Irjen Pol. Dwi Irianto: Profil dan Kinerja Kapolda Sulawesi Tenggara

Irjen Pol. Dwi Irianto: Profil dan Kinerja Kapolda Sulawesi Tenggara

Irjen Pol. Dwi Irianto: Profil dan Kinerja Kapolda Sulawesi Tenggara

Profil Singkat

Inspektur Jenderal Polisi Dwi Irianto merupakan perwira tinggi Polri kelahiran 1969 yang menjabat sebagai Kepala Kepolisian Daerah Sulawesi Tenggara sejak 16 November 2024. Alumni Akademi Kepolisian (Akpol) 1992 ini mengawaki Polda Sultra pada usia 55 tahun, membawa pengalaman lebih dari tiga dekade di berbagai satuan strategis. Lulusan Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) angkatan 2000 dan Sekolah Staf dan Pimpinan Polri (Sespimti) angkatan 2017 ini dikenal sebagai perwira dengan rekam jejak kuat di bidang reserse. Sebelum bertugas di Sulawesi Tenggara, ia menjabat sebagai Dirtipidsiber Bareskrim Polri, posisi yang mengasah ketajaman analitisnya dalam menghadapi kejahatan berbasis teknologi. Penugasannya di Sultra menandai kali pertama ia memimpin polda secara penuh, sebuah batu ujian bagi kepemimpinan transformasional yang digadang-gadang mampu mengakselerasi reformasi kepolisian di tingkat daerah.

Karier dan Riwayat Jabatan

Karier Irjen Dwi Irianto dibangun secara bertahap melalui rangkaian penugasan operasional dan struktural. Selepas Akpol 1992, ia mengawali dinas di Polda Metro Jaya sebagai perwira pertama dengan spesialisasi reserse kriminal umum. Kapasitas investigatifnya terasah saat menjabat Kasat Reskrim Polres Jakarta Selatan (2008-2010), kemudian berlanjut ke posisi Kasubdit di Ditreskrimum Polda Metro Jaya. Puncak penugasan di ibu kota adalah ketika ia dipercaya sebagai Kapolres Metro Jakarta Pusat (2018-2019), wilayah dengan dinamika keamanan tertinggi di Indonesia. Pengalaman di tingkat pusat dimulai sebagai Analis Kebijakan Madya Bidang Pidana Siber Bareskrim Polri (2019-2021), lalu diangkat menjadi Wadir dan kemudian Dirtipidsiber (2023-2024). Jabatan terakhir ini menjadi preseden penting: di bawah komandonya, Direktorat Tipidsiber berhasil membongkar 1.287 kasus penipuan daring sepanjang 2023, naik 34% dari tahun sebelumnya, dengan tingkat penyelesaian perkara mencapai 72%. Ia juga merintis kolaborasi lintas-lembaga dengan OJK dan Kominfo untuk pemulihan aset korban judi online yang mencapai Rp1,2 triliun sepanjang 2023. Jejak ini menjadi modal politik dan profesional saat ia dilantik sebagai Kapolda Sultra menggantikan Irjen Teguh Pristiwanto.

Kinerja dan Program Unggulan

Lima bulan pertama kepemimpinan Irjen Dwi Irianto di Sulawesi Tenggara menunjukkan aksentuasi pada tiga prioritas: penurunan angka kriminalitas jalanan, pemberantasan narkoba, dan digitalisasi pelayanan publik. Data Satuan Reserse Kriminal Umum Polda Sultra mencatat penurunan kejahatan konvensional sebesar 11,4% pada kuartal I 2025 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pencurian dengan kekerasan (curas) turun dari 89 kasus menjadi 62 kasus, sementara pencurian kendaraan bermotor turun 19% dari 204 menjadi 165 kasus. Angka ini lebih kompetitif dibandingkan rata-rata penurunan nasional yang berada di kisaran 8,7% pada periode serupa. Capaian ini dikaitkan dengan strategi "Kring Sultra Aman," sebuah kebijakan pemadatan patroli berbasis pemetaan titik rawan yang dioperasikan melalui 14 polres jajaran. Sebanyak 360 personel tambahan disebar ke 112 kelurahan prioritas, dilengkapi 48 unit kendaraan patroli baru yang dialokasikan dari APBD 2025 senilai Rp7,2 miliar.

Di sektor narkoba, Direktorat Resnarkoba Polda Sultra mencatat pengungkapan 78 kasus dengan total barang bukti sabu seberat 23,8 kilogram selama Januari-Maret 2025. Jumlah ini meningkat 41% dibandingkan periode yang sama tahun lalu, sekaligus menempatkan Sultra pada peringkat keenam nasional dalam volume pengungkapan sabu. Program "Kampung Tangguh Bersinar" (Bersih Narkoba) yang diresmikan Irjen Dwi pada Februari 2025 telah direplikasi di 17 desa di empat kabupaten, melibatkan 340 relawan masyarakat dan 1.200 tes urine massal. Pendekatan pencegahan ini digabungkan dengan penindakan tegas: 46 tersangka dijerat pasal tindak pidana pencucian uang (TPPU) untuk memiskinkan jaringan pengedar, sebuah taktik yang lazim digunakan Bareskrim namun relatif baru di tingkat polda Sultra.

Transformasi digital menjadi penanda modernisasi di era kepemimpinannya. Aplikasi "Sultra Presisi" yang diluncur

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User