasi Spanyol di Babak Pertama

Spanyol memulai laga dengan formasi 4-3-3 yang cair. Pelatih mereka menempatkan penguasaan bola sebagai senjata utama, dan resep itu langsung bekerja sejak menit awal. Penguasaan bola babak pertama tercatat 63 persen untuk Spanyol berbanding 37 persen milik Argentina, dengan 6 shots on target dilepaskan pasukan La Roja, sementara Argentina hanya mampu mencatatkan 2 shots on target.

Menit ke-23, tekanan Spanyol berbuah. Berawal dari umpan silang rendah dari sisi kanan, bola disambar striker mereka di depan gawang. Emiliano Martínez sebenarnya sempat menepis, tetapi bola liar jatuh ke kaki pemain Spanyol yang dengan tenang menceploskan bola ke sudut kiri bawah. 1-0 untuk Spanyol, dan Stadion New York/New Jersey meledak dalam sorakan pendukung Spanyol yang memadati tribun.

Argentina mencoba merespons. Scaloni mengubah formasi dari 4-4-2 menjadi 4-3-3 pada menit ke-35, memasukkan seorang winger tambahan untuk menekan lini belakang Spanyol. Perubahan itu sempat membuat La Albiceleste lebih hidup. Menit ke-41, Lionel Messi — yang tampil sebagai starting XI meski usianya tak lagi muda — melepaskan tendangan bebas dari jarak 25 meter. Bola melengkung tipis di atas mistar gawang. Peluang terbaik Argentina di babak pertama gagal berbuah gol.

Babak Kedua: Argentina Bangkit, Spanyol Menutup Rapat

Scaloni menarik dua pemain di awal babak kedua. Ia memasukkan gelandang bertahan tambahan dan seorang penyerang muda untuk menambah daya gedor. Menit ke-58, Argentina akhirnya menyamakan kedudukan. Berawal dari serangan balik cepat, bola diumpan ke ruang kosong di sisi kiri. Seorang pemain Argentina berlari menyongsong, melewati satu bek, lalu melepaskan tembakan keras ke tiang jauh. Kiper Spanyol tak berkutik. Skor 1-1, dan bangku cadangan Argentina bersorak.

Namun Spanyol tak tinggal diam. Pelatih mereka merespons dengan memasukkan pemain segar di lini tengah untuk mengembalikan kendali permainan. Menit ke-72, Spanyol kembali unggul lewat skema bola mati. Tendangan sudut diarahkan ke tiang dekat, bola disundul oleh bek mereka yang lepas dari penjagaan. Emiliano Martínez hanya bisa menatap bola masuk ke gawangnya. 2-1 untuk Spanyol.

Argentina berusaha keras mengejar di sisa waktu. Total penguasaan bola akhir pertandingan 58 persen untuk Spanyol, sementara Argentina melepaskan 14 tembakan dengan 5 shots on target. Spanyol mencatatkan 9 shots on target dari 16 percobaan. Kartu kuning dikeluarkan empat kali — dua untuk masing-masing tim — dalam laga yang berjalan ketat dan penuh duel di lini tengah.

Keputusan VAR yang Menjadi Sorotan

Salah satu momen krusial terjadi pada menit ke-84. Argentina mencetak gol penyama kedudukan lewat sundulan pemain pengganti. Namun wasit menunda perayaan dan berkomunikasi dengan tim VAR. Setelah peninjauan, gol dianulir karena offside. Keputusan itu memicu protes keras dari bangku Argentina. Scaloni terlihat mengangkat kedua tangannya, tetapi wasit tetap pada keputusannya.

Menit ke-88, Argentina nyaris menyamakan skor lewat tendangan kaki kiri dari dalam kotak penalti. Bola mengenai tiang gawang, lalu membentur kaki kiper dan keluar. Peluang terakhir itu gagal, dan Spanyol bertahan hingga peluit panjang berbunyi.

"Saya sangat bangga dengan pemain-pemain ini. Mereka sudah memberikan segalanya. Kekalahan ini menyakitkan, tapi sepak bola harus diterima dengan lapang dada. Spanyol bermain sangat baik malam ini."

Scaloni menyampaikan itu dalam konferensi pers usai laga, suaranya berat namun tetap tegas. Ia menolak menjadikan keputusan VAR sebagai alibi. "Saya tidak mau bicara soal wasit. Kami kalah karena Spanyol lebih efektif. Itu saja," tambahnya.

Catatan Statistik dan Masa Depan Argentina

Dengan hasil ini, Argentina gagal mempertahankan gelar yang mereka raih pada 2022. Sepanjang turnamen 2026, Argentina mencatatkan empat clean sheet, namun di partai final mereka kebobolan dua gol — jumlah terbanyak yang mereka terima dalam satu pertandingan selama Piala Dunia kali ini. Lionel Messi, yang tampil sebagai kapten, mencatatkan 3 assist dan 2 gol sepanjang turnamen, tetapi gagal menambah pundi-pundi golnya di final.

Spanyol, di sisi lain, mengangkat trofi kedua mereka. Bagi Scaloni, pertanyaan besar kini menanti: apakah ia akan melanjutkan tugasnya atau menutup babak barunya bersama Tim Tango? Yang jelas, malam di East Rutherford akan menjadi kenangan pahit, namun juga saksi bisu perjalanan panjang Argentina di bawah komando Scaloni — dari juara dunia hingga harus mengakui keunggulan lawan di partai puncak.

Pertandingan ini menegaskan bahwa sepak bola modern menuntut lebih dari sekadar bakat. Efektivitas, disiplin taktik, dan ketenangan dalam momen-momen krusial menjadi pembeda. Spanyol membuktikannya. Argentina, dengan segala sejarah dan nama besarnya, harus menerima kenyataan itu malam ini.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS indah-permata

Reporter Kriminal. Meliput Polri, kejaksaan, dan pengadilan pidana.

Comments (0)

User